Mutiara Pondok Pesantren Tak Luntur Dengan Terpaan Isu (Menyingkap Hari Santri Nasional...

Mutiara Pondok Pesantren Tak Luntur Dengan Terpaan Isu (Menyingkap Hari Santri Nasional Oktober Tahun 2022)

0
BAGIKAN

Oleh : Drs. H. Suaidi. M.PdI

Pesantren Salaf atau Pondok Pesantren Salafiyah adalah sebutan bagi pondok pesantren  yang mengkaji “kitab-kitab kuning“. Pesantren salaf identik dengan pesantren tradisional (klasik) yang berbeda dengan pesantren modern dalam hal metode pengajaran dan infrastrukturnya. Di pesantren salaf, hubungan antara Kiyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kiyai terjun langsung dalam menangani para santrinya. Kiyai juga yang memiliki otoritas untuk menyusun kurikulum pembelajaran semuanya dilakukan tanpa jadwal dan perencanaan pembelajaran secara tertulis. Dengan kecerdasan intlektual Kiyai maka tahapan pembelajaran sangat terukur dengan kemampuan para santrinya yang dibuktikan dengan telah mampunya para santri untuk menghafal bidang studi (kitab yang diajarkan) oleh Kiyai. Secara tradisional pembalajaran di Pesantren Salafi untuk pemula diawali dengan kitab alat (Nahu dan Sorof) Kitabnya Amil, Jurumiah dan Sorof/Tashrif dari kata perkata dan dari kalimat perkalimat para santri wajib untuk mengnhafalkannya dengan target waktu tidak ditentukan (Sampai Hafal) bisa satu tahun bahkan lebih. Metode belajar mengajar di pesantren salaf terbagi menjadi dua yaitu metode sorogan bandungnan (sunda Banten) dan metode klasikal. Metode sorogan adalah sistem belajar mengajar di mana santri membaca kitab di depan ustadz atau Kiyai. Sedangkan sistem bandungan adalah kyai membaca kitab yang dikaji sedang santri menyimak, mendengarkan dan memberi makna pada kitab tersebut.

Keberadaan pesantren indentik dengan kebutuhan masyarakat akan praktek ajaran Islam, maka berdidirnya lembaga pesantren di Indonesia tidk bisa dipisahkan dengan kebutuhan masyarakat atas pengamalan ajaran Agama Islam. Oleh sebab itulah, maka target yang harus terpenuhi oleh lulusan pondok pesantren Salafy adalah memahami ajaran agama Islam secara utuh dan menyeluruh. Santri lulusan pondok pesantren salafi yang dianggap telah memahami ajaran agama Islam melalui kajian kitab kuning secara menyeluruh bisa ditempuh belasan tahun, bukti lulusannya bukan dengan diterimanya izasah akan tetapi cukup dilepas dengan doa Kiyai. Para santri yang telah dilepas dengan doa Kyai tidak segampang apa yang dibayangkan, sebab Kiyai yang melepas  santrinya kemudian didoakan untuk meneruskan ke Pesantren lain biasanya ke tempat Kiyai itu berguru/mesantren atau melepas dengan  doa pada santri untuk membuka pesantren di daerah asal santri yang bersangkutan setelah melalui istikhoroh dan berbagai pertimbangan spiritual dari sang Kiyai. Maka santri yang dilepas itu disamping memiliki kemampuan keagamaan yang tinggi juga memiliki akhlak yang sangat tinggi. Dari pertimbangan itulah maka pesantren Salafy memiliki norma dan kultur yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, termasuk dengan pesantren modern, di antara ciri khas itu ialah:

  1. Ciri khas kelembagaan

Kelembagaan pesantren salafi dibangun secara tradisionl, bahan bangunan terbuat dari kayu atau bambu (tidak memakai bahan yang modern) dengan ciri khas tempat tidur dari bambu (palupuh/sunda) sebagai ornamennya adalah jendela kecil setiap kamar, desain bangunannya dibuat panggung. Sedangkan biaya pembangunan dikeluarkan dari keuangan Kiayi dan bantuan masyarakat  yang tidak mengikat, pengerjaan bangunan dilaksanakan dengan gotong royong  tenaga santri dan masyarakat. Atapnya terbuat dari daun kiray/sunda, atau daun alang-alang liar, kalau malam tanpa harus ada penerangan listrik karena yang digunakan adalah lampu tradisional (1980). Kemungkinan di era perkembangan zaman sekarang sudah ada yang memakai penerangan listrik.

