Raport Merah Setahun Covid-19: Dampak Positif dan Negatif Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan

Raport Merah Setahun Covid-19: Dampak Positif dan Negatif Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan

0
BAGIKAN

Oleh: Siti Umyati

Disaat tenaga kesehatan tengah bergerilya dengan penjajahan virus Covid-19 dan masyarakat kecil tengah sesak nafas akibat ekonomi meroket ke bawah. Tapi, kita masih haha hihi berlaku hedon dengan belanja online, padahal barangnya tidak terlalu diperlukan, kemudian kita menjadi penyumbang sampah berlebihan. Tanpa sadar kita adalah penjahat bagi lingkungan kita. Kamukah salah satunya?

Sejak bulan April 2020, pemerintah menetapkan wabah virus Covid-19 menjadi bencana nasional. Hal ini ditegaskan pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Sementara itu, wabah virus corona telah ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) sejak Maret 2020. Penyebaran virus covid-19 menjadi penyebab angka kematian yang paling tinggi di berbagai negara dunia saat ini. Hal ini menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh dunia, untuk melakukan berbagai kebijakan termasuk di negara Indonesia. Bahwasannya pandemi yang telah melanda selama satu tahun ini telah berdampak pada berbagai sektor, baik kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Namun, terdapat sektor yang luput dari perhatian, yakni dampak pandemi Covid-19 ini terhadap lingkungan.
Indonesia dengan penduduk yang padat, yakni dihuni oleh 271.349.889 jiwa berdasarkan data hasil sensus penduduk menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Muhammad Hudori, dengan luas wilayah 1,905 juta km². Dengan penduduk sebanyak itu, tidak mengherankan jika kondisi lingkungan hidup Indonesia saat ini harus berimpitan dengan sampah. Sampah menjadi musuh besar untuk diberantas, dimana berdasarkan yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong, jumlah sampah di Indonesia saat ini mencapai 67,8 ton.

Permasalahan sampah juga merupakan permasalahan yang tidak menemui titik akhir. Seiring berlangsungnya kehidupan manusia, maka sampah akan terus diproduksi, dan akan terus bertambah banyak, meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk sedikitnya dapat mengurangi jumlah sampah yang ada.
Di masa pandemi ini produksi sampah semakin meningkat, baik dari limbah rumah sakit maupun limbah rumah tangga yang terlihat kecil tetapi masif. Di masa pandemi ini, rumah sakit menjadi salah satu agen penyumbang sampah, terutama limbah APBD yang tidak bisa didaur ulang, sebab dikhawatirkan dapat menjadi penyebaran virus, sehingga tidak ada cara lain selain dibuang. Agen penyumbang sampah lain yang tak kalah krusialnya adalah limbah rumah tangga, karena pengaruh dari perilaku konsumerisme masyarakat terhadap belanja online yang pada akhirnya meningkatkan jumlah limbah rumah tangga dari bahan paket yang dikirim.

Baca Juga :   Corona, Antara Ada Dan Tiada Pada Masyarakat Permukiman Kumuh

Memang rumah tangga tidak dapat berhenti menyampah, tapi setidaknya memiliki kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, dari adanya kesadaran tersebut intensitas prosuksi sampah yang berasal dari rumah tangga dapat dikurangi. Dalam hal ini dibutuhkan motor penggerak kesadaran lingkungan, salah satunya adalah melalui peran komunitas online. Zaman yang serba digital ini tak mengherankan jika komunitas online mampu menggalakkan kesadaran masyarajat, yakni melalui konten digital yang bisa menjangkau banyak orang.

Salah satu motor penggerak kesadaran lingkungan di kota Serang adalah Bank Sampah Digital. Bank Sampah Digital hadir dengan cara kreatif serta milenial dalam mengelola sampah organik dan anorganik di kota Serang. Gerakan tersebut merupakan gerakan superior terhadap lingkungan. Semakin banyak sampah yang ditabung di bank sampah, maka semakin sedikit jumlah sampah yang dikirimkan ke tempat pemrosesan akhir sampah atau TPAS. Karena di TPAS sendiri pengelolaan sampah amatlah buruk bagi keberlangsungan lingkungan, bahkan sampah-sampah di TPAS dapat menimbulkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan sekitar serta mencemari bumi.

