Guru di Era Millenial dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Menurut Perspektif Islam

Guru di Era Millenial dalam Pembinaan Akhlak Peserta Didik Menurut Perspektif Islam

0
BAGIKAN
Penulis bernama Ayu Lestari sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, UNTIRTA, BANTEN.
Ayu Lestari

Guru merupakan figur sentral dalam proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dan merupakan profesi yang menghasilkan generasi penerus yang berkualitas, karena dari gurulah seorang individu mampu tumbuh dan berkembang baik intelektual maupun moralitasnya. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal dan membangun pertumbuhan yang dapat menunjang perkembangan peserta didik. Dengan demikian, guru harus memiliki modal dasar yaitu harus melaksanakan 4 kompetensi diantaranya : kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional untuk membangun pendidikan yang berkualitas. Guru harus mampu berkembang dan menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat, bangsa dan Negara, dan salah satu wujud pengembangan itu adalah dari prilaku seorang guru. Perilaku guru merupakan perilaku professional yang memenuhi syarat tertentu berupa kode etik profesi sesuai suatu norma atau aturan tata susila yang mengatur tingkah laku guru. Selain itu, guru juga harus memiliki etika dalam menjalankan tugas, agar ia mampu menghadapi peserta didiknya dan harus memiliki nilai dan moral terutama dalam mengembangkan profesinya. Karena sudah diketahui bahwa guru adalah cerminan bagi murid-muridnya, akhlak seorang murid sangat dipengaruhi oleh didikan seorang guru terlebih lagi dalam pembinaan akhlak.

Era millenial, demikian istilah yang sekarang ini melanda generasi anak yang lahir dalam rentan tahun 1980-an hingga 2000-an. Istilah yang popular menggantikan istilah generasi Y (Gen Y). Ya, merekalah generasi muda masa kini yang berada pada usia 15-34 tahun. Tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi dan komunikasi tentu saja menjadikan anak-anak muda ini mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas diri yang unik. Pew Research Center menyebutkan bahwa ada karakter yang sangat mencolok dari generasi millinial jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni kehidupan mereka yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan budaya pop.

Perkembangan teknologi dan informasi dianggap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan generasi millenial. Bahkan, bisa dikatakan alat-alat high technology telah menjadi bagian pokok dari kehidupannya. Tidak sebatas itu, generasi millenial juga kebanyakan menggandalkan kecepatan yang serba instan, sehingga real time menjadi prasyarat utama bagi generasi ini. Bukan tanpa masalah, jika ini terus menerus terjadi maka yang akan terjadi adalah banyak anak muda yang acuh terhadap kehidupan sosial. Bahkan, hal ini akan bertendensi pada pembinaan akhlak peserta didik yang kurang menyukai komunikasi verbal langsung, bersikap individualis dan egosentris, ingin hasil yang instan, serba mudah, serta tidak mampu menghargai proses.

Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi millenial saat ini tengah memasuki pendidikan menengah atas dan tinggi. Namun, implikasinya benar-benar sangat terasa, banyak guru yang kemudian merasa ‘galau’ dalam menanggapi perkembangan generasi yang satu ini. Disatu sisi banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi, namun sisi lainnya mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalahgunakan.

Baca Juga :   Untirta Launching UKM PSQ Tepat Pada Nuzulul Qur'an

Kondisi peserta didik yang demikian, tentunya diperlukan guru yang benar-benar mampu untuk membimbing dan mengarahkan agar mereka mampu memfilter hal-hal yang kurang sesuai. Dengan demikian tanggung jawab guru pada era milenial semakin kompleks, sehingga menuntut guru tidak hanya kemampuan profesional tetapi juga harus memiliki nilai-nilai yang mampu membentuk watak dan pribadi peserta didiknya dalam menghadapi dunianya.

Islam adalah rahmatan lil alamin, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW menurut tafsir dari surat al-Anbiya (21) ayat 107 yang artinya; “Tidaklah aku diutus melainkan untuk membawa rahmat bagi seluruh alam”. Bukti bahwa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam adalah dengan diutusnya seorang Rasul dan diturunkannya Al-Quran, keduanya tidak lain dan tidak bukan diturunkan agar membantu manusia dalam menjawab berbagai masalah yang tidak dapat dijawab oleh akal pikiran.

Sebagai rahmat bagi seluruh alam, Islam dengan jelas mengatur semua tata kehidupan umat manusia. Islam mengatur secara jelas yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan akhlak di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Apalagi mengenai pendidikan yang didalamnya terdapat pembinaan akhlak bagi peserta didik.