 

  1. Biaya dan Operasional

Pembiayaan di pondok pesantren salafi tidak ditentukan (tidak dipungut biaya) calon santri yang akan belajar di pondok pesantren salafi cukup dianter oleh orang tuanya diserahkan kepada Kiyai tanpa harus mengikuti tes atau sleksi masuk dan setelah diterima. Kiyai tidak menentukan berapa harus bayar tiap bulannya, kecuali ada pembiayaan yang harus ditanggung bersama seperti penerangan listrik dan air, itupun tidak semua santri bayar dan Kiyai tidak menagihnya. Kiyai salafi selalu ber-prinsip siapapun orang yang mau belajar agama berarti dia telah mendapatkan hidayah dari Allah, maka tidak sepantasnya kalau orang mau belajar ditolak sekalipun tidak dilengkapi dengan biaya yang cukup. Oleh karenanya, sampai saat ini-pun masih ditemukan kalangan santri salafi yang menggunakan waktu luangnnya untuk minta sodakoh jariyah keliling kampung, sekedar untuk menyambung hidup selama belajar di pesantren. Santri yang melakukan hal ini, tidak merasa hina dan gengsi karena dengan tekad bahwa santri selalu dilindungi oleh Allah, SWT,  selama perbuatan itu tidak dilarang oleh aturan agama maka santri tidak akan merasa hina. Prilaku apapun yang dilakukan selama di pesantren mereka (Santri) selalu berpandangan bahwa itu adalah bagian dari pembelajaran yang akan membahwa kebagaiaan dan kesuksesan masa depan dihadapan Allah.

 

  1. Kultur Santri Salaf

Santri sangat hormat pada Kiyai, bukti  bahwa santri sangat menghormati Kiayi, santri tidak berani bertanya saat pembelajaran (Bandungan atau Sorogan) berlangnsung, santri tidak berani bercanda dihadapan Kiayi dan kalau berjalan bersama Kiyai posisi santri selalu berada di belakang Kiyai. Santri merasa senang bila diajak untuk mengantar dan mendampingi Kiayi,  santri juga merasa terbebas seolah mendapatkan keberkahan kalau bisa mencium tangan Kiyai setelah sholat berjamaah. Santri yunior sangat menghormati kepada santri senior, begitu pula sebaliknya santri senior sangat meyangi santri Yunior tidak pernah terjadi adanya prilakku kekerasan yang dilakukan seniornya sebagaimana terjadi di Lembaga pendidikan selain pesantren salafi,  kebersamaan terpadu dengan penuh kekeluargaan, tidak ada sekat atau pembatas status sosial, sebagai santri, mereka hanya memikirkan bagaimana caranya menjadi santri yang baik dan memiliki ilmu pengetahuan agama yang baik dan keahlian dalam membaca kitab kuning. Karenanya, santri senior selalu mengnajari dan menuntun santri yunior untuk membaca kitab melalui pembelajaran sorogan,  mereka tidak pernah berdebat dalam soal paham keagamaan sebab kitab yang mereka pelajari adalah kitab yang sama. Dan, santri sudah terbiasa tidak mendebat apa yang tertulis dalam kitab kuning. Karena pengaruh doktrin dan keteladanan Kiyai, santri hanya manut terhadap apa yang termaktub dalam kitab yang mereka jadikan balagan (sumber rujukan).  Santri mayoritas ber-afiliasi dengan kultur Nahdlatul Ulama (NU) dengan kekhasan fikih bermazhab Syafi’i, dan akidah tauhid bermazhab Maturidiyah atau Asy’ariyah, dengan tasauf Al-Ghazali. Amaliyah khas seperti shalat tarawih 20 rakaat plus 3 rakaat witir pada bulan Ramadhan, membaca qunut pada shalat subuh, membaca tahlil (yasinan) pada tiap malam jumat, peringatan maulid Nabi dengan kekhasan melantunkan marhaba dan pembacaan kitab berjanji, peringatan Isra mikraj, peringatan muharaman peringatan nuzulul quran, dan sebagainya.

