ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSIAL DI BANTEN

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN POTENSIAL DI BANTEN

0
BAGIKAN

Oleh : Widarto Susilo (ASN Kanwil DJPB Provinsi Banten)

Pembangunan ekonomi suatu daerah dapat diukur salah satunya dengan indikator pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pertumbuhan ekonomi setiap daerah di Indonesia berbeda-beda karena disparitas sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang dimiliki.

Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai antar daerah turut menyebabkan perbedaan pertumbuhan ekonomi tiap-tiap daerah. Secara umum, beberapa faktor yang meningkatkan disparitas antar wilayah, antara lain (Friedman & Weaver,1979, dalam Randi Mamola, 2021) :

  • Migrasi penduduk yang produktif (usia kerja) dan memiliki keahlian dari daerah yang kurang berkembang menuju daerah yang telah berkembang.
  • Investasi cenderung dilakukan di daerah yang telah berkembang, karena pasar di suatu daerah berkembang memiliki keuntungan yang relatif besar.
  • Kebijakan pemerintah yang cenderung lebih terkonsentrasi dalam pembangunan sarana dan prasarana di daerah yang telah berkembang.
  • Pola perdagangan dan kegiatan perdagangan didominasi oleh sektor-sektor industri-industri di daerah yang telah berkembang.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan melalui akselerasi pembangunan daerah sesuai potensi sumber daya dan kekuatan sektor ekonomi unggulan yang dimiliki masing-masing daerah.

Potensi ekonomi suatu daerah merupakan kemampuan ekonomi yang dimiliki suatu daerah yang layak dikembangkan, sehingga akan berkembang menjadi sumber penghidupan masyarakatnya, bahkan mampu mendongkrak perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang secara mandiri dan berkesinambungan (Soeparmoko, 2002).

Sektor ekonomi layak disebut unggulan apabila  secara signifikan ; berkontribusi terhadap PDRB, mampu menyerap tenaga kerja, dan mampu memenuhi kebutuhan daerah bersangkutan serta ekspor ke luar wilayah.

Dengan demikian suatu sektor ekonomi menjadi sektor unggulan apabila mampu  memenangkan persaingan dengan sektor yang sama di wilayah lainnya. Dengan mengetahui sektor ekonomi potensial dan unggulan di daerahnya, maka suatu daerah memiliki peluang dalam memenangkan persaingan dengan daerah lain yang belum mengenali potensi ekonomi daerahnya.

Analisis Sektor Unggulan dan Sektor Potensial di Banten

Profil perekonomian Provinsi Banten selama lima tahun terakhir dapat dilihat dari Produk

Diantara enam provinsi di pulau Jawa, PDRB Banten sejak tahun 2017 sampai dengan 2021  di urutan ke lima setelah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Struktur ekonomi Banten selama lebih dari sepuluh tahun terakhir berdasarkan data BPS  sangat bertumpu pada sektor Industri Pengolahan. Meskipun kontribusi sektor industri pengolahan selalu di atas 30 persen, tetapi secara nominal di antara Provinsi se-Jawa hanya lebih besar dari Yogyakarta.

Peningkatan PDRB Banten di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan kegiatan ekonomi sektor potensial sehingga mampu berkembang menjadi sektor unggulan (sektor basis).

Untuk mengetahui potensi sektor unggulan di Provinsi Banten, tulisan ini menggunakan data PDRB Provinsi Banten, PDRB Pulau Jawa, dan PDB Nasional tahun 2017 sampai dengan 2021. Alat analisis yang digunakan lebih dari satu metode agar lebih mampu mendeskripsikan potensi ekonomi di Banten, dibanding dengan hanya satu alat atau metode saja.

Beberapa metode analisis yang digunakan merupakan alat analisis yang sudah terbukti sejalan dengan tujuan untuk mengetahui sektor potensial dan sektor unggulan karena banyak ditemukan di litelatur studi, seperti :

  1. Analisis Location Quotient (LQ)

untuk mengetahui sektor ekonomi yang memiliki keunggulan (sektor basis dan sektor non basis) serta kemampuan relatif sektor unggulan tersebut terhadap sektor yang sama di daerah yang lebih luas.

