PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN PELAJAR*

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN PELAJAR*

0
BAGIKAN

Media sosial (medsos) di zaman sekarang memiliki peran dan pengaruh sangat besar terhadap tatanan kehidupan manusia.

Media sosial atau sering juga disebut sebagai sosial media adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya.

Bagaimana tidak, hampir setiap waktu manusia memanfaatkan media sosial untuk berbagai kepentingannya masing-masing. Sehingga media sosial tersebut kini bersifat seperti kebutuhan primer yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari besarnya pengaruh media sosial, fokus yang akan kita soroti adalah sebuah pengaruh media sosial terhadap kehidupan pelajar yang dirasa akan sangat dominan pengaruhnya ketimbang dari tugas pokoknya sebagai pelajar yaitu belajar.

Merujuk pada angket sederhana yang berupa angket campuran yaitu perpaduan angket tertutup dan terbuka yang di share pada pelajar di salah satu sekolah dan juga study lapangan yang telah dilakukan maka didapati hasil yang sangat mencengangkan terkait media sosial terhadap kehidupan pelajar. Mari kita kupas tuntas terkait pengaruh media sosial terhadap kehidupan pelajar.

Saat pelajar di tanya mengenai apakah mereka memiliki media sosial atau tidak maka jawaban yang mereka berikan adalah sebanyak 100 % menjawab “ya” mereka memiliki media sosial.

Ini membuktikan bahwa setiap pelajar memang sudah pasti memiiki media sosial dalam kehidupannya, hal ini menurut mereka bahwa hidup tanpa media sosial “bagaikan sayur tanpa garam” artinya sudah memberikan rasa dan pengaruh tersendiri bagi kehidupan pelajar.

Media sosial ini pastinya banyak ragam jenisnya dan sudah pasti setiap pelajar memiliki jenis media sosialnya tersendiri dan sebanyak 66,6 % pelajar lebih senang manghabiskan waktunya untuk bermain TikTok dan Instagram sedangkan yang lainnya tersebar pada platform Facebook, YouTube, dan sebatas Whatsapp saja.

Hal ini membuktikan bahwa dominasi pelajar pada platform TikTok dan Instagram sulit dibendung karena memang mereka memandang bahwa bermain kedua platform tersebut memiliki kesenangan tersendiri, selain itu pelajar mampu mengekspresikan diri mereka masing-masing terlebih dengan banyaknya ragam template dan media yang bisa mereka pakai.

Selain itu mereka menganggap bahwa media sosial banyak juga memberikan pengetahuan, informasi, dan bahkan bisa menghasilkan pemasukan.

Sehingga orientasi mereka seolah-olah tergiring pada keinginan untuk terkenal, viral, dan dapat menghasilkan uang secara instan dengan berbagai konten yang mereka buat. Bahkan ada juga yang sebagian dari para pelajar bahwa bermain media sosial dengan platform TikTok dan Instagram hanya sebatas mengisi kejenuhan saja.

Baca Juga :   Raport Merah Setahun Covid-19: Dampak Positif dan Negatif Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan

Durasi waktu dalam satu hari sebanyak lebih dari 22,2 % pelajar menghabiskan waktu bermain media sosial diatas tiga jam dan 33,3 % mengabiskan waktu bermain media sosial diatas satu jam. Itu artinya jika kita gabungkan keduanya maka sebesar 55,5 % pelajar dalam satu hari mereka habiskan untuk bermain media sosial dan sisanya mereka habiskan untuk aktifitas lainnya.

Bisa kita bayangkan berapa persen para pelajar meluangkan waktunya untuk belajar? Hal tersebut dapat kita lihat bahwa sebesar 48,1 % pelajar lebih senang bermain media sosial ketimbang belajar, walaupun tingkat persentase pelajar yang senang belajar sebesar 51,9 % lebih unggul 3,8 % terhadap pelajar yang lebih senang bermain media sosial ketimbang belajar.

Dengan keunggulan tipis tersebut mengisyaratkan bahwa belajar sudah tidak lagi dianggap menarik bagi pelajar dalam menggapai masa depan. Hal tersebut sangatlah beralasan sebab sebesar 66,7 % pelajar ternyata lebih sering membuka media sosial ketimbang membaca buku yang hanya 22,2 % dan sebesar 11,1 % tidak suka keduanya baik itu belajar atau membuka media sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa pelajar sudah tidak senang lagi membaca buku dan jika buku tidak dibaca maka sama artinya pelajar tersebut tidak suka belajar sebab salah satu indikator utama belajar adalah dengan membaca buku.

