Citayam Fashion Week dan Gerakan Ekonomi Kaum Marjinal

Citayam Fashion Week dan Gerakan Ekonomi Kaum Marjinal

0
BAGIKAN

Oleh : Muhammad Nur (KPPN Banda aceh)

Citayam Fashion Week heboh dan viral dalam berbagai platform media, baik media sosial maupun media massa. Tren baru yang membuat kita mungkin berdecak kagum, remaja-remaja dari kawasan penyangga yang menyebut diri mereka SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok) kini seolah “menjajah” salah satu kawasan elite ibukota, yaitu di seputar jalan Sudirman-Thamrin. Sebuah kawasan yang dahulunya mungkin dianggap hanya boleh dilintasi oleh para pekerja kantoran dan eksekutif dari gedung-gedung pencakar langit Jakarta itu. Sudirman-Thamrin memang terkenal sebagai salah satu pusat bisnis di Jakarta. Sebuah kawasan dimana berbagai perusahaan menjalankan manajemennya dan memutar roda ekonomi nasional, bahkan dunia. Kawasan elite ini dahulunya memang seperti tidak ramah terhadap kaum marjinal. Namun seiring dengan membaiknya moda transportasi massa di ibukota, kawasan ini pun menjadi relatif lebih mudah dijangkau oleh semua kalangan.

Citayam Fashion Week, yang dipelopori oleh remaja-remaja kreatif kini menjadi semakin viral ketika beberapa tokoh dan artis ibukota tak mau kalah dengan tren ini dan kemudian ikut meramaikan ajang ini. Sebut saja Paula Verhoeven istri Baim Wong, ikutan mejeng dengan salah satu ikon Citayam Fashion Week, yaitu Bonge. Tak ketinggalan Rina Nose, Kiki Saputri, Zaskia Sungkar, Afdhal Yusman, Nikta Mirzani, dan sederet selebritas tanah air ikut meramaikan ajang ini (wolipop.detik.com, 26 Juli 2022). Bahkan, tokoh seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau Kang Emil juga tidak mau kalah, dengan ikut menjadi model di gelaran Citayam Fashion Week (hot.liputan6.com, 21 Juli 2022). Kang Emil ikut “berlaga” di ajang ini bersama para driver ojek online (Ojol). Tidak ketinggalan pula, sang Gubernur DKI Jakarta anies Baswedan bersama beberapa tokoh penting seperti EU ambassador dan Vice President of The European Investment (suara.com, 21 Juli 2022). “Invasi” para artis dan tokoh ini kemudian juga memunculkan berbagai reaksi dari beberapa pihak, baik reaksi positif maupun negatif.

Yang cukup menghebohkan adalah berita mengenai peristiwa rebutan merk Citayam Fashion Week antara Baim Wong dan Indigo, yang ingin mendaftarkan hak merk Citayam Fashion Week ke Dirjen HAKI Kemenkumham (liputan6.com, 26 Juli 2022). Belakangan diketahui bahwa kedua pihak ini sudah mencabut pendaftaran hak merk tersebut. Di sisi lain, banyak pula pihak yang menentang pendaftaran merk tersebut. Salah satu yang cukup viral adalah sindiran Ridwan Kamil kepada Baim Wong. Kang Emil menyatakan bahwa Citayam Fashion Week adalah gerakan organik akar rumput yang tumbuh kembangnya harus natural dan organik pula (cnbcindonesia.com, 25 Juli 2022). Aksi protes juga dilayangkan oleh para pelopor Citayam Fashion Week itu sendiri. Mereka menggelar poster berisikan nada ketidaksetujuan pendaftaran Citayam Fashion Week ke dirjen HAKI (republika.co.id, 26 Juli 2022). Salah satu poster bertuliskan “created by the poor stolen by the rich”.

