Menjadi Masyarakat Cerdas Pada Pilpres 2019

Menjadi Masyarakat Cerdas Pada Pilpres 2019

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi

Oleh Liya Apriyani (Mahasiswa Untirta)

Pemilihan Presiden di Indonesia tahun 2019 merupakan pemilihan Presiden yang ke 8 dari Presiden sebelumnya. Pemilihan Presiden tahun 2019 akan sedikit berbeda dari tahun lalu, yaitu menggunaan sisem kombinasi, yang menggabungkan antara sistem proporsional terbuka dan tertutup. Sistem proporsional terbuka sendiri adalah sistem yang memberikan kebebasan kepada seluruh ranah publik untuk mencalonkan diri, lain halnya dengan sistem proposional tertutup yang hanya memberikan hak kepada seseorang yang berada dalam lingkup parpol saja, parpol lah yang menjadi kendali dalam pencalonan anggotanya. Diusulkanya sistem kombinasi pada pilpres 2019 ini bertujuan agar siapa saja berhak berkontribusi, baik rakyat biasa maupun anggota parpol, jika memang telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Karena sistem kombinasi pada pilpres 2019 memberikan hak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mencalonkan diri, maka diharapkan terpilihnya seorang pemimpin yang ideal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada dasarnya pemimpin yang dibutuhkan masyarakat cerdas untuk menjadi perwakilan rakyat adalah orang yang mempunyai kualitas pribadi yang baik, yang bisa membawa masyarakat ke era perubahan, memang sebenarnya bukan hanya pemimpin yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu bangsa, tapi baik buruknya pemimpin adalah yang bisa mengajak masyarakatnya untuk sama-sama merubah tatanan yang salah, karena tanpa adanya dukungan dan kerja sama yang baik dari masyarakat,  pemimpin tidak akan mampu menciptakan sebuah sistem yang sesuai untuk kemajuan bangsa.

Jadi seharusnya kita tidak boleh menyalahkan sepenuhnya kepada presiden, tapi kitalah sebagai masyarakat cerdas yang harusnya tersadarkan dengan sistem yang sebenarnya perlu dilakukan perubahan. seperti tatanan ekonomi, pendidikan, dan politik. Kita juga bisa melihat sikap dan keberanian para tokoh terdahulu, salah satu contohnya tokoh Soetardjo Kartohadikoesoemo yang merupakan pejuang pendidikan yang bernas di bidang parlemen sebagai seorang birokrat yang berorientasi kepada kebutuhan dan keinginan rakyat yang saat itu kondisinya sangat menderita. Disetiap tugas yang diembannya, ia selalu memprioritaskan kepentingan rakyat dengan tujuan agar kemiskinan segera dapat dituntaskan, maka rakyat harus diberdayakan.

Baca Juga :   Komunikasi Krisis dalam Pengendalian Covid-19: Pemerintah Jangan Sampai Salah Langkah

Dalam pemikirannya untuk  menuju ke arah itu, pendidikan harus diutamakan. Karena pendidikan adalah dasar dari semua kebijakan yang akan terjadi dalam kehidupan. Demikian pola yang selalu diterapkan di setiap wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan adanya pendidikan, diharapkan dapat mencetak masyarakat yang cerdas, yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sama seperti dalam memilih seorang pemimpin, haruslah melihat terlebih dahulu yang manakah yang memiliki kualitas diri yang baik, bukan hanya melihat harta dan jabatan yang dimiliki.

Masyarakat cerdas juga bisa menyikapi berbagai konflik yang terjadi saat ini jelang pilpres 2019, seperti dalam hal memilah informasi yang diterima dengan cara mengkaji terlebih dahulu dari berbagai sumber yang ada dan tidak langsung menyebarkan isu yang belum jelas kebenarannya tanpa rasa tanggung jawab yang bisa saja berdampak pada terpecahnya sistem kesatuan bangsa.

