ZAINAL ABIDIN AHMAD: PEJUANG DAN ARSITEK MASYUMI (Bagian 2)

ZAINAL ABIDIN AHMAD: PEJUANG DAN ARSITEK MASYUMI (Bagian 2)

0
BAGIKAN
Hadi Nur Ramadhan (Kanan) Peneliti Pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Bagi Masyumi yang partainya membubarkan diri di zaman Demokrasi Terpimpin, bukannya berpangku tangan. Banyak di antara mereka yang meneruskan perjuangannya di bidang lain. Bagi orang-orang beriman, keadaan yang dihadapinya itu merupakan cobaan semata; dan diterimanya sebagai kehendak Allah, untuk kebaikan bersama. Lagi pula, bagi seorang pejuang, kalah menang dalam perjuangan, timbul atau tenggelam dalam pergolakan semuanya adalah sunnah ilahi semata. Bagi mereka, tempat berjuang mengabdikan diri kepada Allah, negara, bangsa, dan agama bukan hanya ada di gedung DPR; tidak hanya di dalam pemerintahan saja; tetapi juga dapat dilakukan di berbagai bidang lain. Karenanya saat partai Masyumi membubarkan diri, sebahagian tokoh Masyumi kemudian mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Prof. Kamal Hassan (Cendikiawan asal Malaysia dan mantan Rektor IIUM) dalam disertasinya di Columbia University mengatakan: “Dewan Dakwah yang didirikan para tokoh Masyumi adalah sebagai “Laboratorium Dakwah”. Dewan Dakwah aktif melakukan kaderisasi da’i, mendirikan masjid, memberikan bantuan sosial, membina angkatan muda baik sekolah, pesantren maupun kampus”. Bahkan Pemimpin Dewan Dakwah, M. Natsir mengungkapkan, “Jika dulu berdakwah lewat jalur politik, maka sekarang berpolitik lewat jalur dakwah”.

Baca Juga :   Pangeran Kasunyatan; Jaringan Keilmuan Syeikh Burhanudin Ulakan dan Sultan Banten abad-16

Di awal tahun 1980-an Zainal Abidin Ahmad sering didatangi oleh para aktifis Pelajar Islam Indonesia (PII) wilayah Jakarta untuk meminta nasihatnya sekaligus menimba ilmu Sejarah Peradaban Islam. Ketika awal kebangkitan dakwah kampus Salman ITB beliaulah yang menjadi salah satu instruktur pada LMD (Latihan Mujahid Dakwah) yang dikomandani Bang ‘Imad, AM Saefuddin, AM Lutfi, Fuad Amsyari, Kuntowijoyo, dan Endang Saifuddin Anshari.

Dalam buletin Dakwah no.24 yang diterbitkan oleh DDII Jakarta Raya tahun 1974  Zainal Abidin Ahmad  menulis: “Ide yang besar pasti akan melahirkan suatu usaha yang besar. Dan sebaliknya ide yang kecil hanyalah menimbulkan usaha yang kecil juga, meskipun dibungkus atau dihiasai dengan nama yang besar. Bungkusannya yang besar tidaklah dapat menghasilkan suatu usaha yang besar, kalau memang ide yang mendukungnya adalah kecil”. Seorang Muslim haruslah menjadi “Ideien drager” (pembawa dan pendukung cita-cita besar), malah harus lebih tinggi. Bukan hanya cita-citanya besar dan tinggi, tetapi niatnya juga harus ikhlas, menuju kepada arah yang satu, yaitu kepada Allah SWT.

Baca Juga :   Ucap Terima Kasih Bupati Irna Kepada Direktur PT. Saranatours

Pejuang dan Ideolog Masyumi yang  lahir pada  11 April 1911 di Sulit Air Sumatera Barat ini  wafat pada Selasa 26 April 1983 di Rumah Sakit Islam Jakarta. Dalam pandangan sahabat dan kawan seperjuangannya H.M. Yunan Nasution mencatat: “Allahuyarham mempunyai watak kepemimpinan, yang selalu bersifat membimbing, suka bergaul dengan setiap lapisan masyarakat. Dalam rapat dan pertemuan selalu mengemukakan pendapat yang membangun, tidak merasa benar sendiri, suka memberi dan menerima (take and give), tidak konfrontatif, kalau orang lain belum dapat menyetujui pikirannya, ia tidak mutung, tapi diterimanya dengan lapang dada”.

Ibarat menemukan sebuah harta karun yang sekian lama terpendam, saya merasa bersyukur banyak mengoleksi karya-karya intelektual Masyumi khususnya karya Zainal Abidin Ahmad yang masih saya miliki sebagai warisan dari kakek. Semoga kita berharap karya pejuang dan intelektual Masyumi ini dapat diterbitkan kembali. Agar generasi selanjutnya dapat melanjutkan estafet perjuangan bapak-bapak Bulan Bintang. “Risalah Merintis Dakwah Melanjutkan” dapat terwujud. Wallahu A’lam bish Shawwab. (Tamat)

Oleh: Hadi Nur Ramadhan (Peneliti Pusat Kajian Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

sixteen + 4 =