Tantangan Organisasi Serikat Buruh dalam Menghadapi Perubahan Sosial New Normal dan Industri...

Tantangan Organisasi Serikat Buruh dalam Menghadapi Perubahan Sosial New Normal dan Industri 4.O

0
BAGIKAN
Foto: Buruh demo tolak Omnibus Law / suara.com

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi
Pemred Banteninfo.com

Serang – Serikat Buruh atau Serikat Pekerja yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan sebagai alat perjuangan kepentingan kaum Buruh dan Pekerja.

Pandemi Covid 19 yang melanda dunia saat ini, juga memberikan dampak kepada dunia industri ekuivalen para pekerja. Sebagian pengusaha, alih-alih melindungi dan menjamin kesehatan karyawannya, pengusaha justru menjadikan momentum Covid 19 untuk melakukan PHK Massal.

Terlepas dari kondisi perekonomian yang kurang baik, sebagian pekerja akhirnya tidak bisa mendapatkan jaminan untuk tetap mendapatkan penghasilan, hal ini menjadi dilematis sebenarnya, satu sisi pekerja ingin tetap berpenghasilan, sisi lain pengusaha tidak mampu mendapatkan keuntungan.

Posisi Serikat Pekerja sebagai penyambung lidah para pekerja, mendapatkan beban moral yang tidak sedikit, banyak diantara mereka berjuang melakukan advokasi demi menyelamatkan hak-hak dan kepentingan pekerja.

Apatah lagi Era New Normal ini, dan percepatan digitalisasi Industri 4.O, banyak analis menyebut percepatan industri 4.O akan mengakibatkan PHK massal dimana-mana.

Baca Juga :   Kasus COVID-19 Meningkat, IWH Salurkan Bantuan Kepada Nakes

Lantas bagaimana nasib para pekerja dikemudian hari? Langkah apa yang akan diambil para Serikat Pekerja?

Mercusuar Institute menghadirkan diskusi penting ini dengan tagline #Ngajiburuhnasional. “Tantangan Organisasi Serikat Buruh dalam menghadapi Perubahan Sosial New Normal dan Industri 4.O”

Menghadirkan para pimpinan Federasi Serikat Pekerja di Provinsi Banten. Seperti; H. Kamal Amrullah FSPKEP KSPI, Jumali FSPMI Prov Banten, Abdul Rohman KSBSI Banten, H. Saukani SPN Provinsi Banten, Afif SPSI Banten, Imam Sukarsa SPSI 1973, Adi Satrialia Aspek Indonesia, Suryadi KSPSI Banten, Redi Permana SPI Banten, dan Abdul Darda Mercusuar Institute

Para pembicara sepakat bahwa buruh dan pekerja sedang dalam posisi yang terancam, banyak diantaranya dirumahkan dan tidak memiliki status yang jelas. Sebagian buruh dan pekerja juga banyak yang menjadi korban PHK Massal.

H. Saukani SPN Banten misalnya mengatakan, buruh pabrik harian lepas tidak lagi mampu bertahan hidup, karena mereka yang digaji harian hanya bisa menggantungkan penghasilannya dari upah kerja.

Baca Juga :   Saya Pancasila: Antara Idealita dan Realita

Senada dengan ketua SPN Banten ini, H.Kamal Amrullah FSKEP KSPI Banten mengatakan organisasi SP/SB sudah siap dengan segala kemungkinannya, hanya saja pemerintah yang tidak mau dan mampu memberikan perhatian lebih kepada buruh dan pekerja.

Abdul Darda Peneliti Mercusuar Institute menguraikan produk regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah benar-benar tidak memihak kepada rakyat dalam hal ini buruh dan pekerja. Pemerintah tidak hadir untuk memihak kaum pekerja dalam hal ini.

Ditengah-tengah pandemi covid 19 yang menjadi musibah global, seharusnya negara benar-benar hadir memberikan jaminan kepada rakyatnya. Banyak kasus-kasus kriminal dan bunuh diri yang menunjukan kekhawatiran dan frustasi rakyat dalam menghadapi covid 19 ini.

Meskipun tantangan yang dihadapi rakyat sangat berat, terlebih organisasi SP/SB yang semakin intens dalam melakukan advokasi, sisi religiusitas bangsa Indonesia mestilah dipupuk lebih masif lagi. Karena hanya dengan keimanan kepada Allah Azzawajalla saja kita bisa melewati ujian ini, pungkas Kamal Amrullah. (FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

20 − 3 =