Analisis Pengaruh Pengurangan Aktivitas Manusia Pada Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Udara...

Analisis Pengaruh Pengurangan Aktivitas Manusia Pada Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Kondisi Udara Di Lingkungan Masyarakat

0
BAGIKAN

Oleh: Rifatun Nisa

Wabah penyakit COVID-19 pertama kali muncul pada akhir Desember 2019, dari pasar makanan laut Hunan di kota Wuhan, Cina, dan dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional dalam beberapa minggu oleh organisasi kesehatan dunia. Wabah COVID-19 mempengaruhi setiap bagian dari kehidupan manusia dan melemahnya aktivitas ekonomi memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan dimasyarakat. COVID -19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh akut syndrome pernafasan. Mulai September 06, 2020; Virus ini mengklaim telah menyebar ke 216 negara, daerah atau daerah dengan kematian 876, 616 manusia dari 26.763.217 kasus yang dikonfirmasi, dan jumlahnya meningkat dengan cepat. Biasanya, gejala infeksi flu termasuk demam, menggigil, batuk, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, myalgia atau kelelahan, mual, muntah, dan diare. Kasus dapat mengakibatkan cedera jantung, gagal pernapasan, sindroma kesulitan pernapasan akut, dan bahkan kematian. Para lansia beserta kondisi-kondisi medis lainnya yang mendasari berada dalam risiko tinggi kematian. Hingga saat ini, belum ada terobosan signifikan dalam pengembangan obat yang efektif atau vaksin untuk penyakit ini. Para pakar dan pakar nasional dan internasional menyarankan penggunaan cara non-farmasi seperti mengenakan masker wajah dan sarung tangan, mencuci tangan dengan sabun, sering menggunakan antiseptik dan menjaga jarak sosial.

Secara keseluruhan, pandemi telah menyebabkan gangguan sosial ekonomi global yang sangat besar, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi lingkungan seperti perbaikan kualitas udara, berkurangnya kebisingan dan restorasi ekologi. Bahwa lingkungan dapat berubah dengan cepat, dan waktu perubahan itu tampaknya menunjukkan bahwa pandemi itu mungkin menjadi penyebabnya. Tingkat deforestasi berubah di beberapa tempat yaitu polusi udara berkurang. Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan mengelilingi bumi. Dalam komponen udara terdiri dari 78% nitrogen, 21,94% oksigen, 0,93% argon, 0,032% karbondioksida, dan gas-gas mulia lain yang terdapat pada atmosfer. Gangguan global yang disebabkan oleh COVID-19 telah membawa beberapa efek pada lingkungan dan iklim. Karena pembatasan gerakan dan perlambatan aktivitas sosial dan ekonomi, kualitas udara telah meningkat.

WHO (2004) memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor secara lagsung akibat emisi kendaraan bermotor. Di Indonesia, setiap tahun jumlah kendaraan semakin meningkat sehingga menimbulkan kemacetan yang dapat menyebabkan peningkatkan pencemaran udara semakin besar. Konstribusi gas buang dari knalpot kendaraan bermotor sebagai sumber penyebab pencemaran udara mencapai 60 – 70%. Berdasarkan hasil penelitian, yang paling dominan dari pencemaran udara dalam perindustrian lebih dari 90% adalah sumbangan limbah industri dalam bentuk gas. Terdapat beberapa perusahaan industri menghasilkan polutan yang berbahaya, diantaranya CO, CO2, SO2, NO, hidrokarbon dan senyawa organik. Dalam proses industri CO2 dilepaskan oleh melalui pembakaran bahan bakar fosil.

Baca Juga :   Menekankan Pentingnya Protokol Kesehatan, KAMMI UNTIRTA Bagikan Masker Gratis

Udara adalah campuran dari gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Berbagai aktivitas manusia dimulai dari pemukiman, transportasi, industri dan lainnya menjadi sumber utama pencemaran udara. Pusat asal pencemaran udara dapat diterangkan dengan 3 proses yaitu penguapan (vaporization), atrisi (attrition) dan pembakaran (combustion), dari semua proses tersebut yang sangat dominan dalam kemampuannya yaitu pembakaran yang menimbulkan bahan polutan.

Pandemi COVID-19 ini telah memberikan dampak pada berkurangnnya seluruh aktivitas manusia. Semua orang dipaksa untuk selalu hidup bersih dengan selalu mencuci tangan, selalu menggunakan masker, untuk tetap tinggal di rumah sebagai bentuk dari jarak sosial dan jarak fisik. Pandemi berdampak kepada perubahan dari aktivitas manusia dalam berinterkasi dengan orang lain maupun lingkungannya.

