Alif, Ba’ dan Bahtera Nuh

Alif, Ba’ dan Bahtera Nuh

0
BAGIKAN
Foto: Ilustrasi

Oleh: Fathoni (Pegiat Kelompok Filsafat Jatidiri Indonesia)

Nuh AS, demikian kisah manusia mulia ini, adalah seorang tukang kayu. Ia termasuk Rasul Ulul ‘Azmi, 5 Rasul yang utama, meskipun kita tidak boleh membedakan strata para Rasulullah. Semuanya utusan Allah. The messengers. Pembawa risalah Tuhan. Berbeda dengan nabi, rasul punya sertifikat untuk menjalankan kekuasaan politis.

Nuh, barat mencatatnya sebagai Noah, bukanlah orang Arab, bukan Yahudi. Arab dan Yahudi belum ada kala itu. Arab dan Yahudi ada setelah Ibrahim AS. Tentu tulisan ini tidak hendak menjelaskan sejarah para rasul, karena itu bukan kompetensi penulis. Saya hanya menafsir nafsirkan saja. Kali ini tentang Bahtera Nuh, legenda yang hampir semua peradaban mencatatnya. Berarti cerita ini diambil dari kisah nyata (based on true story).

Dikisahkan, Nuh diberi wahyu untuk membuat bahtera, yaitu perahu layah berukuran raksasa. Konon ukurannya sebesar lapanga bola, atau mungkin sekali lebih besar lagi. Bahtera Nuh terbuat dari kayu. Tentu ia tidak memperoleh kayu itu dari panglong kayu atau hasil kolusi pembalakan liar (illegal logging). Syahdan, untuk mendapat kayu trembesi itu, ia harus menanamnya terlebih dahulu, kayu yang hanya hidup di tanah Nusantara itu. Bayangkan betapa sabar dan panjang usia Nuh AS ini. Berarti ratusan tahun ia menunggu sampai trembesi yang mau dibuat bahtera itu mencapai usia dan ukuran yang cukup.

Singkat cerita, Nuh pun memulai menebang pohon trembesi itu. Tentu beberapa batang dibutuhkan untuk membuat bahtera sebesar itu. Banyak cercaan, ejekan, fitnah, ada juga dukungan ketika Nuh membuat bahtera itu. Betapa tidak, di tanah gersang sulit air, tak ada sungai, jauh dari laut, beda dengan nusantara yang dikurung lautan. Pekerjaan Nuh adalah pekerjaan “orang gila” menurut logika mayoritas. Namun, Nuh bergeming. Ia hanya menjalankan perintah Tuhan. Prinsipnya, taatilah Tuhan, pasti ada hikmahnya.

Baca Juga :   Peran APBN Terhadap Usia Harapan Hidup di Kab/Kota di Banten

Bertahun kemudian, bahtera Nuh selesai. Perahu yang sangat besar. Penghinaan orang-orang makin besar. Bahkan, banyak yang buang air besar (BAB) sebagai bentuk menghina Nabi Nuh. Ia pun sedih. Bukan karena perahunya diberaki, bukan. Itu perkara mudah, tinggal dibersihkan saja. Tapi, Tuhan yang suruh ia bikin perahu itu. Berarti perahu itu milik Tuhan. Ia sedih karena takut Tuhan murka melihat perangai orang-orang yang keterlaluan kebenciannya itu. Dan kalau Tuhan sudah murka, siapa sanggup mencegah adzabnya? Tidak ada.

Singkatnya, Nuh gundah. Bagaimana cara mengatasi orang-orang yang BAB ini. Dan, sekali lagi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Orang-orang yang BAB itu terserang penyakit gatal. Sudah berobat ke dukun, dokter, bahkan sampai keluar negeri. Gatal tak kunjung sembuh, malah semakin parah. Salah seorang yang menderita gatal punya inisiatif mencari (maaf) tinjanya, lalu mengoleskannya ke tempat gatalnya itu. Ia sembuh. Kemudian, yang lain punya hipotesa yang sama. Toh sudah terbukti empiris, gatalnya si A sembuh. Berbondong-bondong lalu mereka mencari (maaf) tinjanya masing-masing lalu melakukan hal sama. Mengoleskannya ke area gatal. Lalu mereka sembuh. Tak tersisa sedikitpun (maaf) tinja di bahtera Nuh.  Demikian cara Tuhan untuk menghibur Nuh, membersihkan kapal, dan menghinakan para penghina Nuh. Dan itu, mudah bagi-Nya.

Nuh kemudian diwahyukan untuk mengumpulkan ummat manusia yang beriman dan para binatang, serta tumbuhan. Masing-masing sepasang (jantan dan betina). Ingat, binatang tidak ada yang LGBT, sehingga mereka tidak punah. Bisa beregenerasi. Jelas sekali, ada paradigma ekologi dalam peristiwa ini. Satu persatu mereka masuk ke bahtera Nuh.

Entah bagaimana kepiawaian manajemen Nuh AS, sehingga tidak bercampur hewan predator dan mangsanya dalam satu tempat. Barangkali, bahteranya sudah dirancang blok blok tertentu. Setelah semua dipastikan terangkut, Nuh AS membaca manifest penumpang. Ternyata, anak dan istrinya tidak mau ikut, padahal Nuh tahu, banjir besar akan segera datang, meskipun belum ada tandanya.

Baca Juga :   Kedudukan Islam dalam kebhinekaan

Anaknya yang bernama Kan’an dan istrinya serta orang-orang yang tidak beriman tidak ikut naik bahteta Nuh mungkin karena gengsi. Macam Fir’aun yang gengsi dengan Musa AS. Nanti, kalau banjir datang, mereka akan naik ke bukit tinggi, pasti merek akan selamat. Banjir tidak akan mencapai gunung. Itu logika mereka.

Tapi, Tuhan punya logika lain. Dan logika-Nya lah yang berlaku. Tak lama, alam menunjukkan tanda akan turun hujan. Mendung begitu pekat, hujan pun turunlah. Bahkan, air tanah naik bak dipompa keluar. Jadi, air hujan dan air tanah bergabung memenuhi bumi, banjir bandang datang. Tiada yang selamat, kecuali yang naik bahtera Nuh. Mereka yang naik gunung tinggi, tenggelam. Bahkan gunungpun tak lagi terlihat, tertutup air. Dengan peristiwa banjir Nuh, terpilahlah mana yang beriman dan yang tidak. Namun, penumpang kapal adalah minoritas ketimbang yang tenggelam.

Peristiwa banjir Nuh AS mengajarkan kita tentang tegaknya ego yang dilambangkan dengan huruf Alif (أ). Golongan Kan’an menegakkan kealifannya sampai tenggelam. Padahal, jika mau sedikit saja merendahkan hati, agak membungkuk, maka mereka bisa menjadi seperti huruf Ba’ (ب) yang memang bentuknya seperti perahu. Perahu itu butuh jangkar sebagai pemberat agar kala bersandar tidak terseret arus. Jangkar itu disimbolkan dengan titik pada huruf Ba’ (ب). Begitu juga manusia modern, harus bersedia menjadi perahu agar tak tenggelam terbawa arus zaman. Tabik

TINGGALKAN KOMENTAR

one × one =