LAUNCHING LINGKAR STUDI PEKANAN (LSP) UNTIRTA (Dalam Upaya Kristalisasi Generasi Qur’ani Yang...

LAUNCHING LINGKAR STUDI PEKANAN (LSP) UNTIRTA (Dalam Upaya Kristalisasi Generasi Qur’ani Yang Berkarakter JAWARA)

0
BAGIKAN

Serang (12/09/2022) – Pada Jumat tanggal 9 Sep 2022 merupakan hari bersejarah bagi mahasiswa/i muslim Untirta dalam kegiatan pengenalan Program Lintas Studi Pekanan (LSP) ber-orientasi pada pemahaman Al-qur’an secara tekstual maupun isi kandungannya, dalam upaya mewujudkan mahasiswa yang ber-akhlak mulya dan berkarakter.

Hal ini sejalan dengan Value Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yaitu UNTIRTA JAWARA ( Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Relegius, Akuntabel). Ke-enam jargon ini merupakan perasan pribadi Sultan Ageng Tirtayasa. Yang terpotret dalam Visinya yaitu terwujudnya UNTIRTA Sebagai Integrated Smart and Green (Iti’s Green) Universitas yang UNGGUL, BERKARAKTER DAN BERDAYA SAING, di Kawasan ASEAN tahun 2030.

Dalam turut mewujudkan cita-cita emas tersebut maka program LSP merupakan bagian tak terpisahkan turut membekali para mahasiswa muslim melalui pemahaman dan pengamalan Al-qur’an, baik secara tekstual maupun dalam tatanan aplikatif, sehingga melalui program LSP para mahasiswa akan tertata kerakternya sejak dini. Program LSP juga berupaya membentengi para mahasiswa dari prilaku dan pergaulan negatif.

Mahasiswa diupayakan tidak terjebak dalam pola kritik liar yang bersumber dari nalar yang keliru. Kristalisasi al-Quran pada nurani memiliki kekuatan misteri yang langsung digerakkan oleh Allah, SWT sehingga akan membimbing manusia dari jalan yang keliru. Program LSP juga turut ambil bagian dalam upaya mewujudkan pribadi mahasiswa taat menjalankan perintah Agama, dan mengantarkannya menjadi manusia yang ber-ilmu amaliyah dan ber-amal ilmiyah saat turun ke masyarakat kelak.

Belajar di kampus, mengikuti berbagai acara, dan berperan aktif dalam organisasi kampus bagian dari aktivitas mahasiswa. Meski terlihat sederhana, tetapi dengan menjalankan kewajiban itu mahasiswa terlatih untuk tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tetapi juga masyarakat, bangsa, dan negara. Sebagai kaum intelektual, peran dan fungsi mahasiswa tidak sekadar lulus kuliah dan sukses dalam pekerjaannya yang hanya memberikan manfaat secara pribadi di kemudian hari. Mahasiswa juga memiliki fungsi sosial yang lebih luas bagi kehidupan bermasyarakat harus bermanfaat dan dirindukan kehadirannya oleh masyarakat.

Mahasiswa sebagai kalangan akademisi yang memiliki tempat tersendiri di dalam masyarakat. Potensi, kelebihan, dan kemampuan yang dimiliki tidak bisa disamakan dengan masyarkat pada umumnya. Untuk itu, dalam rangka upaya memberikan pembekalan rohani sekaligus pendewasaan transformasi keilmuan yang didapat dari kampus untuk masyarakat umum, mesti dasampaikan dengan metode korelasi antara gaya intlketual muda dengan budaya masyarakat, kehalusan budi dan akhlak yang baik, sehingga manunggalisasi antara masyarakat dengan para mahasiswa bisa sinergi, dan akhirnya kehadiran mahasiswa sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat. Salah satu pembekalan rohani bagi mahasiswa adalah pemahaman al-Qur’an baik secara tekstual maupun aplikasinya.

Baca Juga :   Bidkum Polda Banten Gelar Penyuluhan Hukum di Polres Cilegon

Alqur’an merupakan bagian struktur keimanan seorang muslim, tidak hanya sekedar untuk dipahami melainkan harus diamaalkan, sehingga cara dan prilaku keagamaan bisa dijalankan secara benar yang bernuansa Rahmatan Lil ‘Alamiin.