Untuk mendapatkan seorang pemimpin yang ideal, banyak sekali hambatan yang terjadi karena pastinya dalam pemilihan akan selalu terjadi persaingan dari masing-masing pencalon, seperti saling menjatuhkan satu sama lain dan  yang tengah heboh saat ini yaitu perang tagar 2019 ganti presiden. Bisa saja hal itu merupakan ulah oknum yang mengambil keuntungan untuk menaikan citra partai politiknya, tetapi sebenarnya hal ini tergantung dengan persepsi masing-masing orang dalam menilai dan menanggapinya. Disinalah peran masyarakat dibutuhkan, karena sebaiknya tidak mudah terprovokasi tetapi justru ikut meredam agar masalah tidak menjadi besar yang bisa memecah anggota masyarakat ke dalam berbagai kelompok.

Masyarakat cerdas yang mengharapkan seorang pemimpin ideal akan biasa saja dalam menanggapi hal demikian, karena kericuhan yang terjadipun berasal dari masyarakat sendiri dalam menyikapinya.

Johan Saputra seorang aktivis Garda Nasional-pun menilai gerakan perang tagar ini terindikasi memecah belah masyarakat jelang pilpres 2019, pihaknya juga menyatakan ingin pemilu pilpres 2019 berjalan lancar dan damai, maka  meminta agar aksi 2019 Ganti Presiden dihentikan. Karena sudah jelas pilpres 2019 hanya akan diikuti dua calon, maka  sudah pasti ada kepentingan salah satu parpol didalamnya. Penolakan juga terjadi dipelbagai kota seperti Batam, Pekanbaru, Surabaya bahwa gerakan ini memecah belah persatuan dan kesatuan.

Baca Juga :   Islam, Perempuan dan Politik

Konflik tidak terjadi pada saat ini saja, jauh sebelum ini-pun selalu terjadi di pemilihan sebelumnya. Bahkan bukan hanya pada pemilihan presiden tapi pada anggota parlemen juga, seperti tokoh Soetardjo pada masa lalu sejak ditetapkannya ia untuk menduduki kursi anggota volksraad di wilayah Jawa Timur. Tidak semua orang menyetujuinya, banyak sekali perdebatan yang terjadi dimasing-masing pihak, seperti dalam koran Bataviaasch Nieuwsblad memberitakan bahwa usulan dari surat kabar Melayu Cina adalah untuk menarik kembali pencalonan Soetardjo agar digantiakan oleh sosok yang lain. Tetapi dengan kecerdsan dan keberaniannya, ia berhasil meyakinkan masyarakat dan volksraad bahwa ia pantas. Ditambah lagi dengan kehadiran Wiranatakoesoemah yang ikut hadir pada pemilihan anggota volksraad dari Jawa Timur, memberikan pencerahan kepada pengurus pusat PPBB bahwa menurut dirinya, Soetardjo lebih layak dan disukai oleh masyarakat.

Nah bisa dilihat, bahwa untuk memperoleh seorang pemimpin ideal, seorang calon pemimpin harus mampu memberikan keyakinan kepada rakyatnya bahwa ia layak untuk dipilih dengan menunjukan kualitas yang ada pada dirinya. Maka kita sebagai masyarakat yang cerdas, tidak akan salah dalam menentukan pemimpin ideal kedepannya. Karena siapapun yang akan menjadi presiden tahun 2019 nantinya, diharapkan mampu mensejahterakan rakyat, merubah tatanan sistem yang salah, serta mampu  melihat semangat pengorbanan para tokoh terdahulu, salah satunya tokoh Soetardjo ini yang telah memperjuangankan hak-hak rakyat, membela rakyat yang tertindas dan menderita oleh bangsa penjajah dan memajukan pendidikan di Indonesia. Karena menurutnya pendidikan bukan lagi suatu keinginan tapi merupakan suatu kebutuhan yang akan menjadi penuntun langkah setiap pribadi masyarakat untuk membawa perubahan bangsa. Dengan pendidikan, mari bersama kita menjadi masyarakat cerdas pada pilpres 2019 dengan saling bekerjasama antara masyarakat dan pemimpin ideal yang akan terpilih nantinya, demi terwujudkannya segala hasrat yang belum terealisasikan di sistem pemerintahan sebelumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

3 × four =