Beragama secara Humanis, Radikalis, atau Liberalis

Beragama secara Humanis, Radikalis, atau Liberalis

0
BAGIKAN
Foto: TB. Khairul Hakim / FN

Oleh, TB. Khairul Hakim (Ketua Sepeda Literasi Banten)

Serang – Dalam kehidupan dunia sosial sungguh banyak pilihan bagi umat manusia untuk melakukan tindakan sesuai dengan kehendaknya atau terkurung oleh budaya yang sangat rumit sehingga membatasi semua ruang gerak bagi ekspresi kehidupannya.

Setiap perilaku yang dilakukan di dunia realitas sungguh menyajikan panggung depan dan panggung belakang yang kontras berbeda seperti konsep Erving Goofman yang masyhur tersebut.

Aspek berbagai macam kehidupan sehari-hari manusia mempunyai konsep yang berbeda untuk mendasarinya seperti kehidupan beragama di era kontemporer saat ini ada berbagai macam variasi manusia untuk melakukan kegiatan vertikalnya sehari-hari tapi untuk membatasi ruang lingkup pembahasan kita akan tegaskan pada 3 konsep yang sering akhir-akhir ini di perdebatkan seperti: Humanis,Radikali, liberal.

Konsep Humanisme bagi kehidupan beragama  di Indoneisa menjadi lebih populer berkat praktik mantan Presiden Gus Dur dalam melandasi berbagai macam kebijakan publik terkait keagamaan.

Tetapi sebelum membahas praktiknya mari kita lihat terlebih dahulu Akar konsep dari Humanisme ini berasal  dari beberapa kajian historis akar kebudayaan Humanisme ada dalam kebuidayaan Romawi dan Yunani kuno karena dalam filsafatnya manusialah yang menentukan tindakan dan kebahagiannya sendiri tanpa ada campur tangan zat lain Syaiful Arif ( 2013:42). Dan hal tersebut menandakan pada dahulu Humanisme merupakan antitesis kemanuisaan dan pada era sekarang tentunya mengalami perkembangan konsep dan struktur pemikiran.

Berbeda dengan Humanisme Era pencerahan Gus Dur membuat pijakan konsep Humanisme Islam sebagai antitesis dari humanisme ateis secara simplifikasi konsep gus dur dalam Humanisme merupakan perintah langsung dari Tuhan kepada manusia sebagai khalifatullah fi al-ardh  di muka Bumi ini.

Baca Juga :   Manusia ber-Kesadaran 'TUHAN'

Konsepsi Humanisme ala Gus Dur memang belum banyak di tuliskan oleh Gus Dur Sendiri secara ilmiah ada beberapa karya saja yang beliau tuliskan  untuk menggambarkan konsep Humanisme: (1) imam khalii al –farahidi dan humanisme dalam islam serta (2) mencari persepektif baru Hak Asasi Manusia. Dalam tulisan pertama Gus Dur memaknai Humanisme Islam Sebagai rasionalisasi dan modernisasi islam sebab dalam hal ini islam bisa inheren dengan era modern, sedangkan di tulisan kedua Gus Dur mengelaborasi persepektif HAM dan mengapresiasi pendekatan Liberal yang berupaya memenuhi Hak sipil dan politik warga modern ibid., (hal 55-56).

Memang untuk mempelajari konsep Humanisme ala Gus Dur tidak cukup hanya mengkaji karya ilimiahnya saja lebih dalam lagi banyak keputusan publiknya harus juga jadi bahan kajian untuk melihat konsep Humanisme ISLAM  ala Gus Dur.

Radikalisme sebenarnya tidak hanya terstigma di satu agama tetapi agama lain juga memiliki masalah yang sama dengan para pengikutnya yang mempunyai paham Radikal yang selalu berurusan dengan kekerasan agama-agama.

Fenomena agama ini ada banyak variasinya ada dalam corak simbolik ada juga dalam corak aktual. Contoh dalam corak simbolik ada bahasa atau wacana dari satu kelompok agama tertentu yang tendensius terhadap agama lainnya dan corak aktual biasanya lebih bersifat praktik dengan menggunakan kekuasaan menindas minoritas atau bergerak dengan inisiatif individu atau kelompok dengan melakukan tindakan merugikan bagi orang lain.

Perilaku Radikalisme agama ini cenderung ingin melakukan perubahan dengan menjebol seluruh system dan strukturnya sampai ke akar-akarnya Nur Syam, ( 2007-10-11). Perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang dilakukan secara mendasar dan cepat baik struktur dan konten.

Baca Juga :   Khilafah Tidak Hanya Sebatas "Khalifah"

Yang diinginkan adalah penjebolan terhadap status quo dan menggantinya dengan yang baru yang dianggapnya benar. Seringkali di dalam tindakannya menggunakan cara-cara yang keras. Terutama kekerasan yang bercorak actual. Kekerasan sering dibedakan dalam coraknya.

Ada yang disebut sebagai kekerasan cultural, yaitu kekerasan yang berada di dalam aspek-aspek budaya, ranah simbolik seperti agama, ideology, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan empiric maupun formal yang dapat digunakan untuk menjustifikasi atau melegitimasi kekerasan langsung dan structural.

Liberalisme atau liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah politik yang utama Budy Munawar Rahman, ( 2010-3). Dalam kaitannya dengan Islam Liberal kali ini dapat dikemukakan sebagai negasi atau lawan dari islam normatif-dogmatis. Segala sesuatu yang berisifat pemikiran dianggap sebagai yang debatable, belum final, dan dapat ditinjau ulang Zuly Qodir, (2002:37).

Menurut Charles Kruzman menyatakan bahwa secara historis islam liberal mendukung adanya demokrasi dan menentang teokrasi, mendukung hak-hak perempuan, hak-hak non muslim di negara islam serta kelompok ini kontras berbeda dengan islam adat serta dalam islam liberal.

Dalam dunia kontestual pada hari ini variasi untuk menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan tendensi salah satu dari ketiga opsi tersebut tentunya memiliki resiko dalam pengaplikasiannya di kehidupan sosial ini. Budaya mayoritas tentunya akan terus bersinggungan dengan pemikiran lain yang ingin mencoba merebut dominasi.

Terkadang konflik tersebut berujung kerugian yang amat besar maka dari itu mencoba untuk harmoni dalam perbedaan merupakan hal yang bijak di tengah perbedaan prinsip dalam beragama. (FN)

TINGGALKAN KOMENTAR

4 × four =