  1. Isu Paham Radikaliems di Pondok Pesantren
Baca Juga :   Tidak Ada Musuh dan Teman Abadi

Sebagai orang yang pernah mengalami menjalani kehidupan di Pesantren Salafi sangat tidak percaya dan tidak masuk akal kalau paham radikelisme itu berasal dari pondok pesantren. Sebab, Radikalisme kalau dilihat dari pengertiannya adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai dengan empath al (1) Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain (2) Sikap fanatic, yaiyu selalu merasa benar sendiri, dan menganggap orang lain salah (3) Sikap ekslusif membedakan diri dari kebiasaan ummat Islam kebanyakan (4) Sikap revolusioner, yaitu cenderung untuk menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan.

Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang tertutup dan tekstual. Kaum radikalisme merasa sebagai kelompok yang paling memahami ajaran Tuhan. Karenanya, mereka suka mengkafirkan orang lain (Takfir) atau menganggap orang lain sesat. Dilihat dari sejarahnya, radikalisme terdiri dari dua wujud (1) radikalisme dalam pikiran yang sering disebut sebagai fundamentalisme (2) radikalisme dalam tindakan disebut terorisme

Sikap fanatic, intoleran dan eksklusif pertama kali ditampakkan oleh kaum Khawarij sejak abad pertama hijriyah. Kaum Khawrij pada mulanya pengikut Khalfiha Ali bin Abi Thalib (atau sering disebut kelompok Syi’ah). Sejarah tentang Khawarij berawal dari perang syiffin yaitu perang antara pasukan Khalifa Ali melawan pasukan Muawiyah. Perang ini terjadi tahun 37 H/648 M. Pada saat itu kelompok Khalifah Ali hamper memenangkan peperangan. Muawiyah manawarkan perundingan (tahkim) sebagai penyelesaian permusuhan. ‘Ali menerima tawaran dari Muawiyah. Kesediaan ‘Ali untuk berunding menyebabkan 4000 pasukan pengikut ‘Ali memisahkan diri dan membentuk kemlompok baru yang dikenal dengan kelompok Khawarij (berasal dari Bahasa Arab Kharaja yang berarti keluar/membelot). Mereka menolak perundingan sebab menurut prinsip Khawarij bahwa permusuhan harus diselesaikan dengan kehendak Tuha, bukan dengan perundingan.

Karena ‘Ali dianggap melawan kehendak Tuhan oleh Kaum Khawarij maka ‘Ali dan Muawiyah dianggap Takfir. Mereka juga mengkafirkan kaum muslimin yang moderat dan mereka menuduhnya sebagai kaum muslimin pengecut. Bagi Khawarij, orang kafir meski dia seorang muslim dan halal darahnya, boleh dibunuh. Kaum Khawarij kemudian melakukan terror dan kekerasan terhadap kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka memasukkan jihad sebagai rukun Iman. ‘Ali bin Abi Thalib dibunuh oleh seorang Khawaryij Bernama Ibnu Muljam saat dibunuh ‘Ali sedang melaksanakan sholat subuh. Pemikiran dan sikap keagamaan model Khawarij kemudian diteruskan oleh paham Wahabi di Arab Saudi pada abad ke 12 H/18 M yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Gerakan ini bermaksud memurnikan ajaran Islam. Karena itu, Kaum Wahabi suka menuduh kaum muslimin yang tidak sepaham dengan mereka sebagai kaum muslimin yang sesat, Islam tidak asli atau Islam yang menyimpang.

