Budaya Baca-Tulis oleh Eko Supriatno

Budaya Baca-Tulis oleh Eko Supriatno

0
BAGIKAN

Oleh. Eko Supriatno
Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten

Banteninfo(Opini),- Di tengah hingar bingar “persoalan korupsi” dan hampir 73 tahun sudah bangsa ini merdeka. Namun demikian, standar dan kualitas hidup sebagian besar rakyat Indonesia masih jauh ketinggalan dari bangsa-bangsa di dunia termasuk negara di kawasan Asia. Jangankan dengan negara Eropa dan Amerika, dengan negara di Asia tenggarapun seperti singapura dan malaysia, kita kalah jauh.

Penulis berkeyakinan, kemajuan suatu bangsa bisa ditentukan melalui kegemaran dan semangat membaca masyarakatnya. Budaya baca dan komitmen membaca adalah cermin dasar dari kemajuan peradaban, sehingga perlu untuk terus dipupuk dan dikembangkan. Akan tetapi, tidak semua bangsa dan khususnya masyarakat Banten yang mampu menciptakan tradisi membaca itu sebagai bagian dari kesadaran hidupnya.

Masyarakat kita bahkan masih tetap kental dengan budaya lisan dan budaya telinga, yang pada gilirannya sudah barang tentu akan menjadi hambatan utama di dalam membangun masyarakat yang berperadaban tinggi ; dimana semangat membaca dapat dijadikan sebagai aktivitas hidup yang membanggakan.

Kata para orang tua atau guru kita, tonggak kemajuan peradaban dibangun dari tiga tiang utama. Membaca sebagai tiang pertama, menulis tiang kedua dan tiang ketiga adalah tradisi dialog. Ketiga tiang ini merupakan penyangga dalam membangun tahapan peradaban masa depan. Ujian ketangguhan seseorang dalam membentuk peradaban dari waktu ke waktu, sangat ditentukan oleh ketepatan dalam menempatkan ketiga tiang ini secara sinergis. Kemampuan menegakkan tiang ini dalam pelbagai dimensi kehidupan menjadi pertanda menentukan untuk melahirkan karya-karya peradaban yang bermakna.

Tiang demi tiang, jika ditegakkan dalam pencarian makna hidup melalui perjalanan waktu dengan proses berkesinambungan dan saling mendukung, akan memberi inspirasi bagi kehidupan peradaban yang terus bergerak dinamis. Aktifitas membaca sebagai tiang pertama menentukan kokohnya kegiatan menulis dan mantapnya melakukan tradisi dialog. Bila kegiatan membacanya lemah dengan kadar yang rendah, maka akan terjadi reaksi berantai redupnya produktifitas penulisan, stagnannya dialog dan robohnya kesadaran atas makna kehidupan yang dalam sebagai esensi peradaban.

Fakta “ketinggalannya kita dari bangsa-bangsa di dunia” ditunjukkan dengan masih bertenggernya Indonesia di Peringkat 107 dunia dalam Human Development Index UNDP (United Nation Development Program) pada tahun 2007-2008 sehingga negera ini tergolong dalam Negara dengan Pembangunan SDM Menengah (Medium Human Development). Ini berarti peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia) mutlak dilakukan bila ingin sejajar atau bahkan lebih baik dari negara-negara maju lainnya.

Sumber dari segala sumber lambannya kemajuan bangsa ini adalah rendahnya minat baca dan menulis. Kondisi memprihatinkan ini secara tepat digambarkan oleh budayawan Taufiq Ismail, bahwa bangsa ini memiliki 2 kekurangan mendasar yaitu hilangnya budaya baca dan mengarang. Indonesia tertinggal 59 tahun dibanding negara lain dalam hal membaca buku di sekolah dan pelajaran mengarang. “Di masa AMS (sekolah setingkat SMA di masa Belanda) seorang anak didik diwajibkan membaca 25 buah buku dalam tiga tahun dan menulis 36 karangan dalam setahun. Sekarang, anak SMA hanya diwajibkan menulis satu buah karangan dalam setahun dan membaca buku tidak ada,” ungkapnya.