Delapan sektor ekonomi Provinsi Banten yang memiliki nilai LQ > 1 (biasa disebut sektor basis / sektor unggulan) antara lain Industri Pengolahan, Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang,  Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi,  dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, serta dua sektor yang proporsi kecenderungannya meningkat adalah Konstruksi dan Real Estate.

Hal ini dapat dijelaskan karena jumlah perusahaan konstruksi yang terdiri dari perusahaan kecil, sedang dan besar mengalami peningkatan sejak tahun 2017 sampai dengan 2021. Tercatat 3.084 perusahaan konstrukri di Banten pada tahun 2017 kemudian menjadi 7.270 perusahaan di tahun 2021.

Salah satu pendorong tumbuhnya sektor Real Estate adalah insentif pembebasan PPN untuk rumah dengan harga jual di bawah Rp 5 miliar. Peran sektor real estate memiliki dampak secara langsung terhadap kegiatan ekonomi lainnya seperti berkembangnya sektor real estate akan meningkatkan permintaan perabotan rumah tangga yang diproduksi UMKM.

  1. Analisis Shift-Share (SS).

Pendekatan Klasik, Manfaat analisis SS dapat digunakan untuk mengidentifikasi sektor / lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan cepat atau lambat serta kemampuan daya saing dengan cara mengukur perubahan sektor atau sub sektor pada dua titik waktu. Analisis SS juga dapat digunakan untuk menganalisis perubahan ekonomi  wilayah studi dibandingkan dengan perekonomian wilayah yang lebih luas (wilayah referensi) selama periode tertentu.

Baca Juga :   Mutiara Pondok Pesantren Tak Luntur Dengan Terpaan Isu (Menyingkap Hari Santri Nasional Oktober Tahun 2022)

Rumus Shift Share (SS) Pendekatan Klasik (Arsad, 2010; Tarigan, 2007; Widodo, 2006; Puspitawati, 2013 dalam Abidin, 2015)

Dij = Nij + Mij + Cij

Nij = Eij . rn

Mij = Eij (rin – rn)

Cij = Eij (rij – rin)

dimana rij, rin, dan rn mewakili laju pertumbuhan wilayah studi dan wilayah referensi, dengan definisi sebagai berikut :

rij = (E*ij -Eij)/Eij

rin = (E*in – Ein)/Ein

rn = (E*n – En)/En

Eij adalah PDRB sektor i wilayah studi,

Ein adalah PDRB  sektor i wilayah referensi,

En merupakan jumlah PDRB tingkat yang lebih luas,

Superscript * menunjukkan PDRB tahun analisis.

Persamaan shift share untuk sektor i di suatu Provinsi =

Eij . rn  + Eij (rin – rn) + Eij (rij – rin)

Kriteria penilaian :

  • apabila Mij > 0 maka pertumbuhan sektor i cepat di wilayah studi,
  • apabila Mij < 0 maka pertumbuhan sektor i lambat di wilayah studi,
  • apabila Cij > 0 maka sektor i memiliki daya saing yang baik dibanding sektor yang sama di daerah lain,
  • apabila Cij <0 berarti sektor i tidak mampu bersaing dengan sektor yang sama dari daerah lain,
  • apabila Nij > 0 menggambarkan pertumbuhan sektor i wilayah studi dipengaruhi oleh pertumbuhan di wilayah referensi,
  • apabila Nij < 0 menggambarkan pertumbuhan sektor i wilayah studi kurang dipengaruhi oleh pertumbuhan wilayah referensi.

Nilai komponen Nij seluruh sektor PDRB Banten > 0, artinya pertumbuhan sektor-sektor PDRB Banten dipengaruhi secara positif oleh pertumbuhan secara nasional. Kebijakan yang berlaku secara nasional seperti perpajakan, nilai tukar, suku bunga, utang luar negeri, dan kebijakan moneter lainnya mempengaruhi secara positif pendapatan atau sektor-sektor PDRB Banten.

Kemudian sektor Industri Pengolahan yang berperan di atas 30 persen terhadap PDRB Banten pada komponen pertumbuhan proporsional (Mij) memiliki nilai negatif (-). Hal ini memperlihatkan pertumbuhan sektor industri pengolahan di Banten lebih lambat di banding sektor yang sama di tingkat nasional.

