“MEMAHAMI PENGABDIAN AKADEMISI DI ERA 4.0”.

“MEMAHAMI PENGABDIAN AKADEMISI DI ERA 4.0”.

0
BAGIKAN

Bentuk pengabdian dan cinta kepada negeri dalam era revolusi industri 4.0 saat ini telah mengalami transformasi yang signifikan. Pertemuan subjek terhadap objek bukan lagi sebagai hal yang mutlak, begitupun yang terjadi di dunia ilmu pengetahuan, dunia digital telah banyak mengubah paradigma tersebut.

Dosen  Kimia Lingkungan kelahiran Serang, 1985 merupakan alumni dari Kimia Universitas lampung yang kemudian melanjutkan strata 2 nya di jurusan kimia IPB mengambil konsentrasi kimia lingkungan,  kini ia menjabat sebagai ketua program studi teknik Lingkungan Universitas Banten Jaya yang namanya mulai dikenal dikancah akademisi lantaran tulisan ilmiah dan prestasi kinerjanya yang mulai diperhitungkan. Meski begitu ia ingin bekerja dalam senyap untuk merawat asa ilmu pengetahuan Indonesia. Menjadikan dirinya sebagai salah satu akses bagi Indonesia untuk dapat mentransformasikan ilmu pengetahuann dunia. Ia memiliki cita cita menjadi seorang akademisi yang loyal terhadap negeri ini.

 

Berikut ini adalah wawancara redaksi dengan Fitriyah mengenai “Memahami pengabdian Akademisi di Era 4.0”.

Menurut Anda, adakah manfaat dari era revolusi 4.0 saat ini?

Tentu saja ada, manfaat dan pengaruh positif dari revolusi industri 4.0 adalah hal yang sudah seharusnya menjadi sumber  kekuatan yang dikedepankan sehingga perkembangan teknologi ini dapat memberi energi positif  pada semua aspek, termasuk di dalamnya manfaat bagi dunia pendidikan.  Dalam dunia pendidikan tinggi, menurut saya era 4.0 haruslah mampu membuat dunia pendidikan tinggi sebagai pelopor perubahan, sehingga menghasilkan lulusan yang bisa berdaya saing tinggi. Jika sebagai mahasiswa, mahasiswa tersebut haruslah mampu menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif, berkarakter dan berdaya saing serta berdaya juang tinggi di tengah-tengah masyarakat yang semakin kompetitif. Walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa revolusi industi 4.0 akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta pendidikan.

 

Bagaimana peran akademisi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia saat ini?

Disinilah  peranan penting seorang akademisi, sehingga mampu berperan positif untuk mendorong pertumbuhan daya saing bangsa Indonesia di era revolusi Industri 4.0.

 

Era revolusi industri 4.0 adalah era internet yang saat ini dimana seorang lulusan universitas tidak hanya dibekali dengan ijazah, akan tetapi seorang sarjana dituntut memiliki kecakapan dan kemampuan mengembangkan soft skill dan kemampuannya dalam bermasyarakat termasuk  salah satunya kecakapan menjadi entrepreneur. Oleh karenanya untuk mengembangkan skill dan kemampuan tersebut lulusan perguruan tinggi di era 4.0 juga dituntut memiliki kemampuan literasi baru sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat. Disinilah peranan seorang akademisi, dia harus mampu mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut, dalam rangka ikut menopang dan mendorong kemajuan pembangunan bangsa Indonesia  kedepan, artinya seorang akademisi harus mulai menguasai literasi baru di era ini, yakni literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Tiga literasi baru di era Revolusi Industri 4.0 ini mendorong implementasi untuk menjadi pembelajar sepanjang masa (lifelong learner), hal  ini dimaksudkan agar mampu beradaptasi dan berkembang dengan baik dalam menghadapi tantangan global di era revolusi industri 4.0 begitupun juga di masa selanjutnya. Maka dari itu, perlu peranan strategis seorang akademisi karena peran strategis  perguruan tinggi bagi pembangunan bangsa adalah mempersiapkan Sumber Daya Manusia.

Baca Juga :   Guru di Era Millenial dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Menurut Perspektif Islam

 

Apa itu makna literasi sebenarnya menurut anda?

