Catatan Akhir Tahun KAMMI Serang: Refleksi dan Kaleidoskop Gerakan 2021

Catatan Akhir Tahun KAMMI Serang: Refleksi dan Kaleidoskop Gerakan 2021

0
BAGIKAN

Oleh: Aldi Agus Setiawan
Ketua Umum KAMMI Serang

Prolog

Tahun 2021 dalam hitungan jam akan bergegas pergi dan digantikan dengan tahun 2022. Hal ini, perihal pergantian tahun mesti selalu menjadi refleksi bagi kita semua, bahwa waktu dan era akan terus berlari, bukan lagi berjalan dan tidak ada yang bisa menjeda itu. Maka, ungkapan Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (w. 1111 M) dapat menjadi referensi, dalam magnum opus-nya, Ihya Ulumuddin tepatnya pada kitab Khuluq al-Muslim menyampaikan kepada para muridnya akan dua dari enam hal. Pertama, tentang apa yang paling dekat dan kedua tentang apa yang paling jauh dengan kita. Imam al-Ghazali menjawab; yang paling dekat adalah kematian dan paling jauh adalah waktu yang telah berlalu. Tidak heran, sebagian sejarawan mengungkapkan salah satu energi besar yang dimiliki oleh pemimpin atau tokoh sentral muslim dalam kepemimpinannya dari masa ke masa adalah memulai semuanya dari akhir, start from the end. Mengetahui dan berpikir bahwa kematian adalah pasti dan waktu yang telah berlalu itu tidak dapat kembali, hal demikian merupakan salah-dua yang patut kita refleksikan.

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau populer dengan sapaan Buya Hamka menuliskan dalam Tafsir al-Azhar (1963) yang mengutip Muhammad Abduh tentang Surat al-Ashr, bahwa telah menjadi kebiasaan bagi bangsa Arab apabila hari telah sore, mereka duduk bercakap-cakap membicarakan soal-soal kehidupan dan cerita-cerita lain yang berkenaan dengan urusan sehari-hari. Karena banyak percakapan yang melantur, kerap terjadi pertengkaran, bersakit-sakitan hati sehingga menimbulkan permusuhan dan akhirnya banyak yang mengutuki waktu Ashar. Padahal yang salah adalah manusia-manusia yang mempergunakan waktu itu dengan tidak optimal. Mempergunakan untuk bercakap-cakap yang tidak tentu ujung pangkalnya; bermegah-megahan harta, memuji diri, menghina dan merendahkan orang lain, akhirnya timbullah sengketa.

“Masa” dijadikan predikat sumpah oleh Allah swt. pada Surat al-Ashr tersebut agar diperhatikan manusia dan tidak disia-siakan atau diabaikan, seperti sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan at-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Abbas, “dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan dan waktu senggang”. Untuk tidak berada dalam lingkaran kerugian tersebut, Allah mengabarkan empat kriteria tersebut dalam Surat al-Ashr ayat ketiga; iman yang dilandasi dengan ilmu, beramal saleh, berdakwah kepada Allah dan bersabar dalam dakwah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam kitab Taisir al-Karimir Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan (1997), “dua hal yang pertama (iman dan amal saleh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar.”

Tidak terlepas dari itu semua, seperti tahun-tahun sebelumnya, 2021 menjadi tahun yang juga menyimpan banyak peristiwa, hikmah dan pelajaran didalamnya. Tidak ada salahnya jika kita ber-muhasabah dengan tujuan memperbaiki apa yang belum baik dan mempertahankan kebaikan. Semoga kita dijauhkan dari segala macam tipu muslihat, fitnah dan perbuatan tercela.