Sampai sekarang radikalisme Islam terus berkembang, radikalisme memang tidak bisa dihilangkan, karena dia berasal dari pemahaman teologi dan Syariat Islam yang kaku, radikalisme saat ini semakin keras karena dipicu oleh kekuatan barat yang semakin menguasai dunia Islam.

APAKAH ISLAM MEMBOLEHKAN RADIKALISME..?

Islam sama sekali tidak membolehkan bahkan mengutuk tindakan radikalisme sebab Islam agama kasih sayang (Rahmatan Lil ‘Allamiin). Islam berasal dari kata salama yang berarti selamat, aman, damai. Islam tidak memperkenankan kekerasan sebagai metode menyelesaikan masalah. Islam mengajarkan agar kita mengajak kebaikan dengan bijak (hikmah), nasihat yang baik (mau’zah hasanah) dan berdialog dengan santun (wa-jadilhum billati hiya ahsan) Allah berfirman dalam surah An-Nahl :125)

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ

…  Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125)]

Baca Juga :   Bahasa Kekerasan dalam Anatomi Manusia

Islam mewajibkan kaum kaya untuk membantu kaum fakir miskin dengan melalui zakat, infaq dan sadaqah. Islam menganjurkan  kita untuk mendamaikan dua pihak yang bertikai, hormat pada kedua orang tua dan minta izin sebelum masuk rumah. Itulah beberapa contoh betapa Islam menganjurkan hidup yang santun dan damai. Radilkaisme dan terorisme, hanya prilaku yang akan membuat Islam jauh dari watak aslinya sebagai agama rahmat, yang mengakibatkan kehilangan tujuan hakikinya.

Syariat Islam diturunkan ke dunia untuk menjaga lima fondasi kehidupan jiwa (maqasid asy-syari’ah) yaitu (1) untuk melindungi keselamatan fisik atau jiwa manusia dari tindakan kekerasan di luar ketentuan hukum (hifz an-nafs), (2) melindungi keyakinan atas suatu agama (hifz ad-din), (3) menjaga kelangsungan hidup dengan melindungi keturunan atau keluarga (hifz an-nasl) (4) melindungi hak pribadi atau harta benda (hifz al-mal) dan (5) melindungi kebebasan berfikir (hifz al-‘aql).

Dengan demikian, syariat Islam pada dasarnya melindungi dan menghargai manusia sebagai individu yang bermartabat. Semua tindakan yang melawan kebebasan dan martabat manusia, bertentangan dengan syariat. Untuk mewujudkan itu semua syariat Islam selain berfungsi melindungi seluruh dimensi kamanusiaan, juga diturunkan untuk memudahkan manusia dalam menjalankan hidupnya, bukan membuat hidup menjadi sulit.

 

