Kegelapan Malam di Perahu Retak

Kegelapan Malam di Perahu Retak

0
BAGIKAN

Oleh: Fathoni (Pengajar Logika Fakultas Hukum Universitas Lampung)

Syahdan di suatu negeri, negeri yang tiap hari disinari Mentari, negeri hangat yang diminati orang-orang dari luar negeri. Di negeri itu berdiri beberapa bangunan tempat manusia belajar, ada yang berstatus partikelir, sebagian berstatus negeri. Di negeri itu tempat belajarnya disebut sekolah dan kampus. Strata pendidikannya berjenjang-jenjang, bersusun rapi secara sistemik. Tidak boleh ada yang menempuh suatu lapisan sekolah sebelum menempuh lapisan sekolah di bawahnya. Mulai dari taman bermain, sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama dan lanjutan atas, sampai dunia kampus, bagai lapis legit tersusun simetris dan manis. Bahkan, ada yang menyebut bahwa sekolah di negeri itu: Bagaikan CANDU.

Di sekolah tinggi—negeri ini menyebutnya perguruan tinggi–, pun tersusun beberapa lapis. Strata 1, strata 2, strata 3, mungkin ada strata lain lagi. Atau post strata, ultra post strata, entah apalagi. Pada stupanya, puncak strata, negeri itu memberikan gelar doktor, bahkan
yang tidak doktor pun berlomba mendapatkan doktor kehormatan. Honoris causa namanya. Bahkan, konon di negeri itu ada “professor honoris causa”. Ada yang memang honor betulan, terhormat betulan karena prestasinya ataupun pengabdiannya pada ilmu pengetahuan, namun ada juga yang karena kepentingan politis, baik politik praktis, maupun politik yang tidak
praktis sama sekali. Pokoknya semua berlapis-lapis, mungkin honoris causa tadi semacam toping-nya dari kue bernama strata tadi.

Konon juga, perguruan tinggi negeri di negeri itu dipimpin oleh akademisi yang mumpuni. Yang professor doktor yang dipilih dengan mekanisme yang sangat akademik. Campur tangan politik tidak ada sama sekali, atau mungkin sulit dibuktikan. Di negeri itu, moral sangat dijunjung tinggi, hingga siapa saja yang melakukan kejahatan ataupun pelanggaran akan dianggap sebagai “cacat moral”-nya. Syarat menjadi manusia di negeri itu sangat ketat. Pedoman salah satunya adalah adagium “Cogito Ergo Sum”. Saya sadar, maka saya ada. Hanya orang sadar yang diakui sebagai manusia. Prasyarat supaya seseorang “genap” dikategorikan sebagai manusia di negeri yang konon menjunjung tinggi moralitas itu teramat sangat ketat. Paling tidak, ia harus bisa memelihara tiga hal sekaligus secara kumulatif: (1) menjaga nyawa. Jangankan membunuh, membahayakan nyawa diri sendiri dan orang lain saja, di negeri itu sudah kurang syarat menjadi manusia. Nyawa begitu berharga di negeri itu. Manusia di negeri itu sangat menjaga nyawa, meniru Tuhan yang menjaga setiap nafas, bahkan tiap tetes embun yang IA tampung pada selembar daun. Membunuh di negeri itu dikategorikan sebagai jahat pangkat dua, jahat kuadrat; (2) menjaga harta. Di negeri itu, konon setiap orang saling menjaga harta. Tidak boleh ada orang yang mengambil harta orang lain tanpa hak. Jangankan banyak, sedikit saja dilarang, apalagi yang diambil, dicuri adalah hartanya rakyat. Negeri itu menyebutnya kejahatan luar biasa. Jahat fauqol jahat. Jahatnya jahat, jahat pangkat tiga; (3) menjaga kehormatan. Kehormatan seseorang begitu dijaga di negeri itu. Jangan menghina orang lain, buka baju di depan umum sangat tabu di negeri itu. Buka baju hanya boleh di lakukan di kamar mandi atau kamar tidur saat gelap. Bahkan, jangankan mengolok-olok seseorang, cemberut saja dapat dikualifikasikan sebagai “perbuatan tidak menyenangkan”.

Baca Juga :   Naksir Seseorang yang Sama dengan Sahabat, Harus Bagaimana?

Alkisah, di negeri itu, negeri yang moral begitu dijunjung tinggi tersebut, negeri dimana etika disunggi diatas kepala, terjadi prahara. Musibah yang terjadi untuk kali pertama. Mengambil ungkapan seorang kolega, sejak zaman prasejarah, kejadian seperti ini belum pernah terjadi. Perguruan tinggi diduga terlibat korupsi. Tersingkap sudah aurat Pendidikan di negeri itu.

Bikin malu hampir semua penghuninya: tentu saja yang masih punya rasa malu. Sehingga menarik apa yang ditulis oleh begawan, akademisi cum filsuf, Prof. Dr. Sudjarwo yang dimuat di laman https://www.teraslampung.com/aku-datang-cuci-tangan-terus-pulang/ tentang prahara itu. Tulisan tentang beberapa orang yang dikategorikan memiliki
“ketidakpatutan tingkat dewa”, di tengah prahara yang terjadi di salah satu perguruan tinggi di negeri itu. Yaitu sekelompok orang dalam lingkaran yang tidak memiliki rasa tanggung jawab kolektif dalam menyikapi prahara tersebut. Mestinya, sekelompok orang itu memberi
kesempatan kepada yang lain “di luar lingkaran” untuk mengobati penyakit yang sedang terjadi. “Dugaan” beliau, sang Begawan itu, bisa saja meleset. Mungkin sekali tidak akurat. Tapi bisa jadi juga pas, tergantung dari sisi mana kita menilainya. Dalam kegelapan, segala
sesuatu bisa terjadi. Seorang teman bisa menginjak kaki kawannya. Seorang anak bisa kena sikut ayahnya. Apalagi, kegelapan di malam hari, saat badai di perahu yang retak. Seorang murid yang hendak memberi secangkir kopi, malah menumpahkan kopi itu ke muka gurunya.

Baca Juga :   Banten Feminist in Western Education 1895-1929

TINGGALKAN KOMENTAR

18 + fourteen =