Kita Disuruh Berproses, Bukan Berhasil

Kita Disuruh Berproses, Bukan Berhasil

0
BAGIKAN

oleh: Natar (Lampung Selatan)

Al-Faatihah (Pembuka)

Menarik bila menelaah isi kandungan Al-faatihah yang dimulai dari pernyataan bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah itu Maha Rahman dan Maha Rahim, Cintanya meluas dan mendalam. Luas tak berbatas, dalam tak tenggelam. Segala pujian adalah milik Allah, sang “pengasuh” alam semesta. Ia yang menjaga semesta ini.┬áJagad besar yang jauh dari jangkauan teknologi manusia, dan jagad renik yang tak mampu mata kita menangkapnya.

Segala pujian untuk semua kepengasuhan-Nya.

Allah menegaskan kembali “icon”-Nya, yaitu Rahman dan Rahim. Ia-lah Maharaja, penguasa pengadilan yang adil. Setelah Allah “memberikan” Rahman Rahim yang dengannya Ia menjadi Rabb, menjadi “pengasuh” jagad ini. Tak cukup sekali Ia berikan Rahman dan Rahim itu, tapi itu berulang dan terus berulang, sehingga pada suatu saat nanti Ia yang Maha Adil itu “berhak” untuk mengadili kita seberapa besar syukur atau kufur kita terhadap Rahman Rahim-Nya yang tak berbatas, atas kepengasuhan-Nya yang Maha Asih.

Lalu, kita sebagai hamba akan mengakui kelemahan kita, menyatakan bentuk penghambaan kita. Kepada Engkau saja kami menyembah, kami mengabdi. Bukan kepada atasan, bukan pada uang kami menyembah, tidak pada Bupati, tidak pada Gubernur, tidak pada Menteri, bukan pula pada Presiden. Kami hanya mengabdi kepada Engkau (seolah Allah ada di hadapan kita, maka kita panggil Engkau). Kami tak menyembah pangkat, tidak mengejar-mengejar kedudukan, sampai lupa Engkau. Tidak merapat dan berkoalisi pada siapapun, hanya kepatuhan pada-Mu saja.

Baca Juga :   Elegi Perdamaian Untuk Suriah

Pernyataan dan penegasan bahwa yang lain selain Allah itu bukan apa-apa, tidak penting, not a big deal. Setelah menyatakan penghambaan kita, lalu kita membuat pernyataan lagi, hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Bukan kepada Parpol, bukan kepda pemerintah. Bukan kepada siapa-siapa selain Engkau. Kami tak mau merendahkan diri kami untuk memohon kepada yang selain Engkau.

Tunjuki kami jalannya orang-orang yang menegakkan. Jalannya orang-orang yang istiqomah. Tunjuki kami jalan. Engkau yang menjarkan do’a ini, Yaa Allah, bahwa kami hanya diminta untuk ditunjuki jalan, kami diberi arahan, dikasih rambu-rambu, dipasangkan tanda-tanda. Bahwa mencuri itu lampu merah, sehingga kami tidak menabraknya, bahwa jalan menuju Engkau itu arahnya ke kanan (Ashaabul Yaamin), bukan ke kiri (Ashaabusy Syimaal).

Tunjuki kami jalan orang yang istiqomah. Kami tak diajarkan untuk mencapai tujuan, kami diajarkan untuk terus berjalan. Berjalan dan berjalan, tidak harus sampai finish, dan Engkau tak menagih kami untuk sampai finish.

Engkau menilai proses, tidak peduli harus gagal (dalam pandanganga manusia), atau mesti sukses. Jalannya orang-orang yang istiqomah tak dapat dilalui oleh para hipokrit, apalagi kutu loncat. Jalannya orang-orang istiqomah tak dapat dilalui oleh mereka yang dahulu berteriak: “GANYANG KORUPTOR”, tetapi setelah mendapat kekuasaan justru lebih hebat korupsinya.

Baca Juga :   Naksir Seseorang yang Sama dengan Sahabat, Harus Bagaimana?

Jalan istiqomah serasa penuh duri bagi orang-orang macam ini. Padahal jalannya orang-orang yang istiqomah, orang-orang yang selalu menegakkan adalah jalan bagi mereka yang Engkau anugrahi kenikmatan, jalan yang Engkau iya (na’am)-kan.

Jangan tunjuki kami jalannya orang-orang yang Engkau kutuk, bukan jalan orang yang Engkau benci, sebab neraka lah hidup ini bila Engkau telah mengutuk kami, sepertinya menjadi gelap hidup ini, bahkan hidup dan kami sendiri adalah karena kemurahan-Mu. Karena cinta kasih-Mu. Jalan orang-orang istiqomah bukan pula jalan mereka yang sesat.

Mereka yang menyangka bahwa dunia ini adalah tujuan, sehingga tersesat tak dapat kembali ke dalam Rahman Rahim-Mu. Padahal tak ada tempat kembali selain Engkau. Jalan mereka yang sesat adalah jalan yang dikira menuju kebahagiaan, padahal itu jurang kesengsaraan. Jalan yang dikira berlimpah materi hasil rampokan itu adalah berkah, padahal itu adalah awal malapetaka. Jalan Istiqomah, bukan jalan yang Engkau benci, bukan pula jalan yang sesat. Aamiin

TINGGALKAN KOMENTAR

13 − 8 =