Jangan Menyalahgunakan Agama

Jangan Menyalahgunakan Agama

0
BAGIKAN

Oleh : Muhammad Zamachsyari Chawarazmi (Pres HMJ Tarjamah 2018-2019, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Banteninfo(Opini),- Tidak ada suatu hubungan yang logis antara agama dan tingkah laku seseorang. Orang yang beragamanya baik tidak otomatis memiliki tingkah laku yang baik pula, dan orang yang bertingkah laku baik juga belum tentu beragama. Banyak sekali contohnya. Tak perlu saya gambarkan, karena kalian pasti sudah banyak mendengar dan melihat itu.

Lantas apa guna beragama ? Ndak ada gunanya!

Tentu itu jawaban bagi orang-orang yang belum banyak memahami agama, (dan ini bukan berarti saya jauh lebih paham dari orang-orang itu, saya hanya ingin sedikit menggambarkan perihal ini lebih lanjut) ; kalau ndak ada gunanya, bagaimana mungkin ada agama yang bertahan ribuan tahun, bahkan masih eksis hingga saat ini?! “Lah iyo, itu karena agama jadi candu,” kata para pecandu Karl Marx! Lah, kalau agama menjadi candu, berarti ada gunanya tho. Untuk pengobatan atau pelarian, itu lain soal. Maka dari itu dikenal istilah penyalahgunaan, dan agama pun bisa jadi objek penyalahgunaan, kan?

Jadi, kembali ke pertanyaan awal; Untuk apa beragama? dan apa gunanya beragama?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari pertimbangkan lagi pondasi dan dasarnya: bahwa manusia dicipta oleh Tuhan dan pada saatnya nanti juga kembali kepada-Nya. Dari proses penciptaan sampai kembalinya kepada Sang Khaliq, manusia butuh sarana untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan. Apakah ciptaan di dunia ini yang memfasilitasi hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, yang notabenenya manusia sebagai hamba? Pasti bukan tingkah laku, karena tingkah laku hanyalah terkait hubungan horisontal: sesama manusia jangan mencuri, sesama manusia jangan berbohong, sesama manusia jangan saling menyakiti, dan jangan-jangan lainnya yang semua ini berada di wilayah horisontal.

Baca Juga :   Ejakulasi Politik dan Marketing Partai

Sekarang, mari perhatikan: jika Tuhan memang ada, berapa besar korupsi yang kita lakukan di Indonesia ini pun ndak ada pengaruh untuk Dia. Dia ya tetap Tuhan. Berapa juta nyawa yang terbunuh pun, Tuhan tidak mempersoalkannya karena itu salah satu bagian bisnis di dunia ini. Singkatnya, bagaimanapun tingkah laku kita di dunia ini, hanya akan berpengaruh pada misalnya pengadilan, penjara, balas dendam, keretakan hubungan, tetapi tak ada hubungannya dengan dunianya Tuhan!

Loh, tetapi mengapa bisa orang beragama hidupnya ndak karuan, ndak beretika?

Lah kok malah balik ditanya lagi, kan tadi sudah dijelaskan di muka, memang tak ada suatu hubungan yang logis antara agama dan tingkah laku. Yang ada hanyalah hubungan psikologis. Orang yang beragama, secara psikis ia terdorong untuk bertingkah laku yang baik. Kalau beragama tetapi ternyata tidak bertingkah laku baik, berarti secara psikologis orangnya bermasalah dan agama disalahgunakan untuk tujuan lainnya. Misalnya terorisme, korupsi dana naik haji dengan mudah karena posisi atau jabatan tinggi dalam lembaga yang berembel-embel agama.

Baca Juga :   Menjadi Masyarakat Cerdas Pada Pilpres 2019

Karena itu, kalau kita mau memilih agama tertentu supaya tingkah laku kita menjadi baik, lupakanlah! Agama tidak diciptakan untuk mengurusi tata ekonomi negara yang bebas korupsi atau tata hukum yang adil. Agama dibuat manusia pada mulanya untuk menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Selebihnya adalah bonus: perkembangan ilmu pengetahuan, pengakuan hak asasi manusia, keadilan hukum dan lainnya.

Jadi sebenarnya maksudnya sederhana, jangan meremehkan agama, justru karena agama sudah sering disalahgunakan dengan aneka ragam kekerasan yang ada, setiap orang mesti bertanya pada diri sendiri (bukan menghakimi orang lain) apakah agama yang dipeluknya itu menjadi sarana yang baik untuk menjumpai Tuhannya atau tidak? Kalau tidak, bukan berarti agamanya error, yang error itu orangnya! Dia yang memakainya salah kok malah menyalahkan agamanya, lebih parah lagi menyalahkan Tuhannya! Wong gendheng

Bisa jadi seseorang mengalami krisis dalam hidup beragamanya karena ia sendiri salah dalam menghayati agama, selalu melihatnya sebagai kewajiban dan dogma, tidak melihatnya sebagai sarana untuk kontak dengan Sang Agung yang hakiki. (RB)

TINGGALKAN KOMENTAR

16 − eleven =