Apapun yang Terjadi, Jangan Berhenti Bernyanyi !

Apapun yang Terjadi, Jangan Berhenti Bernyanyi !

0
BAGIKAN
Foto: Deni Legawa

oleh Deni Legawa (Mahasiswa Untirta)

Begitu banyak cara di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan, dan setiap manusia berhak mencari kebahagiaan itu. Belum hilang diingatan kita bagaimana seorang anak perempuan menyanyikan “sayur kol” sebagai bentuk kebahagiaannya memakan daging anjing dengan sayur kol yang dalam ekspresinya sangat nikmat. Juga ketika dua bersaudara yang dengan bahagia menyanyikan “kisah rasul” sebagai bentuk kecintaannya kepada junjungan, dibawalah sang adik ke dalam frame serta sang kaka membawa gelas (baca:alat musik) agar dapat poin ‘differensiasi produk’ bahasa bisnisnya, dan tentang petir yang tiba-tiba datang, itu diluar prediksi ya.

Ingat… itu tidak masuk biaya produksi video si anak, cateris paribus bahasa anak ekonominya. Belum lagi, pencarian bahagia sekaligus pembiasaan rasa sakit suntik Rubella oleh seorang anak SD yang menyanyikam lagu idolanya “dududu” blackpink yang membuat gaduh warga twitter dan media sosial lainnya. Mereka memiliki cara masing-masing dalam pencarian kebahagiaan hingga menuju klasifikasi viral.

Namun, tetap saja muncul beberapa kritik dari semua karya-karya pencarian kebahagiaan tersebut. “kisah rosul ko jadi becandaan” , “anak disuntik ko disuruh nyanyi, nipu diri sendiri, bajunya vulgar lagi tuh girlband”,  dan terakhir kena juga “sayur kol” dengan perbincangan isu perlindungan hewan.

Baca Juga :   Sejarah Paguron Jalak Banten Nusantara (Bagian I)

Ya… secara jelas si anak sangat bahagia memakan daging anjing dengan sayur kol, tabu sekali peliharaan dijadikan makanan. Untungnya si adek manis hanya bernyayi daging anjing pakai sayur kol, tidak dicampur sirup kurma yang mengadaptasi tretan, bisa lebih bahaya dicerca. Namun yang perlu diacungi jempol adalah prinsip adek-adek ini, pokoknya  “apapun yang terjadi jangan berhenti bernyanyi” begitulah kira-kira prinsipnya.

Namun, diakui atau tidak itulah gambaran yang terjadi di masyarakat, setiap orang yang mencari kebahagiaan pun selalu ada sisi negatifnya, selalu ada sisi julid disetiap orang. Begitu juga saya sebagai bagian dari Juliders Nusantara. Memikirkan sisi pencarian kebahagiaan yang setiap sore muncul di stasiun televisi swasta, mereka bernyanyi dan berkompetisi dengan gigih melawan rasa takut dengan objek utama hewan. Entahlah, apakah dengan ronde yang bertahap pada acara ini pencarian kebahagiaan peserta tercapai.

Baca Juga :   Perubahan Itu Kemajuan dan Bukan Hambatan

Hewan dijadikan hal yang menakutkan bagi para peserta yang ditaburi cacing,  dibumbui tikus, dicelupkan dalam sebuah kolam yang berisi ular, iguana, biawak, kadal dan hewan melata lainnya. Belum lagi yang membuat kurang nyaman adalah ketika si peserta ditaburi es batu, dan diatas es tersebut disebarlah hewan-hewan, saya tetap berpikir positif karena mungkin hewan tersebut punya kulit yang tebal sehingga tidak akan kedinginan. Ini belum termasuk hewan yang terinjak ketika peserta ketakutan namun harus memegang prinsip “apapun yang terjadi, jangan berhenti bernyanyi”.

Sayangnya, acara-acara seperti ini tetap memiliki pasarnya sendiri. Termasuk saya dan keluarga yang pada akhirnya tetap melihat tontonan ketika seorang peserta ketakutan dan kami tertawa. Walau pada kenyataannya, hati penonton ragu untuk tertawa atas hewan-hewan tersebut. Ini berbicara tentang hati nurani, bukan Undang-Undang perikehewanan dan rumusan – rumusan lainnya yang lebih kompleks.

TINGGALKAN KOMENTAR

one + eighteen =