Meskipun sektor industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar bagi PDRB Banten tetapi secara nominal nilai sektor industri pengolahan di pulau Jawa saja hanya lebih besar dari Yogyakarta. Sedangkan pertumbuhan proporsional sektor Pergudangan dan Transportasi yang lebih lambat dari sektor serupa di tingkat nasional karena sektor ini sangat dipengaruhi oleh kinerja ekspor dan impor komoditas barang seperti barang konsumsi, bahan baku atau penolong, atau barang modal.

Selanjutnya komponen keunggulan kompetitif (Cij) sektor Konstruksi dan Real Estate bernilai positif (+) mengindikasikan kedua sektor ini memiliki keunggulan komparatif di banding provinsi lain di Indonesia.

Penjelasannya karena tren investasi di Banten manunjukkan kenaikan dan Banten selalu masuk lima besar tujuan investasi di Indonesia, termasuk bidang properti. Kegiatan sektor Properti tercatat baik  ke dalam sektor Konstruksi maupun real Estate sehingga kebutuhan sektor properti utamanya perumahan yang sangat tinggi di sekitar kawasan industri menjadi pendorong keunggulan sektor Konstruksi dan sektor Real Estate.

Nilai pergeseran bersih (Dij) hampir semua sektor menunjukkan angka positif kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian serta sektor Transportasi dan Pergudangan. Hal ini menunjukkan bahwa hampir keseluruhan sektor tergolong progresif dan pertumbuhan sektor-sektor di tingkat Provinsi Banten mempengaruhi secara positif sektor-sektor di tingkat Kabupaten / Kota di Banten.

Teknik analisis shift share kemudian dilakukan modifikasi oleh Esteban-Marquillas yang menunjukkan jika suatu wilayah memiliki spesialisasi di sektor-sektor tertentu, maka sektor-sektor tersebut juga menikmati keunggulan kompetitif yang lebih baik. Penilaian analisis shift share modifikasi Esteban-Marquillas adalah (Soepono, 1993)

  1. Jika (-) > 0, sektor i memiliki keunggulan kompetitif

: PDRB sektor i  wilayah studi pada tahun awal analisis

: PDRB sektor i wilayah studi pada tahun akhir analisis

: PDRB sektor i wilayah referensi tahun awal analisis

: PDRB sektor i wilayah referensi tahun akhir analisis

  1. Jika (-) > 0, sektor i memiliki keunggulan spesialisasi.

: Total PDRB wilayah studi tahun awal analisis

: Total PDRB wilayah referensi tahun awal analisis

Tiga sektor yang terspesialisasi dan memiliki keunggulan kompetitif (Competitive advantage, Specialized) yaitu Perdagangan Besar & Eceran; Reparasi Mobil & Speda Motor, sektor Real Estate, dan sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang. Artinya ketiga sektor ini tidak dikembangkan secara luas di provinsi lain serta memiliki keunggulan kompetitif di banding wilayah lain di Indonesia.

Baca Juga :   Tiga Gubernur Gagal Atasi Pengangguran

Sektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif dan tidak terspesialisasi (Competitive disadvantage, not Specialized) yakni sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta sektor Pertambangan dan Penggalian menggambarkan kedua sektor dimaksud memiliki produktivitas wilayah yang lebih rendah dibanding produktivitas secara nasional dan tidak terspesialisasi.

Penyebabnya bisa saja karena penerapan teknologi pada komoditas kedua sektor tersebut belum optimal, sehingga untuk tingkat nasional tidak terspesialisasi atau telah dikembangkan secara luas oleh provinsi lainnya.

  1. Tipologi Klassen

merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sektor unggulan di suatu daerah dengan cara membandingkan pertumbuhan dan kontribusi sektor ekonomi  di wilayah studi dengan pertumbuhan sektor tersebut di wilayah yang lebih luas.  Analisis Tipologi Klassen dapat digunakan untuk tujuan mengidentifikasi posisi sektor perekonomian Banten dengan memperhatikan sektor perekonomian nasional.