COVID-19 telah merubah perubahan dalam hidup maupun dalam hal bekerja, karena berbagai batasan untuk beraktifitas di masa pandemi ini. Setiap orang selalu mengutamakan kesehatan dan keamanan dalam membatasi kerumunan dan untuk tetap bertahan di dalam rumah. Prilaku ini juga sudah berdampak pengaruh terhadap lingkungan disekitar masyarakat, melakukkan pengurangan aktivitas manusia diluar rumah. Pada saat pengurangan aktivitas semua orang diluar rumah pada masa pandemi COVID-19 ini ternyata mendapatkan perubahan yang sangat cepat pada lingkungan terutama pada polusi udara yang berkurang pada lingkungan masyarakat, karena pengurangan aktivitas diluar rumah terutama pada polusi asap kendaraan yang terdapat perubahan sudah sedikit mengalami penurunan pencemaran polusi udara.
Pada pencemaran udara yang dialami merupakan dampak buruk dari indutsri, transportasi yang terus menerus mengeluarkan polusi udara. Terdapat beberapa perusahaan industri menghasilkan polutan yang berbahaya, diantaranya CO, CO2, SO2, NO2 dan sebagainya. Proses industry CO2 dilepaskan melalui pembakaran bahan bakar fosil. Biasanya NO2 disetorkan pada bahan bakar fosil, sebanyak 80% yang berasal dari kenalpot kendaraan bermotor. Bahwa NO2 menyebabkan hujan asam dengan interaksi O2 dan H2O dan terdapat beberapa penyakit pernapasan pada manusia. Berkurangnnya pergerakan kendaraan pada masa pandemi COVID-19 tingkat kebisingan terutama tingkat pencemaran polusi udara berkurang. Sehingga dibatasinya aktivitas diluar rumah mendatangkan pengaruh baik untuk kondisi udara pada lingkungan. Gangguan global yang disebabkan oleh adanya virus COVID-19 ini telah membawa pengaruh baik pada lingkungan. Karena adanya pengurangan atau pembatasan aktivitas sosial, sehingga kualitas udara pada keadaan lingkungan meningkat baik.

Namun yang perlu menjadi catatan, penurunan polusi udara ini tidak serta-merta membuat kita dapat menyimpulkan bahwa dalam kebijakan lockdown dapat memberikan dampak besar terhadap lingkungan. Dalam tingkat pencemaran polusi udara dapat saja berubah setiap saat dalam aktivitas kendaraan transportasi maupun industri, jika pada suatu waktu aktivitas industri atau lalu lintas kendaraan kembali meningkat dari sebelumnya maka kualitas udara suatu wilayah dapat berubah juga. Akan berbeda apabila ada perubahan gaya hidup yang masif untuk dapat menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan saat maupun setelah pandemi ini.

Baca Juga :   KEKERASAN YANG TERSELUBUNG DALAM RUMAH TANGGA

Pandemi COVID-19 telah menyebar diseluruh dunia, untuk itu mesti ada persatuan untuk menangani virus ini. Oleh karena itu, beberapa kemungkinaan strategi untuk dapat tetap melestarikan lingkungan industrialisasi ini sangat penting bagi kebutuhan ekonomi. Namun, untuk industrialisasi berkelanjutan penting untuk beralih ke indutri yang mengurangi energi itensif, penggunaan bahan bakar dan teknologi yang lebih bersih dan dalam kebijakan hemat energi yang kuat. Hal ini terjadi akibat dari beralihnya seluruh aktivitas diruang publik berali pada aktivitas didalam rumah. Dalam pembahasan ini adalah salah satu contoh nyata karena pentingnya kita membicarakan tentang perilaku peduli lingkungan.

Yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41, Yang artinya “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Allah juga menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi pada alam, darat dan laut, disebabkan karena perbuatan manusia sendiri. Sampai saat ini, kita masih terlihat perbuatan-perbuatan manusia yang mengarah pada terancamnya kelestarian alam.

Secara kesimpulan, aktivitas manusia dapat berpengaruh dalam perubahan kondisi udara, pengaruh aktivitas manusia terhadap perubahan kondisi udara pada pencemaran udara yang dialami merupakan dampak buruk dari industri, transportasi yang terus menerus mengeluarkan polusi udara. Penurunan polusi udara NO2 ini tidak serta-merta membuat kita dapat menyimpulkan bahwa kebijakan lockdown dapat memberikan dampak besar terhadap lingkungan. Maka tingkat pencemaran polusi udara akan berubah setiap saat pada aktivitas kendaraan bermotor maupun industri, jika pada suatu waktu aktivitas industri atau lalu lintas kendaraan kembali meningkat dari sebelumnya, kualitas udara suatu wilayah dapat berubah juga.

Referensi:

Agusnar, H. 2007. Kimia Lingkungan. USU Press. Medan.
Agustine, I., et al. 2017. Application of Open Air Model (R Package) to Analyze Air Pollution Data. Universitas Trisakti. Jakarta, Indonesia
Caine, P., 2020. Environmental impact of COVID-19 lockdowns seen from space. Sci. Nat. 2 April 2020 https://news.wttw.com/2020/04/02/environmental-impact-covid-19-l ockdowns-seen-space.
Chakraborty, I., Maity, P., 2020. COVID-19 outbreak: migration, effects on society, global environment and prevention. Sci. Total Environ. 728, 138882.
Holshue, M.L., 2020. First case of 2019 novel coronavirus in the United States. N. Engl. J. Med. 382, 929–936.
Pan, J., 2016. Sustainable industrialization. In: China’s Environmental Governing and Ecological Civilization. China Insights. Springer, Berlin, Heidelberg.
USEPA, 2016. Nitrogen Dioxide (NO2) Pollution. https://www.epa.gov/no2-pollution /basic-information-about-no2.
Wardana, W., 2001, Dampak Pencemaran Lingkungan, Andi, Yogyakarta.
WHO, 2020a. Coronavirus disease (COVID-19) pandemic. World Health Organization, Geneva.

TINGGALKAN KOMENTAR

9 + thirteen =