Al-qur’an sebagai kitab suci ummat Islam di antaranya berfungsi sebagai (1) Petunjuk Yang Lurus, memberikan petunjuk dalam mejalani kehidupan baik secara pribadi maupun kehidupan bermasyarakat, (2) Al-qur’an sebagai mukzizat Nabi Muhammad SAW, memiliki kekhasan berbeda dengan mikzizat yang diberikan kepada Nabi lainnya. Al-qur’an dan Nabi Muhammad SAW satu paket sebagai struktur rukun iman, percaya pada Al-qur’an dan Nabi Muhammad, SAW tidak dibenarkan bersifat dikotomi (3) Al-qur’an juga menjelaskan kepribadian manusia yang berbeda dengan makhluk lainnya.

Manusia diciptakan dengan kelengkapan akal yang mesti digunakan untuk mengkaji dan memaknai jagat ciptaan Tuhan. Sekaligus khusus menciptakan manusia dengan otoritas fungsi akalnya untuk digunakan semaksimal mungkin. Hal ini membuktikan bahwa teks Al-qur’an banyak yang memuat pertanyaan Allah, SWT kepada manusia yang tidak menggunakan akalnya secara maksimal seperti dalam teks “ Afala Takqilun”, “Afala Tatafaqarun” (4) Al-qur’an sebagai tuntunan hukum dalam menjalani kehidupan baik kehidupan pribadi maupun tuntunan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam memaknai sebuah esensi kehidupan, kita akan dihadapkan pada problema tentang perbedaan pendapat manusia dalam memahami arti kehidupan itu sendiri. Namun hakikat yang berlaku bahwa segala sesuatu yang terpaut dalam dinamika kehidupan telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. dalam sebuah kitab yang terbukukan bernama Al-Qur’an (Q.S, Hud:1). Ayat ini menggambarkan, bahwa tata kelola kehidupan manusia telah diatur secara terperinci dalam Al-qur’an. Hal ini memberikan peringatan kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu pun yang meragukan dalam al-Qur’an sebagai manifestasi dari hukum-hukum yang mengatur segala sisi kehidupan manusia.

Baca Juga :   Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta Kembali Salurkan Logistik Korban Banjir Labuan-Pandeglang

Dalam realitas kehidupan yang berjalan memang masih kita temukan beberapa masalah kehidupan yang tidak dibahas secara terperinci dalam Al-Qur’an, namun bukan berarti Al-Qur’an tidak membahasnya. Dan sangat tidak relevan jika ada oknum yang berusaha untuk memperselisihkan apa yang telah tercatum secara mutlak di Al-Qur’an. Allah sudah memberi peringatan tentang hal yang demikian dalam Al-Qur’an :
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka” (QS. Al-Ahzab : 36).

…interval dari eksistensi Al-Qur’an tak terbatas pada linear kehidupan manapun dan tak boleh dipotong dari sisi kehidupan manapun. Yang terakhir adalah bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ilmu dari segala bidang keilmuan yang ada. Maka peradaban yang ada sekarang merupakan bentuk nyata dari pengamalan ilmu-ilmu yang tercantum di Al-Qur’an.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa tidak diperbolehkannya pertentangan sedikit pun terhadap apa yang telah ditetapkan melalui firman Allah, SWT dan sabda Rasulullah SAW. Maka interval dari eksistensi Al-Qur’an tak terbatas pada linear kehidupan manapun dan tak boleh dipotong dari sisi kehidupan manapun. Al-Qur’an merupakan sumber ilmu dari segala bidang keilmuan yang ada. Maka peradaban yang ada sekarang merupakan bentuk nyata dari pengamalan ilmu-ilmu yang tercantum di Al-Qur’an.

Untuk menjawab persoalan tersebut bahwa Unit Pengembangan Mata Kuliah Umum dan Pembinaan Kepribadian (UPMKUPP) dalam salah satu programnya mendeksi mahasiswa muslim atas kemampuan baca dan pemahaman Al-Qur’an melalui Program LSP, tentunya perlu mendapat dukungan jajaran sivitas akademika Untirta. Dalam sebuah Gerakan prilaku dan keteladan yang Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius dan Akuntabel (JAWARA). Walhu ‘Alamu Bishowab.

Penulis: Drs. H. Suaidi. M.Pd.I (Dosen Pada Fakultas Hukum Untirta

TINGGALKAN KOMENTAR

nine + seventeen =