PEMUDA DAN KEBANGKITAN ISLAM

PEMUDA DAN KEBANGKITAN ISLAM

0
BAGIKAN

Islam

Islam agama sempurna yang melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia, Allah berfirman :

 “ Hai orang – orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah – langkah syaithan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Q.S. Al – Baqarah 2:208)

Ibnu Katsir menyebutkan dalam Kitabnya “masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (Q.S. Al – Baqarah 2:208)” adalah masuklah ke dalam agama Islam serta menaati syariat yang disampaikan Rasulullah SAW serta tidak meninggalkan yang ada padanya.

Syariat Islam adalah aturan yang Allah firmankan kepada manusia sebagai penciptanya, karenanya Allah tahu terbaik untuk hamba-Nya, ilmu Allah meliputi seluruh langit dan Bumi. Syariat islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tujuan utama syariat Islam menegakkan  dan mewujudkan prinsip keadilan. Mekanisme dan teknis pelaksanaanya terserah pada kebijaksanaan orang-orang yang mempunyai wewenang, dengan syarat kemaslahatan semua pihak dapat terjamin sebagaimana mestinya. (Abdullah Nashih Ulwan, 1985).

Syariat berasal dari firman Allah SWT diturunkan tidak sekedar teoritis dalam firman-Nya, melainkan mewujud praktis dalam keseharian Rasulullah SAW. Sehingga, umat manusia mempunyai teladan Islam berkehidupan. Tertulis dalam sejarah; keagungan sikap, kecerdasan, kefashihan menyampaikan perintah Allah, dan penyampaian risalah hingga berganti peradaban jahiliyah kepada kebaikan semesta alam.

PEMUDA

Dalam International Youth Year pada tahun 1985, pemuda berusia 15-24 tahun, usia ini menunjukkan masa peralihan dan pencarian jati diri. Pemaksimalan peran pemuda dalam berbagai kegiatan membela kebaikan akan menjadi bekal dalam menjalani hidup dan mengukuhkan idealisme sebagai jalan memandang dan mengambil sikap dalam kehidupan di waktu mendatang.

Pemuda dalam sejarah adalah mereka yang menggentarkan para penjajah, melawan kebatilan di muka bumi. Resolusi jihad santri 22 Oktober 1945 oleh K.H Hasyim Asy’ari membuktikan. Dengan semangat membara, melawan Belanda penjajah melalui organisasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang mencoba menjajah kembali bumi pertiwi. Para santri dan pemuda berjuang mengusir penjajah dalam barisan pasukan hisbullah yang dipimpin oleh Haji Zaenal Arifin.

Baca Juga :   Semangat Berbangsa Dalam Kekayaan NKRI

Peran Pemuda

Pemuda memiliki tanggungjawab di masa depan sebagai pengganti peran kepemimpinan bangsa, sehingga peran pemuda dalam kebangkitan bangsa untuk memerdekakan masyarakat bukanlah peran tergantikan oleh generasi sebelumnya. Ada beberapa alasan mengapa pemuda memiliki tanggung jawab besar dalam tatanan masyarakat, antara lain : a. Kemurnian idealismenya; b. Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan baru; c. Semangat pengabdiannya; d. Spontanitas dan pengabdiannya; e. Inovasi dan kreativitasnya; f. Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru; g. Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan kepribadiannya yang mandiri; h. Masih langkanya pengalaman – pengalaman yang dapat merelevansikan pendapat, sikap, dan tindakannya dengan kenyataan yang ada.

 

Pemuda dan Nasionalisme

Dalam buku, Nasionalisme Mencari Ideologi, dituliskan dalam kata pengantarnya: “Dalam realitas politik, istilah nasionalisme boleh dikatakan […] mencakup segala hal yang bersifat ‘anti’: antipenjajahan, antiasing, antibarat, dan lain sebagainya.” Betapa tafsir akan nasionalisme menarik untuk diamati, sebab nasionalisme adalah “asentiment or conciousness of belonging to the nation,” tulis Anthony D. Smith. Konsepsi seseorang mengenai nasionalisme dapat dijadikan tolak ukur atas perhatiannya terhadap persoalan-persoalan berskala negara. Jika seseorang tertangkap basah tidak memiliki konsepsi apapun mengenai nasionalisme, dia bisa saja dituduh tidak nasionalis dan merupakan generasi apatis.

Jurnal Studi Pemuda oleh Prima Sulistya Wardhani tentang penelitian 30 Essay Nasionalisme Pemuda yang digagas oleh Tempo, menyebutkan bahwa “Pemuda zaman sekarang kurang memaknai konsepsi nasionalisme, nasionalisme diwujudkan dalam perbuatan perbuatan nyata di sekitar untuk menanggulangi kesengsaraan, sehingga nasionalisme ini mengalami pergeseran makna oleh waktu dan individu yang mengalaminya.”

Baca Juga :   Momentum Acara PHBI Harus Steril dari Alat Peraga Kampanye Peserta Pemilu 2019

 

Pernyataan di atas tidak sepenuhnya salah, kini segala sesuatu mudah didapatkan melalui teknologi. Sejatinya, teknologi bukanlah yang sepenuhnya buruk, teknologi menjadikan kehidupan lebih mudah dan menyingkat waktu dalam memenuhi kebutuhan harian. Semua serba cepat dan instan sehingga pemahaman mendalam suatu konsep kurang dimiliki.

 

Pemuda dan Kebangkitan

 

Jumlah penduduk Indonesia dalam 20 tahun mendatang adalah 40 persennya terdiri dari pemuda, Indonesia bisa belajar dari jepang yang memanfaatkan momentum jumlah pemuda untuk kebangkitan bangsanya. Pemuda dalam setiap masa adalah mereka yang penuh semangat untuk belajar dan memperbaiki diri.

Tokoh nasional Indonesia yang kini masih dapat kita saksikan dan temui bisa menjadi sosok inspiratif sebagai model pembelajaran. Pak Habibie misalnya, masih terus membersamai bangsa dan menginspirasi generasi melalui karyanya yang tak terkalahkan oleh usia tua yang beliau miliki. Pak Prabowo Subianto, dalam perkataan Gus Dur “ Prabowo adalah orang yang paling ikhlas” ikhlas di sini adalah ikhlas untuk bangsa dan negaranya. Atau kemudian kita bisa belajar pada tokoh pendiri bangsa melalui membaca dan mempelajari kiprah perjuangan dalam banyak buku karya dan biografinya. Kemudian untuk melihat keadaan Bangsa Indonesia dalam perspektif berbagai sisi untuk dicarikan solusi perbaikan alternatif dan efektif.

Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang besar dengan berbagai keanekaragaman suku dan budaya. Bangsa yang besar dalam perjuangan pembebasan Negara dari Penjajahan Belanda, dan Bangsa yang tidak lepas dari nilai religius, terutama Islam yang menjadi tonggak perjuangan bangsa dalam perumusan Pancasila (MRF)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

18 − two =