Peran Radikalisasi Pemikiran Dalam Perubahan Sosial Yang Progresif

Peran Radikalisasi Pemikiran Dalam Perubahan Sosial Yang Progresif

0
BAGIKAN

Penulis : Muhammad Fahri (Anggota Aktif HMB Jakarta, Juga Kader HMI Kofah Cabang Ciputat)

Banteninfo(opini),- Kata “Radikal” sepertinya terkesan buruk di dengar. Jika mendengar kata Radikal, yang ada di fikiran kita berarti kekerasan seperti penyiksaan dan pembunuhan.

Meurut KBBI, Radikal artinya secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) amat keras menuntut perubahan. Sedangkan “Radikalisme” artinya paham atau aliran yang radikal di politik. Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Yang saya jelaskan dalam tulisan ini, bukan radikal secara tindakan, melainkan radikal pemikiran.

Tuhan memberi kita kebebasan dalam berfikir dan bertindak. Dalam peristiwa ini, bukan berarti kita seenak jidat dalam bertindak, tanpa memperhatikan institusi yang di terapkan di kehidupan masyarakat, agama dan negara.

Berbicara institusi sama saja berbicara kebenaran. Menurut Emha Ainun Najieb, kebenaran itu di bagi 2, ada kebenaran untuk diri sendiri dan kebenaran untuk orang banyak. Kebenaran untuk orang banyak inilah sehingga melahirkan demokrasi, mufakat.

Baca Juga :   Badai Virus, Kebimbangan Tanpa Henti di Negeri Wakanda

Setiap orang mempunyai kebenaran masing-masing. Sangat mungkin benarnya saya dengan benarnya anda berbeda. Secara fundamental, kebenaran bukan untuk di perdebatkan. Maka sering kita jumpai konflik antar Ormas di Indonesia. Tumbuh sifat fanatisme, sehingga merasa ajaranya lah yang paling benar, selain itu salah.

Jika saya menarik kesimpulan, peristiwa yang terjadi di atas adalah kebenaran perang dengan kebenaran. Kebenaran tidak seharusnya di keluarkan melalui adu argumentasi. Sampai pada akhirnya mereka malah mencari siapa yang salah, bukan apa yang salah.

Kebenaran harusnya ada di dalam diri kita. Setelah keluar, bukan kebenaran lagi, tapi kenyamanan, kebaikan dan kemualiaan.

Menurut August Comte, Kita harus bisa membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan, Mengumpulkan dan mengklarifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat. Di sini yang kita perlukan adalah berfikir secara radikal, untuk mendobrak segala dogma dan medekontruksi pemikiran-pemikiran yang bersifat (teologis), maupun penjelasan-penjelasan spekulatif (metafisik).

Baca Juga :   SDM Terampil adalah Investasi Bangsa

Ilmu sosial secara klasifikasi di bagi menjadi dua, sosial statis dan sosial dinamis. Sosial statis menerangkan perihal nilai-nilai yang melandasi masyarakat dalam perubahannya, selalu membutuhkan sosial order karenanya dibutuhkan nilai yang di sepakati bersma dan berdiri atas keinginan bersama, dapat dikatakan hukum atau kemauan yang berlaku umum. Sedangkan sosial dinamis, ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perkembangan masyarakat atau gerak sejarah masyarakat kepada arah kemajuannya.

Sosial statis dan sosial dinamis adalah satu kesatuan yang penting untuk menganalisa fenomena yang terjadi di masyarakat. Kedua hukum tersebut menjadi modal utama seseorang bisa memprediksi fenomena apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sangat penting adanya radikalisasi perkembangan pemikiran progesive dalam tata masyarakat, untuk mendobrak dogma dan mitologi yang membuat akal manusia kaku mendefinisikan sesuatu. Berfikirlah dengan radikal untuk perkembangan yang lebih maju. (*/Roby)

TINGGALKAN KOMENTAR

10 − four =