Aktivisme Diujung Jari

Kamus Oxford mendefinisikan aktivisme –yang jika dialih bahasakan- sebagai kebijakan atau tindakan menggunakan kampanye yang giat untuk menciptakan perubahan politik atau perubahan sosial. Meski demikian, dunia aktivisme memang tidak hanya terkonversi dalam penekanan gerakan-gerakan politik dan parlemen jalanan saja. Lebih dari itu, dunia aktivisme kini memiliki wajah yang sekiranya agak berbeda, hal tersebut bisa jadi merupakan bentuk adaptif dari zaman yang juga mulai berubah. Kita mungkin bisa sedikit mengacu pada Teori Generasi yang dikemukakan oleh Graeme Codrington dan Sue Grand Marshall (2004), yang menyebut manusia dibedakan menjadi lima generasi berdasarkan tahun kelahirannya. Yaitu Generasi Baby Boomer (1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y (1981-1994), Generasi  Z (1995-2010) dan Generasi Alpha (2011-2025).

Generasi Y dan Z adalah generasi yang sedang berada pada titik produktifnya, kisaran mayoritasnya berusia 20-30 tahun. Keduanya sering diidentikan sebagai digital native, karena tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi yang pesat. Mungkin dengan alasan tersebut pula kedua generasi ini memiliki pola laku bersosialisasi yang cukup berbeda ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Relevan dengan apa yang diungkapkan oleh peneliti dari Harvard Law School, John Palfrey dan Urs Gasser dalam bukunya Born Digital: Understanding the First Generation of Digital Natives (2008), bahwa konsekuensi dari dunia yang serba digital adalah berubahnya banyak hal dalam kehidupan, mulai dari konsep identitas, privasi, penciptaan konten, hingga aktivisme.

Baca Juga :   Kontroversi Permendikbudristek 30/2021, KAMMI Serang Ambil Sikap

Tanpa upaya menegasikan generasi manapun, zeitgeist aktivisme dahulu mesti tetap dilestarikan, biar bagaimanapun aktivisme akarnya adalah dari “perlawanan”, walau instrumennya mungkin berbeda. Seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jejak Langkah (1985), novel ketiganya dari Tetralogi Buru, “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Disamping itu, jika meminjam istilah George Orwell, gerakan mahasiswa merupakan unsur dari kelompok penekan yang menjadi kontroler atas berjalannya kebijakan-kebijakan yang maslahat terhadap rakyat. Jadi, betapapun berubahnya dunia, melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan adalah mesti, walau dengan media serta instrumen yang berbeda dari perlawanan-perlawanan sebelumnya, apalagi aksesibilitas informasi kita sebagai sebuah potensi. Manuel Castel (2010) menuliskan, percepatan teknologi informasi terutama pada media social telah memberikan sarana yang luas bagi masyarakat untuk mengekspresikan sikap, baik itu dalam bentuk gerakan sosial baru maupun sebagai pengontrol terhadap perilaku atau arus. Hal ini oleh berbagai peneliti sering disebut sebagai aktivisme digital.

Kaleidoskop Gerakan

Seperti kehidupan dunia, dinamis dan seiring berjalannya waktu kian berubah. Begitu juga aktivisme, mesti beradaptasi dengan pergerakan zaman. Kalau dahulu lebih dominan kompetitif, kini harus didominasi kolaboratif yang proporsional. Untuk melakukan perubahan, semuanya harus terhubung dan terintegrasi. Hal inilah yang mendorong KAMMI Serang diawal kepengurusan menggagas Kota Serang dan Kabupaten Serang sebagai center of excellence, kota yang menjadi pusat keunggulan. Sebab, memandang Kota Serang dan Kabupaten Serang yang mulai disesaki dengan aktivitas intelektual dan bisa dilihat dari mulai menjamurnya kampus-kampus dan sarana pendidikan di Kota Serang maupun Kabupaten Serang yang notabenenya sebagai produsen intelektual. Oleh karenanya, kami berharap agar pemerintah hadir dan andil dalam proses penciptaan ekosistem ilmiah dan demokratis serta menjadikannya sebagai budaya, karena tidak dipungkiri bahwa bahan bakar utama dari aktivisme adalah intelektual.

