LGBT Musuh Agama-Agama.

LGBT Musuh Agama-Agama.

0
BAGIKAN
J I S

Menarik, sebuah liputan ditulis oleh majalah Tempo edisi 20-26 Mei 2013, majalah nasional ini mengangkat tulisan tentang aktivitas LGBT yang ada di Perancis. Kumpulan LGBT ini bahkan mendirikan sebuah rumah ibadahnya sendiri dan beribadah dengan cara mereka sendiri. Karena memang sebenarnya tidak ada tuntutan ibadah LGBT dalam Agama-agama.

Rumah ibadah ini bernama Mosquee de I’Unicite. Seperti yang ditulis oleh Tempo, lokasinya sangat dirahasiakan karena alasan keamanan. Hanya orang yang bergabung secara resmilah yang diberitahu alamat dan tata cara beribadahnya. Komunitas ini bernama Homosexuels Musulmans de France disingkat HM2F.

Pendiri rumah ibadah ini adalah seorang imigran asal Aljazair yang sudah menjadi warga Negara Prancis, Ludovic Zahed namanya, dia didaulat sekaligus menjadi pimpinan di rumah ibadah LGBT tersebut. Zahed adalah seorang homo yang telah menikahi pasangan sesama jenisnya Qiyaam Jantjies, di Afrika Selatan tahun 2011 dan mengklaim resmi menikah secara agama tahun 2012. Entah bagaimana prosesi akad nikahnya? Yang jelas pernikahan ini tidak sah dalam pandangan agama, karena batal tidak memenuhi rukun pernikahan, dimana mengharuskan ada mempelai pria dan mempelai wanita.

Tempo menulis, ide Zahed mendirikan rumah ibadah ramah LGBT lantaran dia bertemu dengan Zonneveld di Los Angeles, Amerika Serikat, dia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Zonneveld merupakan imam perempuan kelahiran Malaysia. Dia adalah pendiri gerakan Muslims for Progressive Values yang berada di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Bahkan dirinya juga bertugas sebagai penghulu, menikahkan pasangan lesbian di Prancis dan mendirikan rumah ibadah LGBT di Amerika.

Baca Juga :   Perempuan Banten dalam Pendidikan Barat 1895-1929

Dengan adanya rumah ibadah ini mereka berharap dapat beribadah tanpa rasa takut dan malu. Baginya siapapun dia, sesama LGBT diterima disini. Mereka menjustifikasi ayat-ayat agama bahwa, LGBT bukanlah sesuatu yang terlarang. Mereka menjadikan rumah ibadah tersebut sebagai pusat aktivitas keagamaan, mereka menerima semua jenis manusia yang memiliki orientasi seksual apapun. Baik heteroseksual, homoseksual, lesbi, LGBT. Pendirian rumah ibadah LGBT ini cenderung berani. Mereka dengan kepercayaan tinggi ingin membangun agama baru. Agama yang menerima semua golongan, apapun orientasi seksualnya.

Dalam wawancara yang dilakukan Tempo kepada Zahed yang berniat menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang psikologi dan anthropologi ini. Ia ingin menghilangkan perasaan homophobia. Dia berdalih agama tidak membenci tindakan homoseksual dan lesbian. Untuk menjadi seorang hamba tuhan yang taat dan menjadi homo ataupun lesbi dalam waktu yang sama adalah sebuah keniscayaan. Aktivis LGBT ini menyatakan ingin membuktikan itu. Zahed berujar, “bagi saya agama tidak mengenal diskriminasi seksualitas terhadap umatnya,” karenanya ia tetap menjadi homo sekaligus tetap menjadi seorang yang beriman.

Dalam pandangan Kristen, Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa Gereja Katolik melarang pernikahan sesama jenis dan menentang aborsi. Dalam Bibel memang dikatakan, pelaku homoseksual harus dihukum mati. Dalam kitab Imamat (Leviticus) 20:30, disebutkan: “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” ( Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam, hal 40-42)

Baca Juga :   H Anhar SE MM : Koperasi Sebagai Wujud Nyata Membangun Ekonomi Kerakyatan di Banten

Tahun 1975, Vatikan mengeluarkan doktrin, “The Vatican Declaration on Social Ethics,” yang hanya mengakui praktik heteroseksual dan menolak pengesahan homoseksual. St. Thomas menyebut sodomi sebagai “contra naturam”, artinya bertentangan dengan sifat hakiki manusia. (Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal. 3-5)

Dalam Islam sampai saat ini, praktik LGBT dipandang sebagai tindakan bejat. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik LGBT adalah dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah saw.bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks (LGBT), maka bunuhlah pelaku tersebut.” (HR Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Bahkan, Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah. Untuk pelaku lesbian, dihukum kurungan sampai mati. Praktik homoseksual dan lesbian pada hakikatnya adalah perbuatan kejahatan kriminal, tidak patut di promosikan apalagi sampai dilegalkan. (Adian Husaini, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam, hal 42)

Baik dalam Islam ataupun Kristen perilaku menyimpang LGBT adalah perbuatan nista dan melanggar ajaran agama. Sejatinya LGBT adalah musuh agama-agama.

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi

Peneliti di Mercusuar Institute

TINGGALKAN KOMENTAR

twenty − five =