Accrual Basis dan Cash Basis dalam Perspektif Islam

Accrual Basis dan Cash Basis dalam Perspektif Islam

0
BAGIKAN
Foto: Neneng Mulyaningsih

oleh: Neneng Mulyaningsih (Dosen AAKPI Serang)

 

Dalam akuntansi dikenal istilah prinsip pencatatan accrual basis dan cash basis. Pada accrual basis suatu peristiwa atau transaksi diakui dicatat, dan disajikan pada  laporan keuangan saat terjadinya transaksi tersebut tanpa melihat dan memperhatikan  waktu kas diterima ataupun pada saat kas  dibayarkan.

Pada metode pencatatan ini beban dan pendapatan diakui pada saat terjadinya transaksi yakni  beban telah diakui  pada saat transaski terjadi sekalipun kas belum diterima. Begitu pula dengan dengan pendapatan. Pendapatan diakui dan dilakukian pencatatan ketika pendapatan terjadi meskipun kas baru akan diterima pada waktu/periode berikutnya

Pencatatan dengan menggunakan metode  accrual basis memiliki kemungkinan adanya perputaran  uang masuk atau keluar di masa depan meskipun uang belum benar – benar diterima atau dikeluarkan. Dengan kata lain metode accrual basis digunakan untuk mengukur  harta, kewajiban dan ekuitas. Pada accrual basis pengakuan akan pendapatan adalah pada saat perusahaan berhak atas penagihan dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam metode accrual basis kapan kas diterima menjadi sesuatu yang kurang penting. Oleh karena itu  dalam accrual basis kemudian muncul adanya perkiraan  piutang tak tertagih. Begitu juga dengan Pengakuan biaya dilakukan pada saat kewajiban membayar sudah terjadi. Kondisi ini dianggap sebagai awal  munculnya biaya meskipun biaya tersebut belum dibayar.

Sementara itu dalam metode pencatatan cash basis, pendapatan baru akan benar-benar diakui pada saat kas diterima begitupula dengan biaya. Biaya baru akan diakui pada saat adanya kas yang keluar untuk melakukan pembayaran. Dengan katalain pencatatan baru akan dilakukan apabila adanya kas yang masuk dan kas yang keluar. Dengan demikian bisa kita katankan bahwa cash basis merupakan basis akuntansi yang melakukan pencatatan manakala cash yang diterima maupun cash yang dikeluarkan benar-benar terjadi baik untuk pendapatan maupun biaya.

Cash basis akan melakukan pencatatan dan pengakiuan pada saat kas atau uang telah benar-benar diterima. Sebagai contoh: kita menjual barang tetapi kita belum menerima pembayaran atas penjualan barang tersebut maka tidak dilakukan pencatatan. Pencatatan akan dilakukan pada saat kas diterima atas penjualan tersebut. hal ini berlaku untuk semua transaksi baik terkait dengan pendapatan maupun dengan biaya. Pada cash basis pendapatan diakui pada saat pembayaran sudah terima sehingga pada metode ini menjadi tidak penting kapan muculnya suatu hak untuk melakukan penagihan sehingga pada metode ini mucul juga metode penghapusan piutang secara langsung. Sedangan pada accrual basis adanya perkiraan piutang tak tertagih.

Baca Juga :   “Gerak Menggerakan, Hebat Menghebatkan” Geliat Literasi Bersama PPMN

Sedangkan pada biaya, pengakuannya dilakukan saat sudah dikeluarkan kas atau dengan katalain, biaya diakui pada saat pembayaran telah dilakukan. Biasanya yang menggunakan metode ini usaha-usaha  yang relative masih kecil seperti warung dan toko. Begitu juga dengan usaha jasa seperti praktek dokter. Kelemahan metode cash basis adalah catatan yang dilakukan tidak mencerminkan besarnya kas yang tersedia, perlakuan terhadap piutang yang tidak tertagih dengan cara dihapuskan langsung tidak membuat cadangan, pada cash basis karena pencatatan diakui pada saat adanya kas masuk dan kas keluar maka adanya kesulitan dalam menelusuri transaksi-transaksi yang pembayarannya tertunda.

Perbedaan antara pencatatan accrual basis dan cash basis antara lain, dari sisi pencatatan aliran kas masuk maupun aliran kas keluar. Terlihat sederhana akan tetapi perlu untuk difahami banyak terjadinya kesalahan  bahkan kesalahan tersebut memang dilakukan dengan sengaja (manipulasi) tentu saja dengan berbagai macam kepentingan yang tanpa disadari hal tersebut justru akan membuat suatu usaha menjadi bangkrut akibat dari terlalu banyak kesalahakn yang disengaja.

Dalam akuntansi Islam, metode accrual basis dan cash basis juga diakui sebagai pencatatan transaksi yang harus dilakukan. Karena kedua metode itu dapat digunakan untuk saling melengkapi. Akan tetapi kalau kita pelajari lebih dalam lagi, Islam cenderung mengacu pada metode accrual basis. Mengapa? dalam salah satu ayat di Al-Qur’an yakni Al-Baqarah ayat 282 : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu`amalahmu itu), kecuali jika mu`amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Kandungan ayat tersebut jelas menyebutkan bahwa setiap transaksi itu harus dilakukan suatu pencatatan. Pencatatan atas suatu  transaksi sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Pencatatan sangat diperlukan dalam sistem jual beli secara kredit (Utang Piutang). Jadi dapat disimpulkan bahwa perintah adanya suatu sistem pencatatan yang tujuan utamanya adalah suatu kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara pihak yang bertransaksi atau  muamalah.

Baca Juga :   LGBT Musuh Agama-Agama.

TINGGALKAN KOMENTAR

17 − 14 =