 

Makna literasi baru di revolusi industri 4.0 bukan hanya tentang seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung serta memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun saat ini makna literasi semakin berkembang, mencakup literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data, secara umum adalah kemampuan seseorang menggunakan data menjadi informasi dan menggunakanya sebagai pengetahuan untuk memecahkan masalah. Literasi data fokus dalam membaca, menulis dan mengarsipkan data dalam tridharma perguruan tinggi, sehingga data harus bisa difahami tidak hanya kuantitatif namun juga kualitatif. Seorang akademisi haruslah jujur dalam menyebarkan informasi data ilmiah, maka amatlah benar peribahasa bagi seorang akademisi: akademisi boleh salah tetapi tidak boleh bohong, artinya dalam literasi data  berarti mengolah data, menyebarkannya menjadi informasi yang benar, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan. Literasi selanjutnya yaitu literasi teknologi, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan sebagai penerapan pilar literasi dari manual menuju digital dalam membaca, menulis, dan menyebarkan informasi. Informasi yang disebarkan dalam dunia teknologi  haruslah bersumber dari sumber yang benar dan faktual. learning outcomes sampai diturunkan kepada matakuliah yang bisa menjawab tantangan zaman.

 

 

Sebagai akademisi, apa rencana Anda ke depan untuk bisa turut serta membangun bangsa Indonesia?

 

Rencana saya secepatnya adalah melanjutkan sekolah, kemudian bersinergi dengan pemerintah terhadap arah kemajuan pendidikan tinggi. Tri dharma perguruan tinggi adalah hal  yang harus selalu dijunjung akademisi untuk setiap dia bertindak dalam turut serta mengabdi terhadap negeri ini. bagaimana mengajar dengan hakikat sebenar benarnya untuk menjembatani ilmu, kemudian melakukan riset dan publikasi yang berkualitas serta terjun langsung turut serta melakukan pengabdian masyarakat yang harus terus dilakukan, sehingga peran akademisi bukan sekedar konstektual.

 

Apa hal yang akan lakukan untuk mengabdi terhadap Bangsa Ini terkait dengan era revolusi industri 4.0?

 

sesuai dengan amanat Kemenristekdikti, lima hal penting yang harus dilaksanakan seorang akademisi ditengah era 4.0 yaitu :

1) Mempersiapkan sistem pembelajaran dan pengajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran yang digitalisasi, meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan menganalisis data serta mengintegrasikan objek fisik digital dan manusia, sehingga menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang inovatif dan kreatif terutama dalam literasi aspek data dan literasi teknologi dan literasi manusia; 2) Merekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Diharapkan dengan era 4.0 menjadi solusi permasalahan bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas. Kebijakan lembaga perguruan tinggi haruslah mengacu pada pengembangan disiplin ilmu yang progresif dan berkesinambungan serta adaftif terhadap segala perubahan yang dinamis.; 3) Mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia khususnya sebagai dosen dan peneliti yang responsif, adaptif dan handal. Hal ini sesuai dengan fungsi pendidik (dosen) yaitu sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat; 4) Selalu inovatif, kreatif, berkarakter dalam mengembangkan Tridharma perguruan tinggi untuk menerapkan terobosan dalam riset,pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, Masyarakat, dll. Inovasi erat kaitannya dengan kreatifitas, ide dan gagasan. Memasuki era revolusi industri 4.0 seorang akademisi haruslah memiliki banyak inovasi dalam rangka mengembangkan tridharma perguruan tingginya sehingga mampu menyelesaikan permaslahan yang ada.

Baca Juga :   Gelar Diskusi Publik, BEM KBM FKIP Untirta Mengundang Aktivis ’98 dan ASPEK Banten

5) Terus berinovasi dan memperkuat sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas universitas, mendorong dan meningkatkan peran dalam entrepreneurship berbasis literasi teknologi di lingkungan civitas akademika.

 

Bagaimana menurut anda dengan peran akademisi yang hanya berorientasi mengejar penelitian, namun kontribusi terhadap perubahan masyarakatnya sangat minim?

 

Saya fikir seharusnya semua penelitian tentu ada kontribusi terhadap masyarakat atau negara, bahkan yang baru sebatas di atas kertas pun. Hanya bedanya ada riset riset yang bisa langsung aplikatif di masyarakat,misalnya mungkin riset sosial. Namun ada banyak riset yang masih terus dikembangkan, terlebih bidang ilmu sains misalnya, tentu ini tergantung pemangku kebijakan juga, bagaimana pemerintah dengan akademisi bisa bersinergi, sehingga inovasi dan penelitian yang dikembangkan tidak hanya sebatas mengejar terindex scopus namun bisa kontributif terhadap perubahan masyarakat. Sebetulnya, inilah yang memang sedang dilakukan para peneliti, akademisi dan pemerintah, sehingga riset dan Inovasi yang dilakukan bisa aflikatif terhadap masyarakat.

 

demikianlah hasil diskusi kami tim redaksi dengan ibu fitriyah dosen visioner di kota serang, terimakasih telah diwawanarai oleh kami, ibu fitriyah “iya sama-sama” sambil tersenyum.

TINGGALKAN KOMENTAR

two × one =