Dari delapan sektor unggulan berdasarkan rata-rata nilai LQ> 1, terdapat tiga sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dan terspesialisasi (Competitive advantage, Specialized) yaitu sektor sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah. Limbah dan daur Ulang, sektor Perdagangan, dan sektor Real Esatate.   Hasil analisis sektor perekonomian Provinsi Banten tahun 2017-2021 dengan memanfaatkan alat analisis Location Quetient (LQ) menunjukkan delapan sektor yang dapat dianggap sebagai sektor unggulan.

Delapan sektor yang memiliki rata-rata nilai LQ > 1 antara lain sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang,  sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, serta sektor Real Estate. Ketiga sektor tersebut berdasarkan analisis Tipologi Klassen masuk dalam kuadran 1 yaitu sebagai sektor maju dan tumbuh pesat.

Sedangkan lima sektor potensial pada kuadran 3 analisis Tipologi Klassen dapat digambarkan sebagai sektor yang sedang booming, meskipun pangsa pasarnya di daerah Banten relatif lebih kecil dibandingkan rata-rata nasional. Sektor potensial ini apabila diakselerasi  akan mampu berkembang dengan pesat karena pangsa pasar belum mencapai kejenuhan.

Kontribusi Sektor Unggulan dan Sektor Potensial Terhadap Ketenagakerjaan

Delapan sektor unggulan di Banten selama Februari 2017 sampai dengan Agustus 2021 mampu menyerap 60 persen dari akumulasi penduduk Banten yang bekerja sebesar 55.319,98 ribu jiwa.

Sektor Unggulan yang memiliki laju pertumbuhan penyerapan tenaga kerja selama 2017 – 2021 adalah sektor Transportasi dan Pergudangan dengan capaian 25,79 persen, disusul sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang mencapai 23,50 persen, meskipun jumlah penyerapan tenaga kerja sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial relatif kecil.

Sektor Konstruksi mencatat pertumbuhan 19,01 persen, dengan total serapan tenaga kerja 3,3 juta jiwa. Dua sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar selama 2017-2021 yaitu Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan mencatat pertumbuhan 2,15 persen dan 16,60 persen. Sektor Unggulan Real Estate dengan keunggulan kompetitif dan spesialisasi serta merupakan sektor maju dan tumbuh pesat di Banten mencatat pertumbuhan negatif selama 2017-2021 sebesar -19,63 persen dimana pada tahun 2017 sektor ini mampu menyerap 56,72 ribu tenaga kerja turun menjadi 45,59 ribu di tahun 2021.

Sektor Potensial yang mengalami laju pertumbuhan penyerapan tenaga kerja selama 2017-2021 adlah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang turun -22,91 persen. Alih fungsi lahan pertanian menjadi industri atau perumahan serta penerapan teknologi yang menyebabkan berkurangnya penyerapan tenaga kerja sektor Pertanian ini. Sektor Jasa Perusahaan mencatat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tertinggi yang mencapai 58,23 persen.

Kontribusi Sektor Unggulan dan Sektor Potensial Terhadap Pendapatan Nasional dan Daerah

Sektor unggulan yang dominan membentuk pendapatan / PDRB selama tahun 2017-2021 di Banten adalah sektor Industri Pengolahan dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi mobil dan Sepeda Motor. Kedua sektor ini juga terbanyak dalam menyerap tenaga kerja di Banten.

Sedangkan peran sektor potensial terhadap pendapatan relatif kecil, dengan porsi terbesar  adalah Jasa Keuangan dan Asuransi dengan rata-rata 2,99 persen dari total PDRB ADHK tahun 2017-2021.

Dukungan Kebijakan dan Alokasi Anggaran

Pemanfaatan beberapa alat analisis seperti LQ, Shift Share, dan Tipologi Klassen dapat membantu pengambil keputusan di daerah dalam menyusun prioritas kebijakan daerah terutama  terkait pengeluaran anggaran, agar fokus pada pengembangan  sektor  unggulan. Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut sudah terbukti berkontribusi bagi perekonomian Banten.

Pengambil kebijakan di daerah Banten juga perlu memberi perhatian khusus kepada sektor potensial, meskipun kontribusinya masih rendah.  Akan tetapi sektor potensial ini memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi sehingga berpeluang di akselerasi menjadi sektor unggulan.

TINGGALKAN KOMENTAR

nineteen − 18 =