Oleh karena itu, salah satu cara pengelolaan sampah yang baik adalah dengan daur ulang untuk sampah anorganik, sedangkan sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos. Jika masyarakat malas untuk mendaur ulang, menjadi nasabah bank sampah adalah salah satu cara instan dan cukup efektif, selain itu nasabah dapat menghasilkan uang dari tabungan sampah tersebut. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari akan beberlanjutan lingkungan sehingga masih banyak sampah yang belum terkelola. Selain itu, sedikitnya jumlah agen bank sampah dengan hanya berada di beberapa daerah tertentu saja menjadi tantangan bersama bagi pemerintah dan masyarakat untuk kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, gerakan kesadaran lingkungan melalui konten digital oleh komunitas online peduli lingkungan perlu digalakkan agar semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan mau bertanggung jawab atas sampah yang diproduksinya. Hadirnya komunitas online peduli lingkungan ini akan sangat efektif mengingat di tengah pandemi ini sektor kehidupan masyarakat telah beralih ke sosial media sehingga diharapkan dapat tepat sasaran menyentuh masyarakat.

Baca Juga :   Gandeng Puskesmas Serang Kota, PKS Gelar Vaksinasi

Selain dampak negatif akibat pandemi Covid-19 terhadap lingkungan seperti yang disebutkan di atas, terdapat pula dampak positif bagi lingkungan. Sebuah penelitian di New York menyebutkan bahwasannya tingkat polusi udara di New York telah berkurang hampir 50% karena tindakan yang diambil untuk mengendalikan virus. Salah satunya adalah dengan ditutupnya industri, transportasi, dan perusahaan, hal ini menyebabkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) secara tiba-tiba.

Penurunan polusi juga tidak hanya terjadi di New York, penelitian yang dilakukan oleh Biswall dkk menyebutkan bahwa di banyak negara (misalnya, AS, Kanada, Cina, India, Italia, Brasil, dll.) menunjukkan tanda penurunan emisi NO₂ karena penutupan berbagai industri besar akibat adanya tindakan pengendalian virus Covid-19. Menurut USEPA, biasanya NO₂ diemisikan dari pembakaran bahan bakar fosil dan 80% dari knalpot kendaraan bermotor. Mengingat pada saat terjadi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang akibat minimnya aktivitas di luar telah membawa dampak baik bagi lingkungan, salah satunya produksi gas NO₂ berkurang, tentunya ini sangat baik bagi kebersihan udara yang akan kita hirup bersama.

Dari adanya dampak positif tersebut, mestinya membuat kita tetap bersyukur di berbagai keadaan, sesulit apapun keadaan itu karena rahmat-Nya tidak akan pernah terputus bagi mereka yang senantiasa bersyukur. Tak luput dari itu semua, kita harus sadar dan bertanggung jawab akan keberlangsungan lingkungan kita baik pada saat pandemi maupun pada saat non-pandemi, untuk keberlanjutan generasi kita selanjutnya.

Sumber :
Aditya, A.F. 2020. KLHK: Jumlah Sampah Nasional 2020 Mencapai 67,8 Juta Ton. https://www.idntimes.com/news/indonesia/aldzah-fatimah-aditya/klhk-jumlah-sampah-nasional-2020-mencapai-678-juta-ton. Diakses pada tanggal 9 Maret 2021.
Idris, M. 2021. Jumlah Penduduk Indonesia Terkini Mencapai 271,34 Juta. https://amp.kompas.com/money/read/2021/01/22/090554926/jumlah-penduduk-indonesia-terkini-mencapai-27134-juta. Diakses pada tanggal 9 Maret 2021.
Jurnal Science Daily
Rume, T, Didar-Ul Islam, S.M. 2020. Environmental effects of COVID-19 pandemic and potential strategies of sustainability. Heliyon. Vol e04965: 3-4

TINGGALKAN KOMENTAR

four × two =