Komunisme di Banten, Pergolakan Rakyat Banten 1926!

Komunisme di Banten, Pergolakan Rakyat Banten 1926!

0
BAGIKAN

Oleh, Jemmy Ibnu Suardi (Peneliti Senior Mercusuar Institute)

Sejarah Banten tidak hanya kaya akan nuansa kegemilangan Kesultanan Banten abad ke 17, tapi juga sarat dengan sejarah perjuangan rakyat dalam melawan tirani kolonialisme Belanda.

Jika Kesultanan Banten yang oleh sebagian peneliti sejarah mengatakan, sebagai salah satu lawan berat Kolonialisme, katakanlah Mufti Ali, sejarawan Banten ini menyebut, Belanda harus mengeluarkan dana besar untuk membiayai perang dengan Banten. Sedemikian rupa Banten dikenal sebagai basis perjuangan perlawanan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa 1926 di Banten, Pemberontakan atau Perang Sabil? Adalah pertanyaan menarik yang dijadikan tema diskusi yang diadakan oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Banten, Senin, 29 Juni 2020. Menghadirkan Bonnie Triayana, Pemred Historia dan Mufti Ali, Sejarawan Banten yang juga adalah Penasehat dari AGSI Banten.

Dalam hal ini penulis ingin menyoroti paparan menarik yang di sampaikan oleh Mufti Ali, dimana fakta sejarah yang mengemuka bahwa gerakan 1926 di Banten identik dengan gerakan Komunis.

Padahal, menurut Doktor lulusan Leiden Belanda ini, ideologi komunis itu tidak memiliki rekam jejak yang jelas di Banten, alias Komunisme tidak laku di Banten.

Buktinya adalah ketika terjadi pemberontakan lanjutan dari PKI yang mengancam eksistensi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu pemberontakan 1948 dan 1965 yang memaksa Soekarno turun dari tampuk kekuasaanya. Di Banten relatif adem-adem saja, alias tidak ada respon dukungan terhadap gerakan komunisme tersebut.

Tidak dijumpai dukungan ulama ataupun jawara terhadap gerakan komunisme tersebut. Jika seandainya betul ideologi komunis itu diterima tahun 1926, seharusnya Banten juga menjadi tempat bergolaknya pemeberontakan PKI 1948 dan 1965, tapi buktinya hal tersebut tidak ada sama sekali.

Baca Juga :   Indonesia Merdeka Seutuhnya

Bahkan dengan tegas, Mufti Ali menyebut, KH Achmad Chatib yang menjadi Residen Banten pertama era Kemerdekaan, mendukung penuh republik, dan berdiri dibelakang republik. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa komunisme tidak laku di Banten.

Lalu bagaimana bisa terjadi peristiwa 1926? Menurut Mufti Ali, sosok kunci dari terlibatnya para Kiyai dan Ulama Banten dalam peristiwa ini adalah Ahmad Basaif, seorang komunis yang berdarah Arab dan Banten. Sedemikian rupa Ahmad Basaif masuk dalam lingkaran utama keluarga Syeikh Asnawi Caringin dan mempengaruhinya untuk melakukan revolusi. Padahal sangat sulit sekali untuk bisa masuk dalam lingkaran dalam Syeikh Asnawi Caringin.

PKI di Banten sejak pemberontakan 1926, 1948, 1965 benar-benar tidak memiliki pengikut. Infiltrasi PKI kedalam tubuh Sarekat Islam yang kemudian menjadikan PKI seperti benalu yang hinggap pada inangnya Sarekat Islam. Hingga Haji Agus Salim memberlakukan disiplin partai, barulah jelas warna dari PKI ini.

Begitu juga di Banten, bermodalkan tampilan Arab dan darah Banten, Ahmad Basaif, menurut Mufti Ali, mampu mempengaruhi dan membuka ruang bagi PKI untuk masuk kedalam tubuh Sarekat Islam Banten, khususnya keluarga Syeikh Asnawi Caringin. Saat 1926 itu, Presiden Sarekat Islam Banten adalah KH. Achmad Chatib yang tidak lain adalah menantu dari Syeikh Asnawi Caringin, jadi mau tidak mau, PKI mestilah membujuk tokoh sentral Banten, Syeikh Asnawi Caringin untuk mengakomodir gagasan pergolakan 1926.

Baca Juga :   Tb. Achmad Chatib dalam Revolusi Banten 1926

Gayung bersambut, kebencian Syeikh Asnawi dan keluarga terhadap kolonialisme Belanda, sedemikian rupa dieksploitasi dan dijadikan jalan masuk. PKI akhirnya berhasil menunggangi Sarekat Islam Banten, dan terjadilah pergolakan 1926.

Akibat infiltrasi dan propaganda Ahmad Basaif ini, Syeikh Asnawi dan menantunya di tangkap oleh Belanda. Karena dianggap oleh Belanda sebagai tokoh penting di Banten yang bisa mengerakkan massa.

Syeikh Asnawi di asingkan ke Tanah Abang, Batavia, namun kehadiran Syeikh Asnawi di Tanah Abang, Batavia hanya membuat masalah baru bagi Belanda, karena ribuan jamaah berdatangan ingin bertemu dengan ulama kharismatik Banten ini.

Sempat diusulkan untuk di asingkan ke Manado, Indonesia Timur, tapi justru Belanda mengasingkan Syeikh Asnawi ke Cianjur selama 7 tahun, khawatir jika di asingkan ke Manado atau Digoel, sama dengan Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol, malah membuat Islamisasi dan dakwah Islam semakin berkembang.

Begitupun menantunya, KH. Achmad Chatib, diasingkan ke Digoel, Irian Jaya, kekhawatiran Belanda terbukti, kehadiran KH. Achmad Chatib di Digoel hanya membuat Islam semakin berkembang disana. Apalagi kesan Sutan Sjahrir yang saat itu sama-sama diasingkan oleh Belanda di Digoel, merasa heran, kenapa orang-orang Banten yang diasingkan ke Digoel yang dianggap komunis, justru bertuhan dan sangat taat beribadah.

Sehingga hipotesa yang menyebut pergolakan Banten 1926 adalah murni gerakan komunis tidaklah tepat sama sekali. Banten tetap menjadi epicentrum gerakan Islam di Nusantara dan menjadi salah satu basis bagi para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. (FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

eighteen − sixteen =