Kepribadian Nabi Muhammad SAW yang merupakan cerminan dari Al-Quran, tentu saja menjadi rahmat bagi umat manusia yang dapat meneladani, memahami, menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu bagi orang yang berakhlak dengan akhlak seperti Rasulullah. Berkaitan dengan ini terdapat beragam perilaku yang ditampilkan pengikutnya guna meneladani Nabi Muhammad SAW yang harus ditterapkan oleh kita terkhusus untuk peserta didik.

Didalam Islam, guru merupakan profesi yang mulia, karena pendidikan adalah salah satu tema sentral dalam Islam. Guru bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus pendidik. Seorang guru bukan hanya memiliki kualifikasi keilmuan dan akademis saja, tetapi yang lebih penting harus terpuji akhlaknya. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja tetapi yang lebih penting membentuk watak dan pribadi peserta didik dengan akhlak dan ajaran Islam yang syumul ini.

Oleh karena itu, sebagai seorang guru yang juga sebagi seorang pendidik, haruslah menerapkan ajaran-ajaran Islam di setiap proses pembelajaran, yaitu dengan pembinaan akhlak Islam yang diarahkan kepada pengembangan pribadi manusia untuk memperkuat rasa hormat kepada hak asasi manusia dan kebebasan mendasar. Serta perlunya kemajuan pemahaman, toleransi, dan persahabatan antara bangsa, ras, atau kelompok agama, dan akan memajukan aktivitas Perserikatan Bangsa-bangsa untuk memelihara perdamaian.

Baca Juga :   KHABIB, BRUTALISME DAN KELEMBUTAN

Pembinaan akhlak erat kaitannya dengan pengembangan spiritual agama pesera didik, guru harus memiliki ilmu keagamaan yang luas dan mendalam disertai sikap dan kepribadian yang mulia, taat beribadah, tawadhu, peduli pada masalah sosial kemasyarakatan, juga memiliki wawasan pengetahuan umum. Peserta didik dengan kondisi psikologis yang masih labil serta mengingat generasi milenial tersebut, mereka memerlukan figur yang bisa diteladani, dan guru sudah selayaknya mampu menjadi tokoh yang teladan untuk diikuti baik ucapan maupun prilakunya.

Selain itu, memasukan materi pelajaran tentang toleransi beragama dan pluralisme sebagaimana yang terdapat dalam llmu perbandingan agama. Melalui ilmu perbandingan agama ini ditegaskan, bahwa perbedaan agama harus dilihat sebagai sebuah keniscayaan atau sunnatullah, yakni atas kehendak Allah SWT. Karena Allah SWT, tidak memaksakan suatu agama kepada umat manusia, justru Ia mempersilakan masing-masing umat manusia menjalankan agamanya dengan baik, dan jangan bertengkar, saling menolong, menyayangi, berbagi, bersahabat, dan lainnya atas dasar kasih sayang dan kemanusiaan. Dengan kata lain, bahwa kasih sayang dan kemanusiaan harus berada di atas semua penganut agama.

Sebagai pendidik generasi millenial, guru harus meningkatkan kualitas sumber daya yang dimiliki sesuai dengan tuntutan zaman untuk menghadapi peserta didik zaman sekarang. Guru harus menguasai teknologi komunikasi dan informasi, sehingga ketika menghadapi peserta didik menjadi “nyambung”, sehingga mereka termotivasi dan terinspirasi untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya. Guru juga harus memiliki kemampuan pemahaman dan pendalaman secara kritis dalam dialektik. Guru harus bisa memahami semua persolan yang muncul di sekitar pada era sekarang ini, dan didiskusikan bersama peserta didik secara baik dan akomodatif terhadap beragam pemikiran serta menarik kesimpulan yang komprehensif serta mudah dipahami peserta didik.

Berdasarkan uraian dan paparan di atas, dapat dikemukakan bahwa pembinaan akhlak menurut perspektif Islam merupakan salah satu model pendidikan yang paling tepat dalam menghadapi era millenial, karena dengan model pendidikan yang demikian, selain dapat menjawab berbagai tantangan yang ditimbulkan dari informasi yang bebas lalu merubahnya menjadi peluang, serta tidak menghilangkan identitasnya sebagai seorang pendidik yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik juga mengajarkan akhlak sebagaimana tujuan pendidikan yang dicanangkan pemerintah. Dalam model pendidikan yang demikian tentunya guru perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki akhlak dan kompetensinya, sehingga menjadi figur yang menginspirasi peserta didiknya.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

2 × 3 =