KEKERASAN YANG TERSELUBUNG DALAM RUMAH TANGGA

KEKERASAN YANG TERSELUBUNG DALAM RUMAH TANGGA

0
BAGIKAN

Oleh : DRS. H. Suaidi. M.Pd.I (Dosen Fakultas Hukum Untirta Banten)

Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi, baik itu kekerasan dalam ucapan  seperti menggunakan kata-kata kasar yang tidak lazim digunakan untuk berkomunikasi dalam keadaan normal (kekerasan verbal)  maupun kekerasan dalam bentuk perbuatan  seperti memukul dan sejenisnya (kekerasan fisik).

Hal ini telah dianggap biasa oleh sebagaian masyarakat, akibat pengaruh doktrin agama yang mereka terima  bahwa suami memiliki otoritas dan pihak yang harus dihormati oleh istrti, termasuk adanya pengaruh adat dan budaya suatu masyarakat tertentu  bahwa isteri harus manut” pada suami apapun prilaku suami.

Dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 Pasal 1 bahwa perkawinan  ialah  ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dipahami dari teks tersebut, tujuan perkawinan adalah menyatukan kebahagiaan antara pasangan suami isteri.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh dua  hati suami isteri  sebagai penyebab munculnya pergaulan yang harmonis, damai yang terbungkus dalam  ikatan kasih sayang. Kebahagiaan yang lahir   melalui perkawinan itulah sesungguhnya puncak cita-cita.

Kebahagiaan juga terpenuhinya kepuasaan secara subyektif. Namun realitanya, tidak sedikit pasangan suami isteri yang memilih untuk mengakhiri perkawinannya dengan perceraian akibat kebahagiaan  yang menjadi idaman tidak kunjung terwujud, malah yang dirasakan sebaliknya.

Perceraian dalam hukum Islam  perbuatan yang dihalalkan akan tetapi dibenci oleh Allah, SWT. Dengan demikian, dibolehkannya perceraian setelah melalui berbagai pertimbangan  dan menempuh jalur penasehatan baik melalui Lembaga resmi maupun melalui mediasi keluarga, jika tidak diketemukan solusi perdamaian barulah diperbolehkan untuk bercerai melalui lemaga resmi yaitu Pengadilan Agama.

Banyak faktor yang menyebabkan tidak bahagianya kehidupan rumah tangga, di antaranya adalah (1) Pasangan suami isteri kurang memahami tujuan berumah tangga, (2) Lemahnya pemahaman agama, (3) Karena masalah ekonomi, (4) Karena adanya perselingkuhan (5) Karena perkawinan dilaksanakan pada usia muda (6) Karena pengaruh keluarga dari masing-masing pasangan suami isteri.

Rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang menyediakan ketentraman (sakinah) bagi setiap orang. Namun ada prilaku kekerasan yang sering kali terjadi, dan menyebabkan ranah yang paling privat di sebuah masyarakat ini justru berdampak bagi pertumbuhan dan terlukainya perkembangan  mental anak.

Fenomena  ini adalah salah satu gambaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sebuah fenomena yang hampir bisa dijumpai di setiap rumah tangga dengan intensitas dan kadar yang berbeda-beda. Ada rumah tangga yang sangat jarang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga, namun ada pula sebuah rumah tangga yang setiap hari diwarnai Kekersan Dalam Rumah Tangga.

Ada yang mengalami kekerasan verbal seperti bentakan dan kata-kata yang tidak menyenangkan, namun ada pula yang mengalaminya secara berlapis. Misalnya kekerasan verbal, fisik, psikhis, dan ekonomi, sosial, seksual, bahkan kekerasan spiritual. Di sisi lain, Islam menegaskan bahwa tujuan berumah tangga adalah terjalinnya rasa kasih sayang dan terpenuhinya ketentraman (sakinah) dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, Islam menolak tegas Kekerasan Dalam Rumah Tangga, meskipun kadang melakukan kompromi karena beberapa bentuk Kekerangan Dalam Rumah Tangga tidak bisa dihapuskan seketika.

