Perempuan Banten dalam Pendidikan Barat 1895-1929

Perempuan Banten dalam Pendidikan Barat 1895-1929

0
BAGIKAN
Foto: Illustration of Dutch-educated women / galena.co.id

oleh Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Politik etis sebagai penanda berdirinya lembaga-lembaga pendidikan modern ala Belanda, merupakan politik balas budi penjajah pada pribumi di negeri jajahan. Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mendirikan ratusan sekolah-sekolah di Pedesaan. Sekolah-sekolah ini membuka kesempatan bagi pribumi untuk mengenyam pendidikan modern dan belajar membaca dan menulis dengan huruf latin.

Di Banten, partisipasi masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah bentukan Belanda sangat minim, apalagi untuk anak-anak perempuan. Masyarakat Banten lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya ke Pesantren daripada ke sekolah Belanda. Mufti Ali mengatakan, “Sekolah-sekolah Belanda di Banten jumlah guru lebih banyak daripada jumlah muridnya.” (Disampaikan dalam seminar kerukunan umat beragama di Kemenag Kota Serang. Kamis, 4 April 2019).

Antusiasme masyarakat Banten yang rendah ini, juga didukung dengan tindakan diskriminatif pemerintah kolonial. Alih-alih memberikan pendidikan bagi rakyat pribumi, Pemerintah Belanda hanya memprioritaskan kalangan priyayi saja, kalangan ningrat mendapat peluang lebih besar untuk mengenyam pendidikan modern ala Belanda yang bagus. Rakyat pribumi biasa, hanya bisa masuk sekolah desa, yang memiliki level dan strata pendidikan yang rendah.

Baca Juga :   Analisis Pengaruh Pengurangan Aktivitas Manusia Pada Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Udara Di Lingkungan Masyarakat

Kalangan wanita Banten sendiri, baru bersentuhan dengan pendidikan Barat sekitar tahun 1895-1900. Hal tersebut juga dikarenakan pengaruh dan rekomendasi Snouck Hurgronje kepada pejabat tinggi pribumi, untuk menyekolahkan putri-putrinya di sekolah Belanda. Menurut Mufti Ali, puteri dari Bupati Galuh yakni R.A. Lenggang Kencana dan R.A. Sintaningrat dikirim untuk belajar di Ursulin Instituut di Biara Besar, Jakarta. Sekolah ini terkenal dikalangan priyayi dari Priangan dan Banten. Tahun 1900 Kedua gadis Sunda ini kemudian diperistri oleh dua orang kakak beradik, putra Bupati Serang, yaitu Achmad Djajadiningrat menikahi R.A. Lenggang Kencana dan Muhammad Djajadiningrat menikahi R.A.Sintaningrat. (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal. 152)

Selain itu, Nyi Mas Soelasmi, seorang puteri Wedana Lebak juga menempuh pendidikan di sekolah “misionaris” ini tahun 1914-1917. Setelah lulus dari Ursulin Instituut Nyi Mas Soelasmi bersama puteri-puteri priyayi Rangkasbitung lainnya, mendirikan sebuah organisasi wanita bernama Perkumpulan Sekar Kamuliaan, yang pada tahun 1919 membuka cabang Sekolah Kautamaan Isteri yang didirikan Ibu Dewi Sartika di Bandung tahun 1905 (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal. 153)

Baca Juga :   Ancaman Sampah dan Limbah di Banten

Beberapa pejabat tinggi pribumi Banten, lebih memilih menyekolahkan puterinya di Europeesche Lager School (ELS), Sekolah Eropa di Serang. Sebut saja Patih Cilegon, Djaya Atmaja menyekolahkan puterinya, Iyot Sulasiah, di ELS, Serang tahun 1910. Kemudian puteri dari Mas Mangundikara dan Mas Suryadireja yakni Dewi Kohinoor dan Nyi Mas Wendan masuk sekolah di ELS tahun 1915. Di susul kemudian oleh Raden Ajeng Lutfiah Djajadiningrat, anak Bupati Serang, Aria Achmad Djajadiningrat (1901-1924) ini, bahkan diizinkan oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk ikut kelas persiapan pada Openbare Europeesche Lager School (ELS) Serang tahun 1917. (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal: 155)

Tidak hanya mengenyam pendidikan rendah Belanda, perempuan Banten bahkan berhasil masuk hingga perguruan tinggi Barat, di Universitas Leiden, Belanda. Kedekatan klan Djajadiningrat dengan Snouck Hurgronje, setidaknya berhasil membuat Maria Ulfah Chadijah Djajadiningrat meraih gelar meester van de rechten pada tahun 1929. Sekaligus mencatatkan namanya sebagai wanita pertama dari Indonesia yang berhasil mendapatkan gelar master, di perguruan tinggi Eropa ternama, Universitas Leiden. (Mufti Ali, Banten dan Pembaratan, hal: 188)

TINGGALKAN KOMENTAR

twelve − 2 =