Muharam; Sejarah, Kemuliaan hingga Tradisi di Nusantara

Muharam; Sejarah, Kemuliaan hingga Tradisi di Nusantara

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Mercusuar Institute)

Bulan Muharam adalah bulan yang ditandai dengan beralihnya jumlah bilangan tahun dalam kalender Islam. 1 Muharam adalah tahun baru Islam yang bertepatan dengan awal mula Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Kalender Hijriyah sendiri baru digunakan secara resmi saat Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkuasa. Secara administratif, penetapan kalender hijriyah menandai babak baru penyusunan administrasi surat-menyurat Khalifah kepada jajaran eksekutif dibawahnya, yang sebelumnya tidak menyertakan tanggal dan waktu.

Barulah dimasa Amirul Mukminin Umar bin Khattab, ketika salah satu Gubernur Khalifah yaitu Abu Musa al Asy’ary merasa kebingungan, karena surat-surat yang dikirimkan Khalifah tidak memiliki tanggal. Umar lantas mengumpulkan para sahabat untuk menyelesaikan masalah adminitratif ini. Beberapa sahabat ada yang mengusulkan hari kelahiran Nabi sebagai awal penanggalan umat Islam, namun usul ini tidak di terima. Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengusulkan kalender Islam dimulai saat awal mula Nabi Muhammad Saw. hijrah dari Makkah ke Madinah, mayoritas sahabat sepakat dan akhirnya Khalifah Umar bin Khattab menetapkan hari hijrah nabi sebagai awal penanggalan Islam yang kemudian dikenal dengan kalender Hijriyah.

Dalam Tafsir Al Azhar Buya Hamka menyebut bulan Muharam sebagai salah satu dari empat bulan yang dihormati dalam Islam. Surat At Taubah ayat 36 disebutkan bahwa;

“Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan, (demikian) didalam Kitab Allah, sejak hari Dia menjadikan semua langit dan bumi. Daripadanya adalah empat yang dihormati. Demikianlah agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu pada bulan-bulan itu. Dan perangilah orang-orang musyrikin itu seluruhnya sebagaimana merekapun telah memerangi kamu seluruhnya (pula). Dan ketahuilah bahwasanya Allah adalah beserta orang-orang yang memelihara.”

Baca Juga :   Doa Perang Sabil Syeikh Asnawi Caringin di Peci KH TB Achmad Chatib

Buya Hamka menjelaskan bulan Muharam dijadikan bulan yang dihormati dalam Islam, dan dilarang untuk melakukan perang dan balas dendam, lebih lanjut Buya mengatakan, “Maka setelah bangsa Arab memeluk agama tauhid, agama hanif, yang dinamai juga Islam, yang disampaikan oleh nabi Ibrahim dan Ismail, diadakanlah empat bulan yang dihormati. Dihormati itu karena pada keempat bulan itu tidak boleh berperang dan tidak boleh balas dendam. Keempat bulan itu ialah Dzulqa’idah, Dzulhijiah dan Muharam tiga berturut dan yang satu lagi ialah bulan Rajab, bulan ketujuh. Dihormati bulan yang tiga berturut itu. Jangan berperang di waktu itu, jangan menjarah dan membalas dendam. sebab pada bulan yang tiga itu adalah bulan yang khas untuk mengerjakan Haji ke Baitullah. Sejak Dzulqa’idah ialah persiapan untuk pergi Haji, sedang Dzulhijjah ialah bulan untuk mengerjakan Haji itu sendiri, dan bulan Muharam ialah perjalanan pulang dari Haji. Enam bulan selepas haji itu, yaitu pada bulan Rajab dijadikan lagi bulan yang dihormati, hentikan berperang, hilangkan dendam kesumat, supaya dapat pula mengerjakan Umrah di bulan itu. Sampai ke zaman kita sekarang ini buat seluruh Tanah Arab, dipandang bahwa bulan Rajab ialah bulan ziarah besar, mengerjakan umrah, dan penduduk Makkah sendiri mengadakan ziarah besar ke makam Rasulullah Saw., di Madinah.”

Selain itu, salah satu keistimewaan bulan Muharam adalah julukannya, yaitu Syahrullah atau “Bulan Allah” yang diberikan oleh Rasulullah Saw. Derajat kemuliaannya pun berada satu tingkat setelah bulan Ramadhan. Hal ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah;

Baca Juga :   Indonesia Merdeka Seutuhnya

“Seseorang datang menemui Rasulullah Saw, ia bertanya, ‘Setelah Ramadhan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?’ Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharam’,” (H.R. Ibnu Majah).

Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam bulan Muharam ini, salah satunya adalah peristiwa menyedihkan sepanjang sejarah, dimana terjadi konspirasi jahat untuk membantai cucu Nabi yaitu Husain bin Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya. Peristiwa ini di kenal dengan peristiwa Pembantaian Padang Karbala, yang kemudian dieksploitasi sedemikian rupa secara politis oleh kalangan Syi’ah.

Di Nusantara sendiri bulan Muharam dikenal dengan bulan Suro. Banyak peringatan dan tradisi bulan Muharam yang dilakukan, misalnya di Jawa ada tradisi malam satu Suro. Pada malam ini dilakukan arak-arakan, ruwatan. Bahkan malam satu Suro tidak kurang diidentikan dengan peristiwa-peristiwa penuh mistis bagi orang Jawa.

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, ada sebuah tradisi rakyat yang dikenal dengan istilah “Batabuik” atau Tabut. Tradisi ini dilakukan setiap 10 Muharram, acara tabut ini salah satunya bertujuan mengenang konspirasi jahat kepada Sayyidina Husain, dimana mayoritas umat Islam di Minangkabau adalah ahlusunnah wal jama’ah, bukan Syi’ah.

Buya Hamka menyebut dalam buku Sejarah Islam di Sumatera, “Sepuluh Muharam sampai sekarang masih dipandang perayaan yang suci pada beberapa tempat. Sampai kepada masa yang belum lama lampau, di Padang dan di Pariaman masih dirayakan orang tabut Husein, yaitu tabut yang membawa kepala Husein dari Padang Kerbala kedalam surga.”

TINGGALKAN KOMENTAR

one × 3 =