Namun demikian, fenomena SCBD versi baru dengan Citayam Fashion Week-nya ternyata membawa berkah bagi banyak pihak. Toko-toko kelontong di seputaran kawasan itu dikatakan dapat meraih peningkatan keuntungan hingga 300% (celebritis.id, 24 Juli 2022), dan bahkan ada yang mencapai omset hingga Rp. 4 juta per harinya (inews.id, 22 Juli 2022). Tidak hanya para pedagang, sang artis dadakan Citayam Fashion Week seperti Roy, Bonge, dan Jeje juga ketiban rejeki. Bonge mengatakan, dari popularitasnya tersebut ia bisa membeli HP, motor, dan barang-barang lainnya (pikiran-rakyat.com, 26 Juli 2022). Remaja-remaja di gelaran Citayam Fashion Week bahkan bisa memperoleh tambahan rejeki hingga ratusan ribu per harinya (tribunnews.com, 19 Juli 2022). Sementara itu, pedagang kaki lima seperti tukang kopi keliling atau yang akrab disebut Starling (Starbuck keliling) juga ikut ketiban rejeki. Mereka bisa memperoleh penghasilan hingga lebih dari Rp. 500 ribu per harinya (bogor.suara.com, 21 Juli 2022).

Baca Juga :   Naksir Seseorang yang Sama dengan Sahabat, Harus Bagaimana?

Lalu, apakah hanya itu saja? Apakah hanya para pedagang di sekitaran kawasan itu saja yang mendapat kenaikan keuntungan berlipat ganda? Jika kita telaah lebih lanjut, kemungkinan perputaran roda ekonomi sebagai dampak dari pagelaran Citayam Fashion Week juga merambah ke banyak sektor lainnya. Sektor transportasi misalnya, angkutan umum dan moda transportasi massal seperti KRL juga mengalami kenaikan berkisar 8% atau sekira 10.089 orang akibat pagelaran ini (bisnis.tempo.co, 24 Juli 2022). Dari sektor perdagangan, UMKM seperti toko-toko pakaian tentu juga kebagian rejeki. Toko pakaian yang selama ini mungkin hanya ramai di waktu-waktu tertentu seperti menjelang hari raya, bisa saja naik omset penjualannya dengan adanya anak-anak muda yang tampil modis dan percaya diri di Citayam Fashion Week dengan outfit ala indie. Seorang peserta mengatakan bahwa outfit-nya memang tidak mahal dan mewah, hanya berkisar Rp. 20 ribu hingga Rp. 50 ribu saja per itemnya (viva.co.id, 19 Juli 2022). Maka, gelaran Citayam Fashion Week juga turut menghadirkan peluang bisnis baru, seperti usaha kopi starling, usaha thrift shop, jasa fotografi, aksesoris fashion, hingga penjualan makanan ringan (store.sirclo.com,
25 Juli 2022).

Baca Juga :   Al-Qur'an, Ramadan, dan Pesan Kemanusiaan

Antusiasme masyarakat untuk ikut ambil bagian, membuat konten media sosial, atau mungkin hanya ingin merasakan suasana Citayam Fashion Week telah meningkatkan pergerakan ekonomi rakyat, terutama pada level bawah. Kaum marjinal yang saat ini sudah berani dan tidak lagi malu unjuk kreativitas di kawasan elite ibukota ikut menjadi magnet penggerak roda ekonomi itu. Maka tidak bisa dipungkiri, sekecil apapun kontribusi para remaja kaum marjinal ini, mereka telah ikut menjadi bagian dari bangkitnya perekonomian nasional pasca pandemi ini.

Maka ketika ada pihak yang protes dengan kisruh rencana pendaftaran merk Citayam Fashion Week ke Dirjen HAKI Kemenkumkan oleh beberapa pihak (yang mungkin saja bukan bagian asli dari pelopor gelaran ini), muncul kalimat “created by the poor stolen by the rich”. Sebuah frase yang seolah menyindir perilaku para borjuis, yang lagi-lagi mengambil alih hak kaum marjinal di ibukota.

Disclaimer: artikel ini hanyalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi tempat penulis bekerja saat ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

ten + 1 =