Baca Juga :   Trend Pariwisata Banten

Untuk menghindari terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga, hendaknya perkawinan dipahami secara maksimal agar masing-masing pasangan suami isteri memahami tugas pokok masing-masing dalam rumah tangga. Sejalan dengan perkembangan zaman bahwa keterbukaan pasangan suami isteri hendaknya bukan lagi dipahami secara tabu, sudah tidak pada temptanya memposisikan isteri sebagai pembantu suami dan harus bertanggung jawab sepenuhunya atas pekerjaan-pekerjaan dalam rumah tangga.

Hilangkan prasangka bahwa apabila suami mengerjakan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh isteri sperti mencuci pakaian, mencuci peralatan masak, menyapu dan menyetrika martabat dan wibawa menjadi jatuh. Pikiran inilah yang menyebabkan posisi isteri selalu berada dalam tekanan suami.

Posisikan isteri sebagai mitra bagi suami sehingga posisinya sama dalam hal menyelesaikan pekerjaan rumah. Jangan sampai isteri menghabiskan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rutinitas rumah tangga, bila hal ini dilaksanakan dengan penuh kelelahan sang isteri itupun sama saja dengan bentuk “Kekerasan Dalam Rumah Tangga” yang terlegalisasikan oleh budaya sebagian masyakarkat yang membenarkan sekalgus bahwa Isteri “Harus Bekerja di Rumah”.

Budaya masyarakat yang memposisikan isteri sebagi pihak yang harus manut pada suami  tanpa memiliki hak menolak menjadikan posisi isteri semakin lemah. Dalam posisi seperti ini sama halnya dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Akan tetapi kekerasan yang secara umum dipahami adalah perlakuan kasar baik secara verbal maupun fisik dilakukan suami terhadap isteri.

Sementara isteri memilih untuk diam dan merasakan perlakuan suami terhadap dirinya melakukan kekerasan baik secara verbal maupun fisik. Sebab isteri beranggapan jika diketahui oleh pihak lain sekalipun pihak keluarga sama halnya dengan membongkar aib keluaga. Dalam posisi ini, walaupun dirasakan sangat terpaksa isteri memilih diam.

Jika melihat konteks awal bahwa tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan pergaulan yang harmonis, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasmun (2010) bahwa dalam keluarga itu  (pernikahan) akan terbentuk hubungan yang harmonis di antaranya yaitu :

(a) Memberikan Rasa Aman.

Dalam suatu keluarga, pasangan suami istri harus saling memberi dan merasa aman secara lahir dan batin. Dengan adanya rasa aman pada pasangan suami istri maka goncangan, godaan dan bahaya yang ada dalam keluarga akan dapat teratasi dengan baik.

Hal ini tidak hanya terdapat suami istri saja tetapi juga memberikan rasa aman terhadap anak sehingga anak merasa terlindungi.

(b) Saling Memiliki. Sebuah keluarga harus merasa saling memiliki sehingga ikatan batin yang kuat akan tercipta, sebab dengan perasaan saling memiliki pula sebuah keluarga akan merasa kehilangan dan sedih jika salah satu dari keluarga dalam keadaan susah atau tidak ada bersamanya.

(c) Saling Menghargai. Keluarga merupakan perpaduan antara ayah dan ibu yang tercipta dari dua keluarga yang berbeda pula. Dengan demikian, perbedaan bisa saja terjadi kapan saja dan dalam hal apa saja. Tetapi dengan perasaan saling menghargai satu sama lain, perbedaan-perbedaan tersebut akan menjadi sebuah pengalaman baru dalam hidup satu sama lain sehingga keluarga bahagiapun akan tercipta.

