Kritisme Metodologis Tekstualis Dalam Kajian Al-Qur’an

Kritisme Metodologis Tekstualis Dalam Kajian Al-Qur’an

0
BAGIKAN
Kholik Ramdan Mahesa

Banteninfo (Opini)– Al-Qur’an adalah kitab suci yang agung bagi kalangan umat islam, al-Qur’an bukan sekedar kitab yang harus dibaca namun harus juga di imani , Karena salah satu rukun iman ialah percaya akan kitab suci. Fungsi al-Qur’an bagi umat muslim tidak lain ialah  Hudal Li-nnas (way of life) yang senantiasa hadir dalam relung-relung kehidupan. Pendapat ini kemudian melahirkan statman bahwa al-Qur’an salih li kulli zaman wa al-makan, yang sifatnya tak akan pernah musnah oleh ruang dan waktu.  Pendapat ini pula yang menjadikan kekayaan akan penafsiran al-Qur’an , penafsiran yang memberikan pesan-pesan sesuai dengan konteks yang baru atau dengan artikulasi yang baru pula.

Namun terkadang banyak umat islam yang salah paham akan kandungan ayat al-Qur’an, mereka masuk dalam lubang yang sangat dalam dimana lubang tersebut dipenuhi hawa nafsu syaithaniyyah . Kesalah pahaman ini terletak dari ketidaktahuan akan teori-teori  penafsiran, pemahaman mereka cenderung tekstualis , sehingga mengabaikan kandungan al-Qur’an yang substansial dan instrumental.

Nasr Hamid Abu Zaid berkomentar dalam bukunya Mafhum al-Nash : Dirasah fi Ulum al-Qur’an menyebut peradaban interpretasi terletak pada peradaban teks. Artinya , fundamen intelektual dan kultural tidak mungkin mengabaikan sentralitas teks al-Qur’an dalam dialegtikanya dengan realitas ( konteks). Sentralitas al-Qur’an itu , apabila dikaji lebih dalam lagi maka akan terbagi menjadi double movement ( dua gerakan).Gerak sentripetal dan gerak sentrifugal. Gerak sentrifugal adalah daya dorong al-Qur’an bagi umat islam atas ayat-ayatnya. Sedangkan gerak sentripetal adalah dorongan untuk merujukan problema-problema hidup yang di jumpai umat islam kepada al-Qur’an. Kedua gerak dalam praksisnya tidak mungkin diurai secara terpisah tersebut, menandakan adanya keberadaan atau pluralitas makna yang dikandung al-Qur’an.

Baca Juga :   Banten Harus Belajar Dari Bali

Dalam kerangka pluralitas makna al-Qur’an, Abdullah Darraz didalam bukunya al-Naba’ al-‘Azim membuat pernyataan yang sangat menarik . Ia mengakatan Al-Qur’an itu intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan yang terpancar dari sudut yang lain. Tidak  mustahil bila kita mempersilahkan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak dari yang anda lihat . Kekayaan makna yang di kandung al-Qur’an memungkinkan kitab suci itu mmiliki kemampuan berinteraksi di segala medan dan zaman.

Kemampuan berinteraksi dimaksudkan agar teks al-Qur’an berdialog dengan realitas yang tumbuh ketika teks itu diproduksi, jika tidak dilakukan maka teks al-Qur’an akan sulit dipahami oleh berbagai pembaca lintas generasi.

Contoh dari ayat al-Qur’an tentang hukuman potong tangan bagi pencuri, bila di tafsirkan ayat ini  secara tekstualis ( tidak adanya dialektika teks-realita) apapun benda yang ia curi, baik besar atau pun kecil maka si pencuri wajib dipotong tanggannya, Namun bila ayat ini ditafsirkan dengan adanya dealektika antara teks dan realitas maka lafadz fa-aqtha’u aidiyahuma ( potonglah kedua tangannya) sebagai bentuk perintah menghalangi tangan-tangan pencuri melalui perbaikan ekonomi. Dengan demikian, yang menjadi ideal moral dalam kasus ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. Sebagaimana dua kasus diatas, praktik hukuman potong tangan bagi pencuri telah dilaksanakan dikalangan suku-suku arab sebelum islam. Secara Historis-sosiologis, mencuri menurut budaya mereka dianggap tidak saja sebagai kejahatan ekonomi, tetapi lebih sebagai kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia. Namun, seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia, mencuri dalam masyarakat urban telah mengalami pergeseran pemahaman, maka memerlukan perubahan hukum. Menurut fazlur rahman ayat diatas juga diniscayakan untuk diberlakukannya ideal moralnya, yaitu mengamputasi segala kemungkinan yang memungkinkan ia mencuri lagi bisa dilakukan dengan cara yang manusiawi lagi misalnya, dipenjara sangat lama atau didenda sebesar-besarnya ( tarik kekayaan nya oleh negara). Ini lebih cocok dan sejalan dengan nilai-nilai luhur manusia.

Baca Juga :   KKN Mahasiswa UIN SMH Banten 2018, Momentum Membangun Desa!

Dilihat dari ayat diatas jika umat islam hanya menafsirkan al-Qur’an secara tekstualis tidak peduli akan realitas maka umat islam tidak akan menembus lautan makna yang dibentangkan di balik ayat-ayat al-Qur’an. Umat islam akan selamanya terhimpit bahkan terkungkung dalam pagar intelektualitas tafsir dengan batasan batasan yang sempit. Karena itu harus ada bahkan mesti diusahakan sebuah rekonstruksi atas metodologi penafsiran. Metodologi yang nantinya menyingkap selubung  yang menutupi gunung es.Sejatinya al-Qur’an itu ibarata gunung es yang terapung , yang terlihat hanya sepuluh persen , sedangkan sembilan puluh persen lagi tersembunyi dibawah permukaan air.Sebuah metodologi yang tentunya harus dapat menembus endapan es yang telah terdistori sampai kedasar dasarnya. Dengan asumsi bahwa al-Qur’an dapat ditafsirkan dengan adanya interaksi teks dan realita, al-Qur’an diperlakukan sebuah teks yang bisa dipahami pesan-pesannya dengan cara menelusuri tidak hanya teks itu sendiri, tetapi menjelaskan rinci tentang proses penerimaan wahyu sejak dari tingkat perkataan sampai ketingkat dunia.

Oleh : Kholik Ramdan Mahesa

TINGGALKAN KOMENTAR

seventeen − six =