Terlepas dari itu, salah satu catatan penting di akhir tahun 2021 KAMMI Serang adalah perihal kesejahteraan dan keadilan hak buruh. Biar bagaimanapun, buruh adalah elemen terpenting dalam perkembangan masyarakat industri. Khususnya Kabupaten Serang yang merupakan daerah dengan kawasan industri yang cukup besar dan terbagi menjadi dua Zona Industri. Yaitu Zona Industri Serang Barat yang terletak di Kecamatan Bojonegara, Pulo Ampel dan Kramatwatu dengan luas total 4.000 Ha dan Zona Industri Serang Timur yang terletak di Kecamatan Cikande, Kibin, Kragilan dan Jawilan dengan luas kawasan 1.115 Ha yang jika dijumlahkan keseluruhan perusahaan industri besar dan sedang di Kabupaten Serang tidak kurang dari 145 perusahaan.

Melihat data tersebut, menjadi ukuran betapa pemerintah agar memperhatikan buruh sebagai indikator perkembangan sebuah daerah. Tapi fakta yang terungkap masih jauh panggang dari api. Bisa dilihat dari aksi mogok kerja yang dilakukan oleh buruh PT Dharma Medipro di Cikande selama satu bulan, sekira sepanjang November 2021. Aksi tersebut terjadi lantaran tidak ditunaikannya hak para buruh, seperti gaji selama dua bulan (September-Oktober) yang belum dibayar, premi BPJS sejak Oktober 2019 hingga Oktober 2021 yang tidak disetorkan. Selain dari pada itu, uang cuti besar 5 tahunan belum diberikan 200%, sisa THR 2020 dan 2021 belum diumumkan sebesar 35% dan 40%, tunjangan tahun 2018 belum diterapkan 50%, tunjangan akhir tahun 2019 belum diumumkan 100% serta karyawan yang meninggal dunia tidak diberikan pesangon. Menyikapi hal tersebut agar tidak membutuhkan waktu yang lama, pemerintah dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati harus turun tangan langsung memberikan solusi dan berdialog bersama dengan perusahaan serta buruhnya.

Tidak kalah, demikian halnya di Kota Serang yang masih carut marut terkait keadilan dan penunaian hak buruh. Dugaan selisih hak lembur dan union busting (pemberangusan serikat buruh) yang dilakukan oleh PT Sumber Alfaria Trijaya menjadi preseden buruk. Pasalnya, ditemukan fakta bahwa terjadi proses mutasi yang tidak sesuai dengan peraturan perusahaan dan tidak mengedepankan keterbukaan yang dialami oleh salah satu pekerja yang juga merupakan pengurus serikat buruh Federasi Konstruksi Umum dan Informal (FKUI). Selain itu, diduga bahwa para buruh tidak ditunaikan hak upah lemburnya pada lebaran Iduladha 1442 H tanggal 20 Juli 2021 serta telah terjadi intruksi kerja hingga 15 (lima belas) jam sehari dalam satu pekan.

31 Juli 2021 menjadi momok menakutkan bagi sekiranya 400 buruh yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di gerai Giant Supermarket Kota Serang yang tergabung dalam PT Hero Supermarket, karena pihak manajemen berencana untuk menutup seluruh gerai Giant di Indonesia. Akibatnya, para buruh mendapati ketidakpastian keadilan dan kesejahteraan, terlebih di masa-masa sulit. Dan tidak ada tindakan cepat dan konkret dari pemerintah.

