Memahami Feminis, Menuntut Keadilan

Memahami Feminis, Menuntut Keadilan

0
BAGIKAN

Ketika sedang mencari buku di Perpustakaan Prov. Banten, saya menemukan sebuah buku dengan judul yang menarik. Buku yang di tulis oleh dua orang dengan pangkat akademis doktor, yang tentunya tema dari buku ini tidak main-main, alias serius, karena sampai melibatkan dua orang doktor.

Buku ini berjudul. *Fikih Feminis, Menghadirkan Teks Tandingan,* diterbitkan tahun 2014, di Yogyakarta, dan baru cetakan pertama. Terlihat buku ini seperti diktat untuk mata kuliah tertentu, yang tentunya ilmiah, karena melampirkan catatan kaki, dan daftar pustaka.

Buku ini menggugat fikih mahsyur yang terkesan bias gender, misalnya dicatat oleh penulis buku ini pada kata pengantar bahwa terdapat ketidakadilan gender dalam kitab-kitan fikih ulama terdahulu. Alat ukur yang digunakan dalam tulisan ini adalah perspektif berketidakadilan gender, yaitu:
1. Burden = beban kerja domestik perempuan lebih banyak dan lebih lama dari laki-laki,
2. Subordinasi = sikap menomorduakan perempuan dalam segala bidang
3. Marginalisasi = proses pemiskinan dan peminggiran perempuan dalam pengambilan keputusan dalam urusan-urusan penting,
4. Stereotype = pelabelan negatif terhadap perempuan,
5. Violence = tindak kekerasan baik fisik maupun psikis terhadap perempuan.

Dengan analisis tersebut, dua penulis ini mendapatkan fikih yang tidak berkeadilan gender, berupa pembedaan perlakuan berbasis gender, misalnya :
1. Perempuan dilarang menjadi imam sholat bagi jamaah laki-laki dan perempuan,
2. Jumlah akikah anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan haya satu ekor,
3. Istri mesti minta izin suami jika ingin berpuasa sunnah, sedangkan suami tidak perlu izin,
4. Perempuan tidak bisa menjadi wali saksi menikah, sedangkan laki-laki boleh, dan lainnya.

Dua penulis dalam buku tersebut ingin menunjukkan bahwa produk fikih yang di hasilkan ulama-ulama muktabar terdahulu masih bisa diperdebatkan, dapat digugat dan menunjukkan banyak ketidakadilan perlakuan terhadap perempuan, benarkah demikian?

Baca Juga :   21 Tahun Banten Semakin Maju Dibawah Kepemimpinan WH

Pada dasarnya informasi yang masuk kedalam pikiran seseorang tergantung terhadap konten bacaan, konten pendengaran, dan lingkungan yang akan mempengaruhi sikapnya terhadap sesuatu. Boleh jadi seseorang menghasilkan pandangan yang berbeda karena memiliki bacaan yang berbeda, sehingga menghasilkan sikap dan tindakan yang berbeda. Sehingganya pandangan penulis buku tersebut, yang menjustifikisasi Fikih Islam secara sepihak pun masih bisa dibantah.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam bukunya Misykat, Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi’ mengurai tentang konsep Feminisme dengan cerdas. Feminisme berasal dari bahasa Latin yaitu Fei-Minus. Fei artinya Iman dan Minus artinya Kurang, jadi Feminus artinya kurang Iman. Sejarah perlakuan terhadap wanita di Barat memang mengenaskan dan tragis, mereka memandang wanita sebagai manusia kurang iman.

Lawan kata dari feminis yakin Masculine tidak lantas bermakna penuh iman. Masculinus atau masculinity diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam sejarah peradaban Barat wanita selalu tertindas, banyak yang menjadi korban inquisisi Gereja dan pemerkosaan. Hal ini mengakibatkan Agama (Gereja) dan Laki-laki menjadi musuh utama wanita Barat.

Feminisme di Barat pada awalnya memperjuangkan hak-hak ekonomi dan politik. Dalam buku Vindication of the Rights of Women seperti di kutip Gus Hamid menyimpulkan bahwa di abad ke-18, wanita mulai kerja diluar rumah karena didorong oleh kapitalisme industri. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan jasmani (perut) berkembang menjadi ambisi sosial, dan bahkan memprovokasi perempuan untuk memilih menjadi seorang ibu atau wanita karir. Tapi berkarir ternyata bukan tanpa masalah, feminis pekerja tadi justru memperkerjakan pembantu wanita juga.

Gus Hamid menuturkan, karena kapitalisme dilawan sosialisme, maka feminis liberal dilawan feminis Marxis. Menurut feminis marxis, kapitalis liberal telah meletakkan wanita dalam kelas sosial yang lain. Karena itu feminis marxis berusaha akan mengapus kelas sosial feminis kapitalis-liberal.

Baca Juga :   Pembebasan Kedua Konstantinopel

Kelompok Feminis Liberal atau Marxis radikal pun, memprovokasi untuk melakukan revolusi menuntut hak sipil terhadap sistem sex/gender yang oppressif. Pembagian hak dan tanggung jawab seksual dan reproduksi dianggap tidak adil. Bahkan Bible pun tak luput dari kritik mereka, Kristen itu menindas perempuan, kata Santon dalam The Women’s Bible.

Dalam pandangan feminis sejati, Perempuan sering diposisikan sebagai alat pemuas nafsu lelaki. Ini sebab feminis radikal benar-benar tidak membutuhkan laki-laki, karena tanpa lelaki pun sebenarnya wanita bisa memenuhi kebutuhan seksualnya, sehingga lesbianisme menjadi tren.

Feminis radikal memang memiliki tujuan untuk menghancurkan institusi rumah tangga. Gerakannya menggugat konstruksi gender secara sosial dan biologis. Baginya Laki-laki tak mesti jadi pemimpin rumah tangga. Karena laki-laki dominan bukan karena faktor biologis, tapi sebab konstruk sosial. Maka dari itu konstruk sosial ini mesti dirubah. Kalau perlu laki-laki mesti bisa hamil dan menyusui, dan wanita yang menjadi pemimpin laki-laki di rumah.

Gus Hamid menyimpulkan, sejatinya gerakan Feminisme adalah gerakan nafsu amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki, konstruk sosial, politik, dan ekonomi. Ketika di adopsi di negeri ini, ianya menjadi gerakan pemberdayaan wanita.

Sayangnya prinsip, ide, nilai dan konsep gerakannya masih orisinil Barat. Hal ini ditunjukkan pada nafsu amarah lesbianisme yang ikut diimpor dan dijual bebas keseluruh dunia seakan menjadi keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan dan dijustifikasi dengan ayat-ayat keagamaan. Bangunan konseptualnya berwajah liberal, radikal, marxis, dan postmo. Begitulah, nafsu tidak memiliki batas dan marah tidak mengenal moralitas. Dan memang gerakan Feminisme adalah Feminus, alias kurang iman, tutup Gus Hamid.

Oleh : Jemmy Ibnu Suardi

Center for Islamic studies in the archipelago (CISA) Darussalam

Peneliti di Mercusuar Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

5 × two =