  1. Santri Salafi Ibarat Mutiara dalam lumpur

Dengan perkembangan pendidikan yang serba modren berimbas kepada penyesuaian sistem pembelajaran di psantren salafi, hal ini berakibat kepada perubahan  karakter santri yang beragam, dari motode pembelajaran sorogan dan bandungan kepada pembelajaran modren akan merangsang santri banyak bertanya sehingga tidak disadari debat kusir-pun mungkin saja terjadi antara guru/ustad/kiyai, hal ini akan membentuk karakter santri menjadi kurang sopan terhadap Kiyai. Pengaruh pakaian dari sarungan kecelana panjang menyebabkan akan perubahan penampilan dan gaya bicara. Santri salafi yang sarat dengan pemahaman ilmu agama yang dalam akan sulit tersentuh dengan perubahan yang menyebabkan kepribadiannya terseok-seok terbawa arus. Untuk itu, dari niat, metode etika yang dibangun oleh Kiayi dan santri Salafi sebagaimana pemikiran diatas, kalau saja bisa dipertahankan maka akan muncullah santri-santri yang tidak terkenal di bumi akan tetapi menjadi selebriti di langit. Santri salafi tidak boleh terbawa oleh arus keterkenalan dikalangnan manusia disanjung oleh manusia akan tetapi tidak terasa sanjungan itu akan membawa kepada kesombongan, inilah yang dimaksud menjadi selebriti di bumi tapi sepi di langit. Pada akhirnya keberkahan ilmu tidak dapat dirasakan. Maka santri salafi yang mampu mempertahankan existensinya akan tetap menjadi berlian/emas walau berada dalam lumpur. Agak aneh jika alumni pondok pesantren salafi yang diidentikkan  dengan pelaku pergerakan kekerasan, nyaris tidak ada alumni pondok pesantren salafi yang bergerak dengan dakwah yang ber-nuansa keras, karena pada umumnya santri-santri salafi ditempa dengan kelembutan dan akhlak yang baik, tidak mungkin jika santri salafi melakukan hal-hal yang bernuansa keras apalagi dalam kategori radikal. Sepanjang pengetahuan penulis didikan di pesantren salafi selalu ada kitab rujukannya, dan rujukan kitab salafi seputar fikih tauhid dan akhlak tasauf. Bahkan di pesantren salafi semakin dalam ilmu yang dipelajari semakin dalam kezuhudannya (kehati-hatiannya) sangat tinggi, baik  dalam bicara maupun dalam perbuatan. Sampai saat ini santri salafi ada yang tidak berani berkhutbah selain dengan bahasa Arab dengan teks tertentu dan terbatas seputar terpenuhinyaa rukun khutbah hal ini mereka lakukan bukan karena mereka tidak mampu akan tetapi hawatir menyalahi ketentuan syariat, sebab penyampaian tausiah di mimbar  khutbah sangat ketat aturan syaraiatnya. Lain halnya   dengan tausiah melalui  pengajian atau ceramah biasa. Prilaku yang diperankan oleh alumni-almuni pesantren salafi sejalan dengan kemajuan pendidikan pesantren dan berubahnya sistem pendidikan pengajaran di pesantren akan berpengaruh kepada prilaku alumni. Islam sama sekali tidak membatasi akan pergerakan pesantren dan langkah-langkah para santrinya dalam menghadapi perkembangnan zaman yang semakin pesat. Akan tetapi, setidaknya akan memberikan warna terhadap pribadi santri yang bersangkutan. Dengan perkembangan system dan kurikulum pendidikan di pesantren akan berdampak kepada semakin berkurangnnya para lulusan pesantren yang berwawasan dan prilaku salafi. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadinya kelangkaan santri yang murni salafi. Sebab para penggagas pendirian pesantren salafi dari sejak awal diniatkan menanamkan nilai-nilai agama yang menjadi ciri khas pesantren salafi, maka dengan demikian tertanamah dalam jiwa santri hanyalah untuk mempelajari agama tidak untuk belajar yang lainnya, seperti pesantren modren yang dimodipikasi dengan pendidikan olah raga dan pendidikan keterampilan lainya seperti pertanian dan sejenisnya. Dan, diharapkan alumni pesantren bukan hanya sekedar paham tentang ajaran agama tapi meraka juga paham keterampilan sebagai modal dasar kehidupan selanjutnya. Bagi santri salafi, hanya hanya berkonsentrasi kepada mempelajari agama dengan baik dan membaca kitab kuning dengan professional, urusan setelah keluar dari pesantren mutlak diserahkan kepada Allah, SWT. Prinsip yang tertanam dalam jiwa santri salafi sejalan dengan perkembangan zaman semakin langka, dengan kelangkaannya inilah maka santri salafi akan menjadi barang langka yang bernilai tinggi .Wallahu ‘alamu

*Dosen Untirta Fakultas Hukum

TINGGALKAN KOMENTAR

seven + 1 =