Sarekat Islam Inisiator Nasionalisme Indonesia

Sarekat Islam Inisiator Nasionalisme Indonesia

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi SI / Istimewa

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Pemred banteninfo.com)

Serang – Pasca pidato Raja Belanda 1901 karena memiliki beban moral akan hutang budi Belanda atas kekayaan sumber daya alam tanah jajahan Hindia, Raja kemudian mengambil langkah kebijakan etis. Berlakunya politik etis ini, sebagai kebijakan yang diambil kerajaan Belanda untuk “membalas” jasa kepada rakyat jajahannya di Hindia (Indonesia) melalui pendidikan, hal ini menjadi titik mula persentuhan gagasan-gagasan Barat dalam pendidikan di Nusantara.

Dengan adanya politik etis, Belanda membuat program-program pendidikan bagi anak jajahan, meskipun bersifat elitis, dimana hanya anak-anak golongan priyayi saja yang boleh bersekolah, kemudian hal ini membentuk setidaknya sekelompok pribumi baru, yang mengenyam pendidikan dan terpapar konsep Barat ala Belanda.

Tokoh-tokoh besar Nusantara seperti H.O.S Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Abdul Moeis, RM. Sjoerjopranoto, Sutan Sjahrir, Soekarno, Hatta, katakanlah adalah beberapa tokoh bangsa yang secara langsung mengenyam pendidikan ala Barat.

Diskursus tentang demokrasi, liberalisme, sekularisme, sosialisme, komunisme, mau tidak mau masuk dalam kurikulum dan menjadi bahan diskusi di sekolah-sekolah Barat tersebut.

Semangat Nasionalisme Belanda yang memerdekakan diri dari Perancis tidak luput dari pengetahuan anak bangsa. Ini pula yang kemudian membuat H.O.S Tjokroaminoto bersemangat untuk mengagas pemerintahannya sendiri tahun 1917.

Baca Juga :   Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Banten, Manuskrip Banten di Belanda

Anton Timur Djaelani dalam tesisnya di McGill University tahun 1959 yang berjudul “The Sarekat Islam Movement: Its Contribution to Indonesian Nationalism” dan diterbitkan tahun 2017 oleh LP3ES dengan judul “Gerakan Sarekat Islam: Kontribusinya pada Nasionalisme Indonesia” menguraikan peran tunggal Sarekat Islam dalam pembentukan dan perkembangan Nasionalisme Indonesia, yang kemudian melahirkan bangsa Indonesia dewasa ini.

Adalah Haji Samanhudi pelopor Sarekat (Dagang) Islam yang didirikannya pada tanggal 16 Oktober 1905, meletakkan dasar-dasar Nasionalisme pertama kali. Dimana Haji Samanhudi terpengaruh benar dengan konsep-konsep Nasionalisme Islamnya Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani dan Rashid Ridha, yang didukung oleh Sultan Ottoman Abdulhamid II dipermulaan abad ke-20.

Muhammad Natsir dalam buku “Revolusi Indonesia”, menyebutkan perjuangan melalui jalur politik mula-mula di inisiasi oleh Sarekat Islam. Saat itulah bangsa Indonesia mengumpulkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemerdekaan pertama kalinya. Haji Samanhudi berperan penting dalam meletakkan batu pertama perjuangan Bangsa Indonesia dan kemudian dielaborasi lebih mendalam oleh H.O.S Tjokroaminoto.

Baca Juga :   Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

Belakangan lahir perkumpulan-perkumpulan pribumi seperti Budi Utomo 1908, Paguyuban Pasundan 1914, Serikat Sumatera 1919, Kaum Betawi 1923, yang mengekspresikan budaya lokal dan bersifat elitis.

Sarekat Islam menjadi organisasi pertama yang pengaruhnya sampai ke seluruh penjuru Nusantara. Fachry Ali menyebut, pengaruh dan daya komando Sarekat Islam berlaku di atas semua etnis dan menjalar ke seluruh kepulauan Nusantara. Bahkan secara administratif, jangkauan Sarekat Islam dengan cabang-cabangnya mampu menandingi wilayah yang dikuasai oleh Kolonial Belanda.

Anton Timur Djaelani, menegaskan bahwa Sarekat Islam tidak saja menjadi promotor utama Nasionalisme Indonesia, melainkan juga lembaga pertama yang memperkenalkan dan melaksanakan sistem dan nilai demokrasi di Indonesia.

Makna pentingnya terletak dalam kenyataan bahwa gerakan Sarekat Islam telah menentukan ikatan dan bentuk kesatuan bangsa ini. Ikatan yang menyatukan itu berdasar akan ikatan akidah Islamiyah, kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang kemudian menjadi sila pertama Pancasila, filsafat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keyakinan kepada kekuatan Ilahiyah inilah yang menjadi sumber kekuatan yang tidak ada habis-habisnya untuk bertempur melawan ketidakadilan kolonialisme Barat atas Indonesia. (FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

four × one =