(d) Kasih Sayang. Manusia membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya, terutama keluarga. Karena itu, siapapun dia pasti membutuhkan kasih sayang baik berupa pujian, perhatian maupun perlakuan-perlakuan lain yang nampak sepele seperti senyuman. Setiap anggota keluarga perlu memberikan kasih sayang dalam bentuk apapun sebuah keluarga menjadi keluarga yang damai dan tentram.

Baca Juga :   Khilafah Tidak Hanya Sebatas "Khalifah"

(e) Saling Percaya. Memberikan kepercayaan kepada suami, istri ataupun anak tentu akan sangat membantu sebuah keluarga dalam menjadi rumah tangga yang harmonis. Selain itu, mempercayai anak dengan segala kemampuanya akan membantu anak dalam pencapaian jati diri yang positif sehingga anak tidak akan merasa jadi orang lain dan merasa tertekan di dalam keluarganya sendiri. Selain itu, saling percaya antara suami istri akan meringankan beban suami atau istri dalam menjalani kehidupan rumah tangganya karena mereka saling berfikir positif. Namun hendaklah setiap kepercayaan tersebut dapat di maknai dengan penuh tanggung jawab sehingga tidak aka nada saling memanfaatkan satu sama lain.

Menurut Gunarsah (2008), keluarga yang bahagia jika  seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan berkurangnya ketegangan, kekecewaan, dan puas terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri) yang meliputi aspek fisik, mental, emosi, dan sosial. Sedangkan keluarga yang tidak bahagia salah salah anggita keluarganya dirundung dengan berbagai ketegangan, kekecewaan dan tidak pernah merasa puas dan bahagia terhadap keadaan serta keberadaan dirinya di dalam keluarga tersebut.

Idealnya perkawinan harus diperhatahankan romantismenya sampai lanjut usia, sebab dalam konteks Islam bahwa asas perkawinan itu satu kali dalam seumur hidup. Dalam Islam juga mengandung asas monogami yaitu seorang laki-laki hanya boleh berpasangan dengan seorang wanita demikian pula sebaliknya. Jika ada teks perkawinan poligami dikecualikan apabila  terpenuhi syarat-syaratnya yang sangat ketat. Prinsipnya dalam Islam mengandung  asas monogami.

Tujuan utama yang harus dipertahankan adalah hubungan romantisme antara suami isteri, namun siklus romantisme dalam perkawinan akan pudar disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut (1) Bertambahnya usia sehingga bentuk fisik mengalami perubahan, (2) Adanya kejenuhan (3) Karena pengaruh lingkungan dan pergaulan (4) Timbulnya kesibukan-kesibukan yang menyebabkan tersitanya waktu untuk memadu kasih dan peluang romantisme menjadi berkurang.

Namun demikian, menghilangnya romantisme ini bukan berarti tidak dapat dicegah. Romantisme dalam perkawinan akan memudar sejalan dengan waktu yang dilalui, akan tetapi jika romantisme itu dijaga dan dipelihara dengan baik, ia dapat tumbuh dan berkembang dengan suburnya perkawinan. Syarat untuk itu adalah adanya tanggung jawab dan adanya kerelaan yang harus dipertahankan dalam hati kedua belah pihak (Pasangan suami isteri). Tanggung jawab merupakan bagian terpenting dalam memperhatahankan kebagaiaan dan romantisme dalam hubungan suami isteri.

Yang mesti disadari oleh masing-masing pasangan suami isteri bahwa setiap suami isteri harus merasa terikat oleh masing-masing pasangan. Suami merasa terikat oleh kehendak isteri demikian pula isteri harus merasa terikat dengan kehendak suami. Justru nikmat dan bahagianya kehidupan rumah tangga apabila masing-masing saling merasa memperhatikan saling terikat.

Dengan tanggung jawab yang disadari oleh masing-masing pasangan suami isteri maka kasih sayang akan mengikat mereka sehingga bentuk kekerasan apapun akan bisa diatasi dengan cinta dan kasih sayang.

Wallau ‘Alamu Bisshowab

TINGGALKAN KOMENTAR

eighteen + 2 =