Jadi jangan heran, bila bangsa dengan limpahan sumber daya alam dan sumber daya manusia ini tak mampu mengolah dan mengelola asset yang dimilikinya dengan baik. Hal ini dikarenakan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sehingga mereka sulit untuk mengerti, menguasai, mentransfer dan menggunakan IPTEK untuk produksi barang dan jasa yang bermutu. Semuanya bermuara kepada rendahnya minat baca dan tulis para generasi muda kita.

Baca Juga :   Belasan Kades Diperiksa Kejari Pandeglang, Desa Montor Termasuk ?

Rendahnya minat baca ini bisa dilihat dari penurunan oplah koran nasional kita. Tiras koran saat ini mengalami penurunan dari 4,5 juta eksemplar menjadi 3,5 juta eksemplar. Sementara itu, ketersediaan buku-buku di Indonesia juga sangat terbatas. Cina dengan penduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa hanya mampu menerbitkan 10.000 judul pertahun. Sungguh memprihatinkan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, selamanya bangsa ini akan ketinggalan, hanya menjadi bangsa pecundang dan tidak akan pernah dapat hidup sejajar dengan bangsa maju lainnya. Lantas, bagaimana membuat bangsa Indonesia memiliki budaya membaca dan menulis?
Membangun budaya baca dan tulis

Membangun budaya baca dan tulis, bukan hanya sekedar menyediakan buku, majalah, fasilitas, gedung, ruangan, dan kantor tetapi lebih dari itu. Membangun budaya baca dan belajar berarti membangun pemikiran, perilaku, dan budaya dari generasi yang tidak suka membaca menjadi generasi suka membaca dan belajar.

Melihat realitas diatas, dibutuhkan upaya-upaya kongkret dan strategis untuk menciptakan masyarakat yang gemar membaca (reading society), diantaranya adalah: Pertama, dibutuhkannya komitmen nasional atas budaya baca dan tulis. Selama ini, hampir tak pernah di dengar adanya langkah kongkret dari pemerintah untuk menciptakan reading society ini. Kecuali di tahun 1986, terdapat Gerakan Peningkatan Minat Baca (GPMB), namun gerakan ini hanya tinggal program tanpa hasil. Untuk persoalan budaya baca, kiranya kita bisa belajar dari negeri Sakura, Jepang. Negeri ini sukses menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, melalui gerakan “20 Minutes Reading of Mother and Child”. Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. Dan hasilnya begitu luar biasa. Jepang akhirnya menjadi kekuatan baru di dunia, selain Amerika. Begitu pula dengan budaya tulis. Sudah saatnya kita mulai merubah tradisi lisan menjadi budaya tulis. Tak mudah memang melakukan perubahan drastisHanya saja masyarakat kita yang awalnya bertradisi lisan secara drastic bergerak menuju budaya elektronik seperti televisi dan radio, sebelum memasuki budaya tulis. Kita langsung melompat dari tradisi mendongeng ke tradisi menonton sebelum terbiasa dengan tradisi membaca. Tidak heran jika masyarakat, termasuk anak-anak merasa asing dengan buku.

Kedua, menciptakan sejuta perpustakaan. Pengadaan perpustakaan ini mutlak diagendakan, mulai dari pusat kota hingga ke pleosok desa. Mulai dari perguruan tinggi hingga ke sekolah TK sekalipun. Mulai dari perpustakaan pemerintah hingga ke perpustakaan mandiri milik warga. Lebih baik lagi, bila jejaring perpustakaan pemerintah dan publik ini disinergikan dengan pengembangan bentuk-bentuk aplikasi model perpustakaan modern yang berbasis digital, seperti pembentukan e-library yang menyediakan bacaan, artikel populer, buku hingga jurnal dalam bentuk online yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

Baca Juga :   Gerakan Mahasiswa Pandeglang Raya Mendesak Bupati Pandeglang Segera Memperbaiki Jalan-jalan Kecamatan yang Rusak di Pandeglang