Baca Juga :   Pendidikan di Banten Memprihatinkan

Masih soal perburuhan, belum lama dan masih berlangsung hingga kini, agaknya menjadi penutup akhir tahun yang amat pedih. Pasalnya Gubernur Banten menandatangani Surat Keputusan terkait Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk tahun 2022 yang menjadi dasar penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota di Banten. Masalahnya, disaat kondisi perusahaan sudah mulai beroperasi dengan normal, kenaikan UMP di Banten tidak sampai 2%, bahkan beberapa daerah seperti Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang sama sekali tidak mengalami kenaikan. Terkait pertimbangan kenaikan UMP di Banten, Gubernur dan timnya memakai PP No. 36 Tahun 2021 Tentang Pengupahan yang merupakan regulasi dari UU No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja yang banyak ditolak oleh elemen buruh dan gerakan rakyat lain serta dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi. Lantaran hal tersebut, keberpihakan Pemerintah Provinsi Banten perlu dipertanyakan. Tidak sampai disitu, para buruh yang menuntut revisi kenaikan UMP dan berhasil menduduki Kantor Gubernur kemudian dilaporkan ke kepolisian atas tindakan pengerusakan fasilitas umum dan merampas marwah Gubernur, hingga kini laporan tersebut belum dicabut. Sikap Gubernur tersebut menunjukan arogansinya terhadap buruh yang notabene adalah rakyatnya sendiri, padahal buruh pada waktu itu hanya meminta berdialog.

Kedua, yang juga menjadi catatan penting adalah terkait Indeks Pembangunan Manusia yang masih jauh dari harapan. Kota Serang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Banten menduduki posisi keempat dari delapan kabupaten dan kota di Provinsi Banten dengan capaian 72,44 pada tahun 2021, hanya naik 0,39 dari tahun 2020. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan stakeholder terkait untuk meningkatkan IPM di Kota Serang menjadi lebih baik lagi. Jangan Tanya bagaimana capaian IPM Kabupaten Serang, anjlok.

Ketiga, tahun 2021 ada sekitar 1.700 guru honorer SD dan SMP serta sebanyak 209 operator sekolah yang tersebar di seluruh wilayah di Kota Serang, mereka menanti kejelasan status penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang akan menentukan nasib kesejahteraan para guru honorer tersebut, dan itu tak kunjung disikapi dengan cepat oleh pemerintah.

Masih banyak lagi catatan yang menjadi evaluasi pemerintah baik Kota atau Kabupaten Serang di berbagai sektor. Catatan-catatan diatas agaknya kadung terjadi dan perlu dibereskan oleh pemerintah di tahun-tahun berikutnya, agar dipilihnya mereka sebagai pemimpin benar-benar menjadi corong perbaikan bagi rakyat dan membantu kaum-kaum yang lemah dan dilemahkan. Sampai ada adagium yang cukup membuat pasrah, “kalian boleh memperkaya diri, tapi jangan memiskinkan kami.”

Epilog

Perubahan tahun menuju angka yang lebih besar menandakan perjalanan manusia semakin dekat menuju akhir kehidupannya di dunia. Tentu, apa-apa yang kita evaluasi dari eksternal diri kita itu berbanding lurus dengan kita juga harus mengevaluasi internal diri kita. Jika tiba waktunya, maka kita akan kembali kepada Allah swt., karena manusia berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Nasihat Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad patut kembali menjadi renungan bersama, ia menuliskan “di antara tanda diabaikannya seorang hamba oleh Allah adalah dibiarkannya hamba itu menyibukkan diri pada hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Dan sungguh bahwa berlalunya waktu dari umur seorang hamba yang digunakan untuk selain ibadah yang merupakan tujuan penciptaan, sepatutnya menjadi penyesalannya yang berkepanjangan.”

Zubair bin ‘Adi berkata, “kami pernah mendatangi Anas bin Malik r.a., untuk mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang ulah Al-Hajjaj (bin Yusuf). Maka beliau menjawab: “Bersabarlah kalian, sebab tidaklah kalian berada pada suatu zaman melainkan zaman setelahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian (hingga datangnya hari Akhir). Aku mendengar hal ini dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. al-Bukhari No. 7068).

Maka, tetaplah memperbaiki diri dan ajak orang lain, sebab setiap harinya, dunia akan melenakan kita dengan berbagai fasilitas tindak keburukan, hal tersebut bisa jadi adalah cara Allah untuk menguji kita agar menjadi al-Insan al-Kamil setelah bertahan melewati ujian tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

fourteen − 1 =