DAMPAK TURUNNYA UTANG LUAR NEGERI TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

DAMPAK TURUNNYA UTANG LUAR NEGERI TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

0
BAGIKAN

Oleh : Nadila (Mahasiswi Ilmu Ekonomi Pembangunan Untirta)

Bantuan utang luar negeri terhadap pihak pemerintah maupun swasta akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Negara-negara berkembang memanfaatkan utang luar negeri untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya, dengan adanya hal tersebut maka kapasitas suatu negara dalam melunasi hutang luar negeri di masa yang akan datang harus diperhitungkan sebelum negara tersebut menerima bantuan dari negara lain.

Tingginya utang luar negeri disebabkan oleh tingginya defisit neraca perdagangan. Semakin rendah nilai ekspor dan tingginya nilai impor maka akan berdampak pada bertambahnya utang luar negeri, yang membuat negara tersebut kesulitan dalam melunasi hutangnya.

Indonesia sebagai negara yang berkembang, memiliki tujuan dalam mewujudkan program-program pembangunan untuk kemakmuran nasional. Namun, pemerintah mengalami keterbatasan modal untuk pembiayaan pembangunan karena adanya kesenjangan penerimaan dan pengeluaran atau defisit anggaran pembangunan.

Dengan demikian pemerintah menerapkan kebijakan utang luar negeri dan investasi asing. Dengan melakukan pinjaman ke luar negeri diharapkan dapat memperbaiki dan menambah nilai investasi pembangunan Indonesia.

Utang luar negeri dapat mengatasi masalah krisis ekonomi nasional, sehingga laju pertumbuhan ekonomi semakin meningkat yang diikuti oleh cadangan devisa yang semakin meningkat. Utang luar negeri yang dilakukan pada setiap tahun akan menambah pengeluaran secara terus menerus jika tidak dibarengi dengan cadangan devisa.

Modal pemerintah dalam pembangunan melalui utang luar negeri juga dapat berdampak pada konsumsi agregat sehingga dapat mempengaruhi harga-harga yang ada didalam negeri yaitu terjadinya inflasi.

Baca Juga :   MENELISIK RENDAHNYA REALISASI DAK FISIK TAHAP I 2022 DI BANTEN *

Utang luar negeri Indonesia terdiri dari; utang luar negeri pemerintah, bank sentralĀ  dan swasta. Menurut data yang diambil dari Bank Indonesia, pada akhir bulan Oktober 2022 jumlah utang luar negeri sebesar 390,2 miliar dolar AS, dibandingkan dengan bulan September yaitu sebesar 395,2 miliar dolar AS. Hal ini disebabkan oleh penurunan utang luar negeri pada sektor publik. Kemudian utang luar negeri dalam jangka pendek, pada bulan Oktober 2022 yaitu sebesar 50,238 juta dolar AS mengalami penurunan karena pada bulan September utang luar negeri sebesar 50,337 juta dolar AS.

Sedangkan Utang Luar Negeri dalam jangka panjang yaitu sebesar 339,937 juta dolar AS pada bulan Oktober dan di bulan September sebesar 344,788 juta dolar AS.

Tentunya dengan adanya penurunan utang luar negeri RI ini berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia mampu mengendalikan hutang luar negeri tersebut secara signifikan. Pemerintah telah berkomitmen dalam menjaga kredebilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu.

Menurut data yang diperoleh dari Bank Indonesia utang luar negeri pemerintah dapat terkendali karena hampir seluruhnya merupakan utang luar negeri jangka panjang dengan pangsa 99,9% dari total utang luar negeri pemerintah. Sedangkan utang luar negeri swasta menurun sebesar 202,2 miliar dolar AS pada Oktober 2022 dari 204,7 miliar dolar AS pada September 2022. Utang luar negeri swasta secara tahunan menurun 3%.

Baca Juga :   Pemanfaatan Limbah Plastik Dengan Metode Ecobrick Dalam APE (Alat Permainan Edukatif) Sebagai Usaha Perubahan Lingkungan Dimasa Pandemi

Dengan demikian utang luar negeri Indonesia ditahun 2020 tetap terkendali dengan baik, yang dapat terlihat dari rasio utang luar negeri Indonesia terdahap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sekitar 29,6%, jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu sebesar 30,1%.

Untuk menjaga utang luar negeri RI agar tetap stabil yaitu dengan adanya surplus produksi oleh pertumbuhan PDB yang akan mendorong naiknya ekspor, dengan demikian cadangan devisa akan bertambah dan dapat melunasi hutang luar negeri. Kemudian pemerintah dapat mengendalikan defisit anggaran, dan mengurangi impor dalam hal ini perlu adanya pengurangan dalam beban subsidi energi yang dari hasilnya dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur energi alternatif, dengan demikian dapat mengurangi impor minyak mentah dan BBM.

Hal tersebut perlu dilakukan karena pengurangan impor akan berdampak pada berkurangnya utang luar negeri RI pada jangka waktu panjang. Pengelolaan investasi yang baik juga diperlukan untuk bisa masuk pada industri pendukung yang mengahasilkan barang dan modal, sehingga impor barang modal akan berkurang.

Pemerintah dalam membayar utang luar negeri berasal dari beberapa sumber, yakni pendapatan pajak dan hasil ekspor, dengan demikian upaya dalam mendorong ekspor yang akan menghasilkan devisa serta mendorong pemasukan dari pajak yang dilakukan oleh pemeintah merupakan hal yang paling penting. Sedangkan pihak swasta dapat membayar utang luar negeri dengan cara meningkatkan kinerja mereka

TINGGALKAN KOMENTAR

two × 2 =