Ketiga, menurunkan harga buku. Harus diakui bahwa harga buku di Indonesia memang tergolong mahal hingga akhirnya tak terjangkau daya beli masyarakat. Akhirnya mereka pun tidak bisa membaca buku. Minat baca masyarakat rendah, karena daya beli (purchasing power) terhadap buku juga rendah. Mahalnya harga buku tak lain disebabkan oleh banyaknya regulasi pemerintah yang tidak mendorong kondusifnya bisnis percetakan buku. misal pengenaan pajak yang berlapis-lapis pada usaha penerbitan buku, dimana hal ini justru mematikan usaha penerbitan.

Selain ketiga hal diatas, faktor kesejahteraan dan pendidikan masyarakat juga memegang peran siginifikan dalam upaya peningkatan budaya baca dan tulis. Bila masyarakat secara ekonomi lemah alias miskin, maka sulit mengajak mereka untuk belajar membaca. Untuk makan aja sulit, gimana mau beli buku? Hal ini sejalan dengan laporan yang dirilis UNESCO (Literacy for Live, 2005), bahwa masyarakat yang tinggal di negara-negara miskin, cenderung minat bacanya rendah.

Begitu pula dengan tingkat pendidikan. Tingginya tingkat pendidikan yang ditamatkan memiliki pengaruh yang sangat berarti terhadap meningkatnya minat baca publik. Asumsinya, dengan tingginya tingkat pendidikan, semakin tinggi pula kesadaran terhadap pentingnya informasi, ilmu, dan pengetahuan. Dan ketiganya dapat diperoleh melalui aktivitas membaca. Membaca bukan sekedar sebuah keterampilan. Lebih dari itu, membaca menurut Nadeak (2005) adalah sebuah kegiatan kreatif. Saat membaca, seseorang berdialog dengan dirinya sendiri; dengan tokoh-tokoh yang terkandung di dalam bacaan, saling mengasah intelek dengan pengarang dalam bayang-bayang rasa ingin tahu, terciptanya sanggahan kritis untuk meluruskan kegelisahan dan menjaring gagasan baru.

Dengan membaca, seseorang secara intelektual berguru kepada warisan pengarang masa lampau untuk membentuk dunianya pada masa mendatang, dengan ungkapan-ungkapan yang baru sejiwa dengan perkembangan zaman. Membaca adalah sebuah kegiatan menafsir makna dari kata yang tidak hanya konvensional, tetapi juga yang belum terkatakan, sesuatu yang tersirat. Sejumlah tanda-tanda pemahaman diperlukan, sebagai sarana untuk menggali makna yang mengintai, yang pada gilirannya melahirkan pemahaman baru dan menandai simpul-simpul pemikiran.

Untuk menjadikan bangsa ini memiliki budaya gemar membaca, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pepatah Inggris mengatakan we first make our habits, then our habits make us. Sebuah watak akan muncul, bila kita membentuk kebiasaan terlebih dahulu. Artinya, bila kita ingin masyarakat mempunyai kegemaran membaca buku, maka membaca buku perlu dibiasakan sejak dini. Layaknya sebuah investasi, hasilnya mungkin baru bisa kita nikmati lima, sepuluh atau duapuluh tahun kedepan. Namun jaminan generasi pembelajar, pembaca, penulis yang cerdas, cekatan dan siap bersaing dengan tantangan masa depan akan menjamin bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan tentunya lebih membanggakan.

Membangun minat baca masyarakat memang bukan hal yang mudah tapi bisa untuk diupayakan. Masyarakat merupakan obyek yang potensial untuk membangun bangsa yang cerdas. Mengingat masih rendahnya minat baca mesyarakat Indonesia, maka tidak perlu menunggu pemerintah untuk merealisasikan upaya minat baca, tetapi harus dimulai dari masyarakat itu sendiri, dengan melakukan berbagai upaya sederhana sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Serta membiasakan teladan-teladan edukatif yang yang dapat menumbuhkembangkan budaya baca-tulis itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

one × one =