Sangatlah miris memang dengan fenomena tersebut namun tidaklah aneh jika mendapati data tersebut, sebab tingkat minat baca masyarakat di Indonesia diketahui terbilang cukup rendah. Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizatoin (UNESCO) di tahun 2016 Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara di dunia.

Selain itu, berdasarkan data UNESCO minat membaca masyarakat Indonesia sangat rendah. Dimana hanya 0,001 persen atau 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang rajin membaca.

Selain itu berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 disebutkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada di angka 59,52 dengan durasi membaca 4-5 jam per minggu dan 4-5 buku per triwulan. Jika kita bayangkan minat baca masyarakat saja rendah, bagimana dengan minat baca pelajar?

Pada satu sisi lainnya ketika pelajar dihadapkan dengan sebuah ujian di sekolah ternyata 33,3 % pelajar masih saja senang membuka atau bermain media sosial ketimbang fokus belajar, walaupun datanya sebesar 66,7 % pelajar tidak membuka atau bermain media sosial saat lagi ujian.

Namun terkadang sebuah data dan fakta dilapangan bisa berbeda, meskipun data lebih unggul pada pelajar yang tidak membuka media sosial saat ujian tapi kenyataan dilapangan berkata lain.

Baca Juga :   Percepatan Penyaluran Dana Alokasi Khusus Fisik Tahun 2022 Pada KPPN Jakarta I *

Sebagai contoh disalah satu sekolah saat sedang ujian dengan menggunakan Handphone dan ketika pelajar tersebut telah selesai mengerjakan ujiannya maka hal pertama yang mereka buka adalah media sosial bukanlah buku atau mempelajari materi ujian berikutnya.

Dan ketika ditanya lebih senang bermain game online atau bermain media sosial maka jawaban mereka adalah sebesar 51,9 % senang bermain media sosial dan 48,1 % senang bermain game online. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kegiatan tersebut baik itu bermain game online atau bermain media sosial memiliki persentase yang sangat tinggi ketimbang dengan membaca buku.

Salah satu imbas dari pengaruh media sosial yang sering dibuka oleh pelajar saat ujian di sekolah adalah mengakibatkan minimnya nilai yang mereka peroleh dengan kata lain nilai pelajar barada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Dari data yang diperoleh apakah mereka senang atau tidak atau bahkan biasa saja saat memperoleh nilai di bawah KKM dan akhirnya remedial? Maka sebesar 70,4 % pelajar merasa tidak senang saat mereka terkena remedial. Namun ada hal menarik dari hasil survei pelajar dimana sebesar 7,4 % pelajar senang ketika mendapatkan remedial dan sebesar 22,2 % pelajar merasa biasa-biasa saja ketika mereka terkena remedial.

Hal ini sangatlah unik jika kita gabungkan angka pelajar yang senang ketika remedial dan yang biasa-biasa saja maka didapatkan angka sebesar 29,6%  siswa merasa remedial itu suatu hal yang tidak menakutkan dan dianggap wajar jika nilai mereka terkena remedial. Hal ini dinilai wajar sebab ketika ditanya apakah suka belajar kembai di rumah saat sudah pulang sekolah? Jawabannya adalah sebesar 48,1 % pelajar menjawab mungkin dan 7,4 % menjawab tidak.

Artinya jika kita paradigmakan bahwa pelajar tidak mungkin belajar kembali di rumah jika sudah selesai belajar di sekolah dengan persentase gabungan mencapai 55,5 % siswa malas untuk belajar kembali setelah pulang sekolah.

Dari data-data yang telah diperoleh dan dideskripsikan tersebut maka dapatlah kita simpulkan bahwa pengaruh media sosial terhadap kehidupan pelajar adalah sangat kuat dan signifikan.

Sehingga media sosial hingga game online sangatlah mendominasi kehidupan para pelajar. Sebab mereka menganggap media sosial sudah menjadi bagian dari sendi kehidupan mereka atau bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan primer mereka dibandingkan dengan tugas mereka sebagai pelajar yaitu belajar.

Mari kita sikapi dengan bijak fenomena tersebut dengan tanpa menyalahkan siapapun dan bijaklah dalam mengambil tindakan dan keputusan.

*Penulis : Opan Ahmad Solihin (Pengajar Pada Mtsn 1 Kota Serang)

TINGGALKAN KOMENTAR

thirteen + one =