Sexy Killers: Oligarki dan Eksploitasi yang Membuat Banyak Orang ‘Mati’

Sexy Killers: Oligarki dan Eksploitasi yang Membuat Banyak Orang ‘Mati’

0
BAGIKAN
Foto: Instagram @watchdoc_insta

Berangkat dari pengungkapan sisi kelam eksploitasi dan oligarki tambang batu bara di Kalimantan Timur, rumah produksi WatchDoc meluncurkan sebuah film genre dokumenter berjudul “Sexy Killers” pada Jum’at (5/4/2019) secara serentak dibeberapa kota.  Jurnalis videografer, Dandhy Dwi Laksono yang sekaligus bertindak sebagai sutradara menceritakan bahwa film tersebut merupakan hasil dari perjalanannya bersama Ucok Saputra yang juga seorang jurnalis mengelilingi Indonesia. Sexy Killers didasari atas basis riset, verifikasi data  dan dokumen serta observasi lapangan.

Film yang berdurasi 90 menit tersebut merupakan bagian terakhir dari seluruh rangkaian Ekspedisi Indonesia Biru yang berjumlah 12 film dokumenter dan juga melibatkan 14 videografer, 5 pilot drone dan 2 underwater fotografer. Dandhy dan Ucok menempuh perjalanan bersepeda motor dari Jakarta ke Bali, Sumba, Papua, Kalimantan dan Sulawesi kemudian kembali lagi ke Jawa. Mereka fokus terhadap isu sosial, ekonomi dan lingkungan.

Baca Juga :   Aspek sebut 120 Karyawan Ramayana Depok Kena PHK

Seperti pada film-film sebelumnya, Ekspedisi Indonesia Biru juga concern menghadirkan sisi lain dari pembangunan infrastruktur pada rezim Jokowi-JK yang begitu masif serta menyinggung kegiatan bisnis saham besar PLTU beserta orang-orang yang duduk sebagai petinggi. Dilokasi inti pembuatan film misalnya, Kalimantan Timur, petani transmigrasi sejak Orde Baru sekarang harus bersinggungan dengan industri tambang batu bara. Mereka tercemar atau bahkan tergusur dan lebih parahnya lagi jadi korban ‘pembunuhan’ batu bara. Ditambah lagi lubang-lubang yang ditinggalkan akibat bekas penambangan banyak memakan tumbal.

Dalam Sexy Killer diungkapkan bahwa pada kurun tahun 2011-2018 sekitar 32 orang mati tenggelam pada lubang tambang bekas di Kalimantan Timur. 2014-2018 ada 115 nyawa melayang secara nasional diseluruh lubang bekas tambang.

“Sekarang sejak ada tambang, rakyat kecil malah sengsara. Yang enak rakyat yang besar. Ongkang-ongkang kaki terima uang. Kalau kita terima apa? Terima imbasnya, lumpur”, kata petani yang tidak disebutkan namanya.

Baca Juga :   Sohibul Iman Ungkap Isi Surat Prabowo sebelum Bertemu Jokowi

Belum lagi petani yang tergusur dan terisolasi di Batang, Jawa Tengah ketika batu bara tersebut diangkut dari lokasi penambangan menuju lokasi PLTU di sekitaran Jawa dan Bali. Nelayan juga dikepung PLTU, terumbu karang banyak yang hancur akibat jangkar kapal-kapal tongkang batu bara ditambah tumpahan batu bara ke dasar laut.

“Gara-gara wong sing pinter kuwi, gununge didol. Segoro arep ditanduri wesi”, ungkap kekecewaan seorang nelayan.

Dibalik gemerlapnya lampu dan listrik yang dihasilkan oleh PLTU batu bara, ada asap PLTU tersebut yang telah ‘membunuh’ warga sekitar. Film tersebut menggambarkan betul tangis warga yang menyeruak akibat dari ancaman penghancuran masyarakat secara perlahan. Film Sexy Killers ini menjadi catatan kritis pada sektor energi di Indonesia.

 

Wartawan: Aldi Agus Setiawan / Editor: Fitra Nugraha

TINGGALKAN KOMENTAR

20 + eighteen =